Saturday , 23 September 2017
Home » Artikel » MADIN KECILKU

MADIN KECILKU

TULUNGAGUNG, MEDIATRANSPARANCY.COM- Penolakannya terhadap program full day school (FDS). Pelaksanaan FDS oleh Kemendikbud dinilai mengabaikan jasa peran ulama yang mendirikan bangsa Indonesia.

Bahkam aksi penolakan FDS, oleh santri Madrasah Diniyah ( Madin ) diseluruh pelosok Nusantara. Sebab keberadaan FDS membuat Madin akan mati suri.
Maka dari itu kembalikan masing-masing untuk bebas milih, sehingga madrasah jadi solusi.
Di kota besar karena madrasah tergusur, maka terjadi perkelahian pelajar.

Pendidikan karakter di kota besar tidak berjalan baik. Imbas dari itu, di kota, tawuran antar pelajar kerap terjadi. Hal demikian beda dengan wilayah yang mempunyai madrasah (Madin).

Selain itu, pendidikan karakter tidak mungkin hanya diserahkan kepada pihak sekolah. Pendidikan moral, agama, harus tetap dilakukan oleh madrasah dengan para tokoh agama sebagai pendidiknya.

*Hidayatur Rohman*

Seandainya program FDS, diberlakukan makanya imbasnya kepada para pengurus dan pengelola Madin hanya mengadanlakn santrinya dari wilayah tersebut.

Dari sekian ribu atau jutaan Madin yang tersebar di Indonesia, ada sebuah Madrasah Diniyah Hidayatur Rohman yang beralamat di Rt 02 Rw 06 Dusun Baran, Desa Banyu Urip, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung, Jawa Timur.

Madin yang di dirikan pada tahun 2005, yang awal hanya berjumlah 20 santri , saat ini sudah berjumlah ratusan yang rata rata bertempat tinggal diwilayah Baran dan sekitarnya. Alhamdulilah para Ust atau guru sebanyak 18 orang , tetap solid dan semangat meski honor seadanya. Tenaga pengajar yang merupakan alumni dari PP. Qomarul Hidayah, PP Ngunut dan PP Kediri.

Menurut keterangan KH. Imam Syafei Sidiq saat ini, proses belajar mengajarnya para santri Madrasah Hidayatur Rohman hanya menggunakan serambi Masjid Baitu Rohman yang dibangun pada tahun 1957 oleh Almarhum abahe KH.Ahmad Sidiq bin Ponco Nadi.

” Yang menjadi kendala, mengenai sarana dan prasarana belajar yang belum maksimal. Kalau ada ruangan kelas kan lebih baik lagi proses belajar mengajarnya.” ucap alumni pondok diwilayah kediri.

Dengan kegiatan belajar yang seadanya tak menjadikan para Ust dan Santrinya berkecil hati bahkan menjadi tantangan bagi mereka semua untuk memberikan dan mendidik para santri menjadi penerus agama dan bangsa.

Madrasah Hidayatur Rohman dikepalai, Bibit Muawanah putri pertamanya yang sedang menempuh program pendidikan pasca sarjana.

Wanita yang sehari hari mengajar di Sekolah Dasar Negeri Banyuurip diberikan kepercayaan untuk menjalankan roda pendidikan Madin.

Sudah seharus pemerintah pusat dan kota untuk bisa mengarahkan ke madrasah, karena di sana ada hubungan informal, budaya, mengajarkan karakter, akhlak. Madrasah membangun kultur.

“saya berharap pemerintah kabupaten, atau kandepag Tulungagung, untuk bisa sinergi dalam memperjuangakan, mempertahakan dan membantu keberadaan para Madin.”tegas Alumni PP. Qomarul Hidayah Trenggalek.

Madrasah sendiri merupakan lembaga pendidikan non formal warisan para tokoh bangsa. Para ulama dan masyarakat bersatu membentuk lembaga pendidikan untuk mengajarkan pendidikan agama dan karakter kepada warganya.

“Mesakne nasib madin sekarang ini,tanpa ada program FDS, sudah banyak yang gulung tikar apalagi diterapkan” Ucap Pengurus Fatayat PC. Tulungagung.

Dia berharap keberadaan Madin terus di tingkatkan baik sarana dan prasarana yang lain terlebih lagi honor atau intensif buat pengajar.

Karena Madrasah Diniyah (Madin) menjadi benteng terakhir untuk mencegah paham paham radikalisme , atau paham yang tak suka dengan Aswaja.

Akmal

Check Also

Polres Kepulauan Seribu Gelar Pisah Sambut Kapolres Baru

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Polres Kepulauan Seribu pagi ini sekira jam 08.30 WIB menggelar acara lepas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *