Home Artikel Kiai Ma’ruf Amin Rois Aam PBNU Yang Tinggal Di Jakarta

Kiai Ma’ruf Amin Rois Aam PBNU Yang Tinggal Di Jakarta

50
0

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Kebiasan para santri Nahdlatul Ulama ketika datang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, sudah suatu keharusan atau wajib untuk bersilahturahmi atau sowan ke para Kiainya. Alhamdulilah tepat di hari Sabtu (23/6), Saya bersama kader muda NU Jakarta Utara diterima bersilahturahmi di kediaman Rois Aam PBNU KH. Mar’uf Amin yang terletak di lorong 27 Kelurahan Koja Kecamatan Koja Jakarta Utara.

Meski jadwal beliau padat dalam menerima tamu baik dari pejabat Pemerintah, TNI, Polri, Para Ulama, Kiai, Ust dan masyarakat. Beliau tetap memberikan waktu luang buat para kader Muda NU Jakarta Utara untuk bersowan kepadanya.

Sekitara pukul 08.30 waktu Indonesi Barat, Kami sampai di kediaman Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pusat. Jarak antara tempat aku tinggal dengan kediaman Kiai Mar’uf Amin ditempuh hanya 15 menit, dengan menggunakan kendaraan roda dua.

Tak selang berapa lama kami pun dipersilahkan masuk oleh ajudan beliau yang bernama Ust Mualim. “Mas Akmal silahkan masuk tamunya Kiai sudah kelar urusannya,” Ucap pria berusia 50 tahunan lebih.

Adab seorang santri bertemu Ulama besar sudah di pastikan harus bersikap sesuai pemahaman kitab taklim muntaalim. Dengan mengucapkan Assalamualikum, Kiai pun menjawab Walikumsalam.

Kamipun  tanpa diperintahkan  langsung cium tangan beliua dan duduk bersilah dibawah. Tetapi.oleh Kiai kami diperintahkan duduk  dikursi yang telah disediakan diruang tamu utamanya.

Dengan menggunakan kemeja Jasko bermutip abu abu, kopiah putih, dan sarung BHS warna cream, Kiai mempersilakan maksud dan tujuan kami kesini.

Mohon izin Kiai kami datang kesini, pertama hendak bersilahturahmi dalam rangka Hari Raya Idul Fitri. Kedua mengundang Kiai untuk menjadi pembicara dalam kegiatan Halal Bi Halal Warga Jakarta Utara pada tanggal 8 Juni 2018 yang bertempat di Jakarta Islamic Central ( JIC). Dan yang ketiga mohon petunjuk dan arahan Kiai Insya Allah Kami akan segera merenovasi Gedung PCNU Jakarta Utara, dan yang menjadi kendalanya soal status tanah dari pelindo yang belum jelas sampai saat ini.

Setelah mendengarkan maksud dan tujuan Kami bersilahturahmi atau sowan kepadanya. Dengan tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma’ruf Amin.

Sambil tersenyu manis dan sekali kali tangannya mengambil kue yang diletakan diatas meja bertaplakan warna putih, Beliau memberikan jawaban yang penuh kesan dan bermakna, terlebih lagi soal status tanah kantor PCNU Jakarta Utara,  Kalian jalan dulu saja tanya kepelindo, kalau ada masalah Insya Allah akan saya bantu tegas Kiai Mar’uf Amin.

Sosok, Kiai Ma’ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma’ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Namun, dalam konteks NU, tak seperti para Rais Aam PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma’ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.

Penting diketahui, Kiai Ma’ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin “serangan”. Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.

Bahkan dalam Jamiyatul Nahdlatul Ulama, Kiai Mar’uf Amin memulai dari ketua Ranting NU, MWC, PC, PW dan PBNU bukan tiba – tiba jadi Rois Aam semua melalui proses tahapan dari bawah. Begitu juga saat beliu aktif di Badan Otonom NU yang mulai ikut IPNU, GP Ansor jadi memang beliau NU tulen luar dalam baik dalam gerakan atau ucapannya.

Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat penulis, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma’ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.

Reporter: Akmal/Editor: Hisar 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here