Saturday , 23 September 2017
Home » Artikel » Karena Pancasila, Kita Masih Kuat dan Bersatu

Karena Pancasila, Kita Masih Kuat dan Bersatu

Oleh:  Ahmad Robertus Rusmiarso, mahasiswa Fak. Hukum UTA’45 Jakarta

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Telah lama Pancasila tak terdengar, bahkan telah merubah wajah dan jati diri bangsa. Karena sudah terlupakan sehingga kita tidak tahu lagi arah hidup dan pegangan kebangsaan. Sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, akhir-akhir ini telah bergeser dari pandangan hidup bangsa, falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila. Sekilas dalam bidang IPOLEKSOSBUDHANKAM + IT dan Pendidikan (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan, Keamanan + Ilmu Teknologi dan pendidikan) terlihat gamang dan rapuh.

Dalam bidang Ideologi, Pancasila merupakan benteng terakhir bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), beberapa kali mengalami ujian diantaranya akan digantikan dengan ideologi komunis bahkan kapitalis dan liberalis juga. Bidang politik tidak lepas dari pengaruh asing, dimana istilah demokrasi dan HAM yang merupakan produknya yang terkadang dengan mengatasnamakan demokrasi dan HAM, kedaulatan sebagai bangsa tidak berjalan.

Perekonomian negara sebagian besar dikuasai pihak asing dengan perusahaan-perusahaan besarnya yang berada di republik ini, salah satunya PT. Freeport. Sehingga pemerintah harus mengelola sisanya yang terdapat di masyarakat dengan cara melakukan pengampunan pajak bagi para pengusaha, menaikan pajak kepada masyarakat (STNK-BPKB) dan mencabut subsidi listrik alias menaikan tarif dasar listrik. Kehidupan sosial masyarakat yang semakin individualistik, karena terdesak masalah ekonomi cenderung individual, mementingkan diri sendiri. Guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terkadang orang lebih banyak menggunakan ajaran setan; mencuri, menodong, menipu, merampok bahkan sampai membunuh dan itu sering kita melihat di televisi dan baca berita di koran maupun di internet. Belum lagi para koruptor itu yang lebih mementingkan dirinya walau harus mencuri uang rakyat lewat jabatan dan wewenang yang dipegangnya.

Seiring dengan era globalisasi, terutama dalam bidang kebudayaan sering terlihat gaya anak muda sekarang cenderung kebarat-baratan bahkan budaya K-Pop, Korea juga sedang di gandrungi. Dengan masuknya budaya asing yang menjadi gaya hidup (hedonis, hura-hura) sebagian generasi penerus bangsa ini, tidak menutup kemungkinan kebudayaan bangsa Indonesia yang terdiri dari kebudayaan lokal daerah yang ada di Indonesia akan hilang secara perlahan. Tarian-tarian tradisional daerah  yang menjadi kebanggaan dan ciri suatu daerah di Indonesia mulai sedikit digemari oleh pemuda dan pemudi di daerahnya. Ditambah lagi pengaruh narkoba yang kian marak menimpa kawula muda bahkan sampai tingkat aparatpun tidak ketinggalan terjerumus dalam pengguna dan pengedar narkotika.

Beberapa peristiwa kecelakaan jatuhnya helikopter TNI dan Polri juga menjadi bahan pemikiran kita bahwa alat utama sistem pertahanan yang dimiliki kurang, sehingga banyak prajurit kusuma bangsa yang gugur sia-sia. Tidak menutup kemungkinan pihak luar akan menganggap enteng terhadap pertahanan dan keamanan bangsa ini jika hal tersebut sering terjadi. Bendera asing yang sengaja dikibarkan diwilayah NKRI (bendera china), digerebeg dan tertangkapnya terduga teroris dibeberapa daerah di Indonesia serta pelecehan terhadap Pancasila yang di bilang Pancagila oleh negara Australia. Tidak menutup kemungkinan merupakan bentuk yang menganggap enteng pertahanan dan keamanan yang dimiliki oleh TNI-Polri.

Ilmu tekhnologi kita juga masih dibelakang bangsa asing, seperti contoh BBM, WA, facebook, google dibuat oleh orang luar negeri dan kita hanya sebagai penggunanya saja yang tidak menutup kemungkinan perangkat-perangkat tersebut merupakan alat spionase negara pembuat karena servernya kan berada di sana. Sebelum pemerintah mengeluarkan kartu sakti; Kartu Indonesia Pintar, Kartu Jaminan Kesehatan, PBJS, KJP dan lain sebagainya, terlepas suka atau tidak suka, dulu sedikit anak yang putus sekolah. Tapi kok sekarang malah sering terlihat anak usia sekolah yang tidak sekolah bahkan memilih bekerja membantu orang tuanya, karena faktor ekonomi keluarga.

Sekilas memandang sendi-sendi kehidupan di berbagai bidang dalam berbangsa dan bernegara yang terlihat gamang dan rapuh tersebut, kita sebagai anak bangsa Indonesia merasa bertanggungjawab akan kelangsungan bangsa ini ke depan.

Kegamangan dan kerapuhan tersebut akan terus terjadi jika tidak kita sudahi dan hilangkan, maka tidak menutup kemungkinan untuk tegaknya NKRI selanjutnya tidak dapat diharapkan jika tidak kita sudahi dari sekarang. Kesengsaraan generasi penerus bangsa, anak-anak dan cucu kita sudah dapat diprediksi akan terjadi dimasa yang akan datang jika hal tersebut diatas berlangsung terus.

Tapi karena Pancasila, kita masih kuat dan bersatu. Ideologi manapun tidak dapat menggantikan posisi Pancasila sebagai dasar negara jika kita kuat dan bersatu. Untuk melestarikan Pancasila perlu dioptimalkan kembali badan yang mengelola tentang Pancasila, agar generasi penerus bangsa dapat mempelajari dan memahami ideologi pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsanya.

Hilangkan rasa malas, berjiwa budak dan bebal, bangkit dan bersatulah untuk kembali ke Pancasila. Marilah kita wujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia sebagai jembatan emas menuju masyarakat adil, makmur dan beradab. Kuatkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang gamang dan rapuh ini. Singkirkan kepalsuan, kebencian dan korupsi lalu ciptakan rasa gotong royong dan persaudaraan sebangsa setanah air demi kemuliaan bangsa tercinta negara kita Indonesia! Sambut semangat baru saat ini, jangan ragu dan yakinlah INDONESIA AKAN KEMBALI JAYA!!!.

 

Check Also

Polres Kepulauan Seribu Gelar Pisah Sambut Kapolres Baru

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Polres Kepulauan Seribu pagi ini sekira jam 08.30 WIB menggelar acara lepas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *