Home Berita Terbaru BPOM RI dan SFDA Perkuat Kerjasama di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan

BPOM RI dan SFDA Perkuat Kerjasama di Bidang Pengawasan Obat dan Makanan

50
0

RIYADH, MEDIA TRANSPARANCY – Dua pimpinan tertinggi lembaga pengawas obat dan makanan di Arab Saudi dan Indonesia yaitu BPOM dan SFDA melakukan pertemuan bilateral, Senin (30/9/2019), di Riyadh dalam rangka kerjasama strategis di bidang regulatori obat dan makanan.

Pertemuan itu dilatarbelakangi oleh 5 alasan kuat. Pertama, Arab Saudi dan Indonesia adalah negara muslim. Kedua, Arab Saudi dan Indonesia mempunyai hubungan yang erat. Ketiga, Arab Saudi dan Indonesia merupakan negara anggota G20. Keempat, pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi dan Indonesia dilaksanakan oleh satu lembaga independen.

Terakhir, kedua lembaga pengawas obat dan makanan, Saudi Food and Drug Administration (SFDA) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mempunyai kekuatan spesifik di bidangnya dan unggul di regional masing-masing, sehingga dapat saling mengisi dan memberi dalam kepentingan yang mutual.

Pertemuan bilateral kedua lembaga pengawas obat dan makanan tersebut dilakukan usai acara pembukaan SFDA Annual Conference & Exhibition 2019 di Riyadh International Convention and Exhibition Center dimana Kepala Badan POM RI hadir sebagai tamu kehormatan.

Kepala Badan POM RI, Penny K Lukito menyampaikan, pertemuan Kepala Badan Pengawas Obat Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atau The First Meeting of the Heads of National Medicine Regulatory Authorities (NMRAs) from Organization Islamic Cooperation (OIC) Member States yang diselenggarakan di Jakarta tahun lalu, berjalan dengan sukses karena mendapat respon antusiasme dari 30 negara anggota OKI yang hadir.

Untuk itu, Badan POM melakukan langkah-langkah konkret terkait implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi hasil pertemuan tersebut. Badan POM dan SFDA sepakat untuk mendukung kesinambungan forum penting ini sehingga dapat mewujudkan tujuan kemandirian suplai obat dan vaksin serta peningkatan akses dan ketersediaan obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, berkualitas, dan terjangkau bagi masyarakat di negara anggota OKI.

Selain berdiskusi mengenai tindak lanjut hasil pertemuan pertama otoritas obat negara anggota OKI, SFDA dan Badan POM juga bertukar informasi mengenai sistem pengawasan obat dan makanan di Arab Saudi dan Indonesia.

“Di bidang pangan, setidaknya ada empat isu strategis yang menjadi bahan diskusi, antara lain Sertifikasi Halal produk pangan, kolaborasi dan kerja sama Risk Assessment in Food, Kebijakan Sistem Pengawasan Keamanan Pangan, dan Program Healthy Food antara lain pengaturan label gizi termasuk gula, garam, lemak, dan transfat, yang terkait dengan penyakit tidak menular. Badan POM mengajak SFDA untuk menguatkan komitmen kerja sama yang sudah berjalan, termasuk untuk mendorong perdagangan kedua negara,” ujar Penny.

SFDA secara khusus menyampaikan apresiasi dan keinginannya untuk belajar dari Badan POM yang telah memenuhi standar internasional bidang obat, dimana dari hasil penilaian WHO Benchmarking, Badan POM RI telah memperoleh tingkat maturitas yang tinggi (maturity level 3 dan 4) dalam melaksanakan fungsi regulatori vaksin. Dengan pengawalan Badan POM, beberapa Industri Farmasi Indonesia mendapatkan status Pre-Qualification WHO (PQ-WHO) untuk produk obat dan vaksin sehingga lebih mudah menembus pasar global.

Selain itu pencapaian Badan POM menjadi anggota Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PIC/s) sejak tahun 2012 juga diapresiasi oleh CEO SFDA. Hal ini menjadi salah satu poin penting kerja sama pendampingan Badan POM dalam upaya SFDA bergabung dalam PIC/s.

Sementara itu, CEO of SFDA, H.E Prof. Hisham bin Saad Al-Jadhey sangat berterima kasih dengan diselenggarakannya pertemuan bilateral ini.

“Kami sangat menghargai Badan POM yang mau berbagi informasi dan pengalaman tentang sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Pandangan kami tentang Indonesia dan Badan POM kini berubah. Begitu banyak pencapaian yang telah diraih Badan POM sehingga kami perlu banyak belajar dari Badan POM, baik secara substansi teknis maupun pengembangan organisasi,” pungkasnya.

 

Penulis: Ine
alterntif text

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here