banner 728x250

Ahli Forensik Digital Tidak Relevan Memberikan Keterangan Dalam Perkara Laporan Palsu

  • Share

TRANSPARANCY– Keterangan Ahli Forensik Digital, Paulina Siburian, yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum Sigit, dalam perkara dugaan laporan palsu melibatkan terdakwa Arwan Koty, dinilai tidak ada relevansinya.

Keterangan ahli yang juga ada dalam Berita Acara Penyidikan (BAP) dalam perkara yang konon katanya telah mengakibatkan kerugian korban Bambang Prijono Susanto Putro, ternyata, keterangan ahli tersebut tidak ada hubungannya dalam perkara dakwaan Arwan Koty. Hal itu dikatakan penasehat hukum terdakwa dari Law Office Aristoteles MJ Siahaan SH dan Advokat Yayat Surya Purnadi, diwakili Nurwandi SH, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 21/4/2021.

judul gambar

Menurut penasehat hukum, ahli dihadirkan jaksa untuk memberikan keterangan terkait pembicaraan pembelian Excavator dari PT. Indotruck Utama yang diwakili Susilo. Melalui WhasApp Susilo dengan nomor pengguna Chat Fini Fong/Arwan Koty, tidak ada pembicaraan penyerahan alat berat Excavator yang dibeli lunas Arwan Koty.

Ahli diminta penyidik untuk memeriksa percakapan chant HP Akun Susilo dengan nomor yang memiliki nama contack Fini Fong/Arwan Koty. Ahli mengatakan, tidak menemukan adanya riwayat penghapusan untuk menghilangkan chatingan antara Susilo dengan pengguna contac bernama Fini Fong/Arwan Koty.

keterangan saksi ahli dalam sidang perkara dugaan laporan dinilai tidak relevan

Ahli juga mengatakan pihaknya tidak mau berbicara tentang isi konten yang ada dalam percakapan yang ada di nomor HP tersebut. Apapun yang tertulis disitu bukan urusan saya namun saya hanya menyalin chat tersebut dari HP ke kertas”, ucapnya di hadapan majelis hakim pimpinan Alandri Triyogo didampingi hakim anggota Toto dan Ahmad Sayuti, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 21/4/2021.

Menyikapi keterangan ahli, penasehat hukum terdakwa mengatakan, sebenarnya tidak ada relevansinya ahli memberikan keterangan nya dalam persidangan sebab, ahli tidak bisa memastikan bahwa pembicaraan melalui WhasApp HP pengguna Susilo dengan nomor HP yang diberikan penyidik.

Pembicaraan dalam HP merk Oppo milik saksi Susilo dari PT. Indotruck Utama dan dengan nomor telepon yang identik dengan nomor penggunanya Fini Fong/Arwan Koty tidak bersesuaian, karena percakapan dalam HP barang bukti milik Susilo dengan nomor contac pengguna Fini Fong, bukanlah nomor HP terdakwa Arwan Koty, sehingga apapun yang disampaikan ahli tidak ada kaitannya dengan perkara laporan palsu yang didakwakan kepada Arwan Koty, ini keterangan ahli yang error in person”, kata Aristoteles.

Aristoteles dan Nurwandi menambahkan, kejanggalan lain atas keterangan ahli yaitu, ahli mengaku pihaknya menelaah hasil pembicaraan WhasApp Susilo dengan no contac nama pengguna Fini Fong/Arwan Koty, itu berdasarkan ketentuan yang diberikan penyidik baik dari tanggal hari yang harus diperiksa dan ditelaah ahli sudah diatur penyidik.

Bukan telaah yang dilakukan ahli secara acak, sebab sebelum nomor tersebut di periksa ahli, penyidik sudah menyediakan petunjuk yang akan di telaah ahli. HP diserahkan penyidik ke ahli untuk di periksa dan diteliti, itupun menggunakan alat yang disediakan penyidik Mabes Polri, sehingga pemeriksaan atau telaah percakapan chat antara no HP Susilo dan no contac yang tercatat Fini Fong itu tidak bisa dijadikan penyidik jadi alat bukti dalam perkara laporan palsu perkara ini”, ucap Aristoteles.

Ditambahkan, mengapa penyidik hanya memeriksa percakapan chat Susilo daari PT IU, mengapa tidak menyita HP terdakwa sebab dakwaan ditujukan kepada Arwan Koty, mengapa HP nya tidak diperiksa ahli biar jelas apa sebenarnya percakapan terkait jual beli alat berat Excavator yang dibayar lunas tersebut. Ini menandakan penyidikan berkas perkara ini hanya rekayasa tanpa barang bukti. Dimana alat bukti perkara laporan palsu ini ada tiga yakni, keterangan saksi, keterangan ahli dan surat penghentian penyelidikan laporan Arwan Koty, kata Aristoteles MJ Siahaan SH.

Sementara dibalik semua pemeriksaan HP tersebut, ahli tidak memiliki kewenangan memberikan keterangan tentang konten atau isi pembicaraan yang ada di WhasApp HP saksi Susilo yang sudah diteliti ahli. ” Saksi tidak memiliki kewenangan untuk menjawab isi atau konten Susilo dengan no HP yang diberikan penyidik, sebab ahli akan kena Undang Undang ITE jika menyampaikan isi konten tersebut, kata ahli.

Ahli pada wartawan terkesan menghindar memberikan keterangan, ahli hanya mengatakan, pihaknya tidak bisa menerangkan apa yang ada dalam konten percakapan chat antara Susilo dengan chat nomor contac nama pengguna Fini Fong. Saat ditanya, apakan ada dalam catatan yang ahli buka dari HP Susilo dan HP Fini Fong, ada pembicaraan barang Excavator sudah diserahkan PT. IU ke terdakwa Arwan Koty. Ahli menyampaikan bukan wewenang saya menyampaikan isi konten WhasApp tersebut”, ujarnya.

Dihadapan majelis hakim terdakwa Arwan Koty membantah percakapan chat antara Susilo dan Arwan Koty, sebab HP yang ditunjukkan ahli bukan nomor HP Arwan Koty. Arwan Koty juga menanyakan ahli, apakah ada kaitan chat itu dengan perkara laporan palsu yang menimpa saya, kata ahli tidak ada kaitannya, sebab saya hanya memeriksa isi percakapan chat kedua nomor itu kata Paulina Siburian.

Menurut penasehat hukum, terjadinya perkara yang dituduhkan kepada Arwan Koty, berawal dari pembelian Excavator dari PT. IU dengan pembayaran lunas dari Arwan Koty. Sesuai perjanjian penjual harus menyerahkan Excavator tersebut ke pembeli dengan membuat berita acara serah terima barang.

Namun sampai saat ini isi perjanjian tidak ditepati penjual dan barang Excavator belum diterima pembeli Aran Koty. Karena barang belum diserahkan penjual, maka Arwan Koty mensomasi penjual namun tidak ada tanggapan, lalu dilaporkan ke Polda Metro Jaya tahun 2018 lalu, dugaan penggelapan dan penipuan dengan terlapor Bambang Prijono.

Anehnya laporan Arwan Koty di hentikaan dalam tahap Penyelidikan, dan berkas penghentian itu dijadikan alat bukti oleh Bambang Prijono, melaporkan balik Arwan Koty di Mabes Polri, hingga duduk di kursi pesakitan saat ini dalam proses pemeriksaan saksi saksi dan ahli, kata Aristoteles dan Nurwandi.

Sementara saat ini, laporan Arwan Koty yang dihentikan tersebut masih bisa di buka kembali penyelidikannya dan penyidikannya sebagaimana rekomendasi Karowassidik Mabes Polri. Dan Presdir PT Indotruck Utama telah dilaporkan balik oleh Arwan Koty dengan ancaman pasal laporan palsu. ” Saat ini masih menunggu pemeriksaan yang jelas sudah diterima Sentra Pelayanan ( SPK) di Polda Metro Jaya, kata Aristoteles.

Seharusnya persidangan yang digelar 21/4/2021, untuk memeriksa Presdir PT Indotruck Utama Bambang Prijono Susanto Putro, sebagai korban laporan Arwan Koty. Namun Bambang tidak hadir dengan alasan surat sakit. Walau demikian menurut Jaksa Sigit akan dipanggil trus menggunakan surat panggilan”, kata jaksa Sigit.

Penulis : P. Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *