Home Berita Terbaru DEWAN PERS BAGAIKAN PREDATOR PEMANGSA WARTAWAN YANG KRITIS

DEWAN PERS BAGAIKAN PREDATOR PEMANGSA WARTAWAN YANG KRITIS

14
0

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Dunia Jurnalis kembali berduka setelah sesaat perlakuan keji, diskriminatif dan tidak manusiawi kembali menimpa insan pers. Kali ini, nasib naas menimpa M. Yusuf, wartawan Sinar Pagi Baru yang tewas di dalam tahanan Polres Kota Baru, Kalimantan Selatan, saat  menjalani proses hukum atas dugaan pelanggaran UU ITE, Minggu, 10 Juni 2018.

Bermula dari pengaduan sebuah perusahaan perkebunan  sawit  PT MSAM milik Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam) yang menuduh M. Yusup telah melakukan pencemaran nama baik dan sebagainya. Atas meninggalnya M Yusuf, Forum Pers Independent Indoneasia (FPII) mengutuk keras kriminalisasi terhadap M Yusuf yang di dalam Penberitaan banyak media,M Yusuf dipidana akibat rekomendasi Dewan Pers.

“Miris tidak menutup kemungkinan, setelah ini ada ratusan Wartawan yang menunggu giliran, baik pembunuhan karakter maupun secara pisik,” Jelas Heryadi, Ketua Deputi Advokasi  Forum Pers Independen Indonesia (FPII ) dalam keerangan resminya kepada Wartawan di Jakarta, Selasa (12/6/2018).

Foto: Heryadi Ketua Deputy Advokasi FPII

Atas kejadian ini, menurut Heryadi, kematian M. Yusuf  bukanlah semata mata dukacita insan pers tapi juga menjadi keprihatinan rakyat Indonesia, mengingat Pers adalah pilar keempat dalam  sebuah negara demokrasi seperti Indonesia,Kehidupan dunia pers yang sejauh ini cenderung tidak mendapatkan perlindungan serius dari negara, disinyalir menjadi salah satu penyebab kembali Fterulangnya peristiwa seperti ini.

“Hampir semua kasus yang menimpa wartawan, dipaksa menjadi pihak yang bersalah dengan diterapkannya KUHP atau UU ITE, bukan UU No 40 tahun 1999 tentang Pers, Sementara Dewan Pers lebih memilih posisi aman dengan ikut menghabisi wartawan kritis dan membumihanguskan perusahaan Pers tanpa sedikitpun memberi perlindungan.”terangnya .

Sehingga, Menurut Heryadi,  Dewan pers yang dibentuk berdasarkan pasal 15 UU No 40 tahun 1999, sesungguhnya dimaksudkan untuk mengembangkan kemerdekaan pers, dan bukan sebaliknya, malah jadi badan pembungkam para insan pers.

“Rekomendasi Dewan Pers condong digunakan untuk mengkriminalisasikan wartawan yang kritis tanpa rasa bersalah, tanpa rasa  empat, bahkan merasa puas sebagai lembaga super power. Dewan Pers harus mempertanggungjawabkan semua pelanggaran konstitusi dan UU No 40 tahun 1999 yang telah memakan korban insan pers,” tegas Heryadi.

Oleh karena itu, FPII memandang kondisi saat adalah kondisi darurat dimana kemerdekaan pers dicengkeraman orang yang salah! Yaitu pengurus Dewan Pers yang tidak profesional dan dapat dianggap melanggar konstitusi.

“Oleh karena itu , FPII akan merangkul media yg tidak terverifikasi dan akan memberikan perlindungan hukum,” tandas Ketua Advokasi FPII.

Foto: Wakapolri Komjen Pol Syafruddin

Ditempat terpisah, Wakapolri Komjen Pol Syafruddin tidak setuju terhadap Polres Kotabaru, Kalimantan Selatan yang langsung menjerat M. Yusuf, wartawan media siber Kemajuan Rakyat dengan pasal 45 A UU 19/2016 tentang Perubahan Atas UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Nanti kita cek lagi, ya wartawan nggak boleh di anu (langsung pidana) janganlah,” kata Wakapolri saat meninjau arus mudik di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (11/6).

Lebih lanjut, Jenderal bintang tiga itu berjanji akan mengecek kembali peristiwa meninggalnya M.Yusuf itu. “Nanti kita cek, meninggalnya karena apa,” ujar Wakapolri.

Sebelumnya, M. Yusuf ditangkap karena pemberitaannya mengenai konflik antara warga dengan PT MSAM.

Ketika mengumumkan penetapan Yusuf sebagai tersangka, Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto mengatakan, polisi berwenang menangkap dan memproses pidana wartawan di luar mekanisme UU 40/1999 tentang Pers. Menurutnya, Dewan Pers merekomendasikan polisi menjerat M. Yusuf dengan UU ITE.

Suhasto mengklaim sudah lebih dahulu menyesuaikan Momerandum of Understanding (MoU) Dewan Pers dan melakukan koordinasi sebelum menjerat Yusuf dengan pasal ITE.

Reporter : Nurhadi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here