banner 728x250

Berikan Keterangan Bohong Dalam Persidangan Priyonggo Dari PT. Indotruck Utama Bakal Di Polisikan

  • Share

Jakarta, mediatransparancy.comPriyonggo karyawan penerima kuasa dari PT. Indotruck Utama, yang berkedudukan di Marunda, Cilincing Jakarta Utara, bakal di laporkan ke penyidik Bareskrim Polri, oleh Arwan Koty.

Pasalnya, Priyonggo dinilai telah memberikan keterangan bohong atau palsu dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Saat diperiksa sebagai saksi dalam berkas perkara laporan palsu dengan terdakwa Arwan Koty, warga Jakarta Pusat.

judul gambar

Keterangan palsu saksi Priyonggo yang dimaksud Arwan Koty adalah, Dua laporan polisi Arwan Koty telah dihentikan penyidik dalam tahap penyelidikan. Sementara dalam keterangannya di Berita Acara Penyidikan (BAP) adalah laporan Arwan Koty dihentikan dalam tahap penyidikan, dan dua unit Excavator telah di serahkan, di mana Arwan Koty diduga telah membuat surat palsu atau pengaduan palsu,  sedangkan dalam laporan polisi LP/B/3082/V/2019/PMJ/Dit. Reskrimum, tanggal 16 Mei 2019 yang dilaporkan Arwan Koty hanya satu unit type EC 210D dan hingga saat ini belum menerima barang Excavator yang di beli.

PT. Indotruck Utama harus lah cermat dalam pembelian Excavator type EC 350D adalah Alfin dimana ada bukti pembayaran melalui transfer, lunas secara bertahap dan PJB nya hingga saat ini pun tidak ada yang dibatalkan, ujar Arwan Koty.

Menurut Arwan Koty, pihaknya  melaporkan pihak PT Indotruck Utama (penjual) dengan Laporan Polisi Nomor LP/3082/V/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 16 Mei 2019 yang dihentikan pada tahap Penyelidikan. Dimana laporan tersebut karena barang yang di beli pelapor dengan lunas tidak diserahkan penjual, sebagaimana tertuang dalam perjanjian antara pembeli dengan penjual dan penandatanganan BAST barang oleh Para Pihak dan tempat penyerahan alat adalah di Yard PT Indotruck Utama.

Dalam benak Arwan Koty dirinya yang telah rugi milliaran rupiah itu, berharap laporan dugaan penggelapan dan penipuan yang ditengarai dilakukan pihak Indotruck Utama salah satunya Priyonggo, dan Arwan pun berharap akan mendapatkan perlindungan hukum dari penyelidik Polda Metro Jaya. Namun apa yang terjadi, pada kenyataannya penyelidik Polda Metro Jaya malah menghentikan penyelidikan laporan Arwan Koty dengan sepihak karena sebelumnya ada janji dari penyelidik akan dijadwalkan ulang terkait keterangan tambahan dan penambahan bukti,  ujar nya pada wartawan.

Sidang dugaan upaya kriminalisasi terhadap Arwan Koty di pengadilan negeri jakarta selatan

Akan tetapi dibalik penghentian penyelidikan tersebut, pihak PT. Indotruck Utama, melaporkan balik Arwan Koty, di Mabes Polri dengan tuduhan membuat laporan palsu, LP/B/0023/I/2020/Bareskrim, tanggal 13 Januari 2020 dengan pasal 263 dan pasal 220.  Akhirnya dalam tahap tersangka hanya ada pasal 220 dan dinyatakan telah P21, tapi muncul lagi pasal 317 dalam tahap 2 untuk penyerahan berkas dan tersangka dan Arwan Koty tidak pernah diperiksa terkait pasal 317 di kepolisian ataupun di kejaksaan. Bahkan Arwan Koty jadi terdakwa yang saat ini disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan agenda pemeriksaan saksi saksi.

Atas keterangan para saksi yang terungkap dalam persidangan, bahwa Priyonggo tidak tahu jelas terkait jabatan Bambang Prijono selaku Dirut atau Presdir di PT Indotruck Utama. Priyonggo mengaku dalam persidangan belum dijadikan tersangka dalam laporan polisi LP/B/3082/V/2019/PMJ/Dit. Reskrimum, tanggal 16 Mei 2019, yang dilaporkan Arwan Koty. Bahkan pengakuan Priyonggo, bahwa terkait penyerahan barang Excavator yang dibeli Arwan Koty berdasarkan penunjukan langsung secara lisan dari Arwan Koty sebagaimana berdasarkan bukti berupa surat penawaran dari PT. Tunas Utama Sejahtera, Surat Tugas Bayu dari PT. Tunas Utama Sejahtera dan keterangan secara lisan oleh Susilo selaku General Manajer di PT Indotruck Utama.

Demikian juga dengan keterangan dari Susilo bukti penyerahan barang dari PT Indotruck Utama atas 2 unit alat excavator milik Arwan Koty dan Alfin, menurut SOP PT. Indotruck Utama karena pembelian tunai cukup surat jalan (SJU) dan Surat tugas kepada Bayu Triwidodo karyawan PT JPT. Tunas Utama Sejahtera dan surat pernyataan diri dari Soleh Nurcahyo, selaku kepala cabang PT. JPT. Tunas Utama Sejahtera di Jakarta.

Arwan menambahkan, jelas jelas  ada Perjanjian Jual Beli (PJB) antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama dan invoice lunas, ada lagi PJB antara Alfin dengan PT Indotruck Utama dan bukti transfer Bank BCA dari rek Alfin ke rek PT Indotruck Utama sesuai harga Excavator type EC 350D sebesar Rp. 2.960.000.000, dan telah dibayar lunas juga.

Anehnya, SOP PT Indotruck Utama hanya pakai SJU karena pembelian tunai, sedangkan kesepakatannya dalam PJB adalah penyerahan barang di Yard PT. Indotruck Utama dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) barang oleh Para Pihak. SOP itu seharusnya milik perusahaan, sedangkan PJB milik penjual dan pembeli karena terdapat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang telah di sepakati dan ditandatangani Para Pihak. Namun dalam persidangan Ketua Hakim pimpinan Aldarin, seolah olah berpihak kepada saksi dengan membenarkan keterangan saksi Priyonggo, itu adalah SOP perusahaan.

Lebih aneh lagi, terungkap juga dalam persidangan, terdapat dua surat bukti berupa surat pernyataan yang dibuat atas nama Soleh Nurtjahyo tapi di tandatangani oleh Agung Prabowo sebagai staf gudang di PT Indotruck Utama, serta Satu lagi surat tugas Bayu yang di terbitkan Soleh Nurtjahyo dengan kop surat PT. Tunas Utama Sejahtera terdapat dua surat tugas yang berbeda dan bertentangan. Dimana surat tersebut, satu sebagai bukti di BPSK pada tahun 2019 tidak dicantumkan milik Arwan Koty/Finny Fong, sedangkan satu lagi sebagai bukti di Bareskrim pada tahun 2020 ada dicantumkan milik Arwan Koty/Finny Fong. Di surat tugas juga tertera lokasi pengambilan alat: PT. KAYPI TRANSMALINDO, langsung di bawa ke Inggom tg priok tujuan Nabire sedangkan kesepakatan dalam PJB adalah di yard PT Indotruck Utama dan di SJU alamat pengiriman adalah yard PT Indotruck Utama.
Kata Arwan Koty, pertanyaan dalam benak saya, pihak manakah yang telah merekayasa surat tugas tersebut. Tapi fakta dan nyata dua pucuk surat itu dilampirkan sebagai bukti di BPSK pada tahun 2019 dan bukti di Bareskrim pada tahun 2020 oleh PT Indotruck Utama. Sementara surat pernyataan atas nama Soleh Nurtjahyo tapi yang TTD adalah Agung Prabowo, bukti ini yang dijadikan PT Indotruck Utama bahwasanya telah di serahkan barangnya kepada Arwan Koty. Apakah penyidik kurang cermat melihat bukti bukti yang diserahkan Pelapor. Apakah penyidik kurang cermat bahwa tidak ada surat perjanjian/surat kuasa dari Arwan Koty kepada pihak manapun terkait pengambilan alat, kata Arwan Koty

Lebih aneh lagi, kenapa Arwan Koty bisa naik sebagai tersangka dalam laporan polisi LP/B/0023/I/2020/Bareskrim, tanggal 13 Januari 2020 dengan pasal 220 dan/atau pasal 317 dan saat ini sebagai terdakwa yang sedang disidangkan di PN Selatan. Sedangkan bukti bukti dari pelapor yang terdapat di persidangan diduga hasil rekayasa. Menurut Arwan “apakah yang dialaminya saat ini hukum tumpul ke atas tajam ke bawah”, ujarnya dengan sedih.

Sementara Priyonggo dan karyawan lainnya yang sudah bersaksi dalam persidangan di pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu, hingga berita ini diturunkan belum dapat dimintai keterangan terkait pembelian Excavator yang dibeli Arwan Koty.

Terkait permasalahan tersebut Arwan Koty pun menggugat PT. Indotruck Utama, gugatan wanprestasi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara no perkara 181/Pdt.G/ 2020/PN Utr. Majelis hakim perdata memutuskan eksepsi dari tergugat PT. Indotruck Utama ditolak seluruhnya dan tergugat divonis membayar uang pembelian Excavator yang sudah dilunasi Penggugat.  Tergugat dihukum membayar 6 persen dari nilai kerugian penggugat sejak perkara tersebut didaftarkan di Pengadilan.

Penulis : P. Sianturi
judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *