Saturday , 25 November 2017
Home » Artikel » Madrasahku, Pengabdianku

Madrasahku, Pengabdianku

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Bicara pendidikan yang akan menerapkan pembaruan sistem pembelajaran pada tahun ajaran baru pada 2017/2018 mendatang. Pembaruan itu di antaranya adalah 8 jam di sekolah dengan penguatan pendidikan karakter.

Selain itu, pada Sabtu tidak ada kegiatan belajar mengajar melainkan ekstrakulikuler atau dengan kata lain Full Day School ( FDS ) yang alhamdulilah masalah ini sudah tuntas dengan dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung kebijakan pemerintah soal ditandatanganinya Perpres penguatan pendidikan karakter (PPK) oleh presiden. PBNU menilai kebijakan ini telah mengakhiri kontroversi tentang pelaksanaan full day school.

Madrasah Hidayatul Mubtadiin

Seandainya kebijakan Full Day School ( FDS ) di laksanakan maka yang akan berdampak dari sistem itu keberadan para Madrasah Diniyah atau sekolah sore ngaji.

Dari sekian Ribu bahkan Jutaan Madin yang berada di Nusantara salah satunya adalah Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang beralamat di RT 22 RW 11 Desa Sukorejo, Gandusari Trenggalek.Jawa Timur yang akan terkena dampak dari FDS bila diberlakukan sistem tersebut.

” lah piye loh mas, kalau program FDS, dilakukan saat ini, nasib Madin mau dadi opo ” tegas salah satu pengajar Madrasah.

Sedikit saya ceritakan soal Desa Sukorejo Kecamatan Gandusari merupakan suatu desa yang berada diwilayah Kabuapeten Trenggalek Jawa Timur. Yang mana rata rata penduduknya, pembuat genteng, bercocok tanam ( petani) , wirasawasta, dan lain sebagainya.

Bicara Desa Sukorejo, tak lepas dari sebuah Madarasah Ibtidaiyah ( MI ) Hidayatul Mubtadiin yang beralamat RT. 22/ RW. 11, Gandusari, Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur 66372, Indonesia.

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatul Mubtadiin saat ini memiliki 6 kelas dengan jumlah sisiwa dan siswi sebanyak 126 Murid. Dan proses belajar dan mengajarnya dimulai pukul 07.00 Wib s/d pukul 12.30 WIb.
Pola pengajar yang diterapkan disana berbasis kompetensi yang menerapakan pola pengajar yang sesuai atuaran Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Saat ini tenaga Guru didiknya rata – rata SI dan S2 yang lulusan Kampus negeri atau Swasta.

Sedangkan untuk Esktra Kulikuler seperti, Pramuka, Drumband, Hadrah, Qiroat. Kebiasaan yang sudah turun temurun sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai tadarrus Al Qur’an, Sholat duha, tahfidz, dan Amaliah NU yang dilaksanakan pada waktu hari Jum’at.

Sementara Madrasah Diniyah (Madin ) memiliki 255 santri putra dan putra yang proses belajar mengajarnya dimulai pukul 14.30 Wib hingga pukul 16.30 WIb.

Dengan 22 Ust selaku pengajar Madin Hidayatul Mubtadiin, yang mana para pengajar ini, merupakan lulusan dari alumni pesantren seperti, PP Al – Ishlahiyyah Mojo , PP Qomarul Hidayah , PP Lirboyo, PP Ploso dan lain sebagainya.

Alhamdulilah keberadaan Madrasah Hidayatul Mubtadiin yang dibangun oleh KH Romlan Ahmad pada tahun 1964. Melihat sejarah pembangunan Madrasah yang awalnya hanya sebuah Mushollah atau suro kecil.

Lambat laun sudah berubah besar dan bagus, bukan itu saja sebagian alumninya pun sudah mempu berkiprah dimasyarakat, sosial, politik dan budaya. Pasca KH Romlan Ahmad Wafat tampuk kepengurusan Madrasahnya diserahkan oleh putra dan putrinya yang berjumlah 4 laki dan 2 wanita.

Saat ini proses kegiatan belajar mengajar diserahkan oleh salah satu putrinya yang bernama arifah alumni PP Al – Ishlahiyyah Mojo, Kediri dan
PP Qomarul Hidayah Gondang, Tugu, Trenggalek.

Jarak antara lokasi Madarasah Hidayul Mubtadiin dengan pusat Kota Trenggalek sekitar 30 menit menggunakan kendaraan sepeda motor. Sudah banyak keberhasilan yang dicapai oleh para siswa dan santri demi mengharumkan nama madrasah atau sekolahnya.
Seperti juara tingkat Kecamatan, kabupaten, Propinsi dan Nasional

*Dikelolah oleh putra dan putrinya*

Setelah peninggalan Almarhum KH. Romlan Ahmad. kepengurusan Madrasah Hidayatul Mubtadiin dikelolah oleh anak – anaknya yang bernama Arfiati, Tohar Musthofa, Ikhsan musyafa’. Kholidussyukri yang sehari hari menjadi pengajar di MI Hidayatul Mubtadiin.

Pasangan KH.Romlan Ahmad dan Bu Nyai Ummu Kulsum dikarunikan Enam anak yang semuanya mengeyem pendidikan pondok pesantren di wilayah Jawa Timur.
Kebetulan Almarhum Kyai Romlan Ahmad adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Menurut keterangan dari putranya Kyai Romlan yang bernama Ihsan Musyafa lulusan UIN sunan Kalijaga Yogyakarta, bahwa awal para santri yang belajar pada saat dipimpin oleh abahe, ada sekitar ratusan yang belajar ngaji disana.

” Alhamdulilah berkat komunikasi yang dibangun antara sesama saudaranya , keberadaan Madrasah ini semakin besar dan bisa bersaing dengan sekolah atau MI yang lainya” ucapnya

Hari berganti hari, bulan berganti bulan , saya pun selaku putri beliau yang diamanatkan untuk membangun dan mengembangkan peninggalan Abahnya.

Hal yang sama pun disampaikan oleh putrinya Arfiati Ia bersama saudaranya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pengajaran serta honor yang layak kepada para pengajar. Terkadang kami, sedikit galau ketika awal bulan .

“Bagiamana tak pusing mas, ketika pembayaran honor para guru dan ust dananya belum ada piye toh” tutul alumni MA Qomarul Hidayah.

Semoga kami putra dan putrinya bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat Desa Sukorejo dalam membangun dan mendidik anak anak mereka agar mengerti dan paham soal dasar dasar agama Islam.

( Akmal )

Check Also

PANGLIMA TNI: SAMPAI KAPANPUN TNI TIDAK PERNAH MELUPAKAN PARA PEJUANG DAN SENIOR

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – “Kami ingin jiwa dan semangat luhur yang melekat pada TNI dapat terus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *