Home INSPIRASI DARI CATATAN BIOGRAFI MBAH PAIMAN HADI SUPATMO KORBAN PELANGGARAN HAM YANG PUNYA...

DARI CATATAN BIOGRAFI MBAH PAIMAN HADI SUPATMO KORBAN PELANGGARAN HAM YANG PUNYA BANYAK PRESTASI

747
1
Paiman Hadi Supatmo bersama Ketua Umum DPP LEADHAM YUSUF L TOBING dan Ketua DPW Jawa Tengah Ir. RISMA SIHOTANG
Paiman Hadi Supatmo bersama Ketua Umum DPP LEADHAM YUSUF L TOBING dan Ketua DPW Jawa Tengah Ir. RISMA SIHOTANG

Paiman Hadi Supatmo Lahir tahun 1940 di dukuh Dani Desa Pereng Kecamatan Mojogedang Kabupaten Karanganyar. Tamat SR (Sekolah Rakyat) Tahun 1956. Menikah dengan Ibu Sukinah dan dikaruniai 2 orang anak yaitu Sri Mulyani dan Santosa.

Perjalanan hidup mbah Paiman sangat menarik. Dramatis dan penuh pelajaran, sekaligus memberikan informasi tentang Pelanggaran HAM akibat kedunguan cara berfikir tokoh penguasa waktu itu.
Waktu itu di desanya sangat jarang orang bisa sekolah hingga lulus SR. karena mayoritas petani, orang tua mereka beranggapan bahwa menjadi petani tidak usah pintar-pintar, yang penting bisa mencangkul disawah dan paham cara bajak, garu dan menanam. Itu sudah cukup.

Namun demikian keinginan mbah Paiman untuk belajar sangat kuat, artinya ilmu sangat perlu untuk menunjang kehidupannya. Maka mbah Paiman mengikuti kursus ngetik, menjahit, dan lain-lain. Dorongan untuk memahami apa itu politik, ekonomi, budaya, menjadikan mbah Paiman HS mengikuti organisasi Pemuda Rakyat. Itulah awalnya terjun diranah politik dimulai.
Dibidang ekonomi mbah Paiman membuka jasa jahit pakaian, dan dibidang budaya mbah Paiman mendirikan perkumpulan joget wayang orang. Namun yang paling utama yang dijalani mbah Paiman adalah bertani. Semua kesibukan / kegiatan ia jalani dengan keiklasan tanpa tekanan dan tentunya dengan rasa tanggung jawab.

Mbah Paiman menjelaskanbahwa jaman dahulu gotong royong masih mudah ditemui. Misalnya, menolong orang kecelakaan, kerja bakti mencari tikus (gropyokan), dan lain-lain. Bicara tentang gotong royong membasmi hama, dahulu ataupun sekarang masih sama dampaknya yaitu menyebabkan krisis pangan, tetapi bedanya kalau dahulu tanaman diserang oleh hama, sedangkan sekarang orang menyerang orang. Begitu kata beliau.

Tahun 1963 mbah Paiman menikah dengan seorang gadis yang masih termasuk pemain wayang orang yang bernama Sukinah, satu tahun kemudian mbah Paiman dikaruniai seorang anak yang bernama Sri mulyani. Pada tahun 1964 terjadi guncangan ekonomi yang parah karena penyebab serangan hama tikus, banyak petani yang merugi dan mencari pekerjaan diluar daerah, nilai ternak dan nilai pangan tidak seimbang, yang mengakibatkan masyarakat desa kekurangan makanan pokok sehingga ‘kabluk’ ( ampas singkong yang sudah diambil sarinya) menjadi makanan pokok sehari hari.

Awal tahun 1965 Tuhan memulihkan hasil pertanian sehingga panen kembali melimpah, tetapi tidak selang berapa lama, kabar tentang gegernya Jakarta menjadikan gelisah keluarga mbah Paiman dan masyarakat desa, hanya berdasarkan kabar dari orang lain karena media informasi belum menjamah desa, bahwa PKI dan pengikutnya banyak ditahan bahkan dibunuh.

MASUK PENJARA

Pada hari sabtu, tanggal 13 November 1965 pukul 05.00 WIB. Mbah paiman didatangi oleh Yon G dan segenap pemuda Ansor kurang lebih 15 orang bersenjatakan samurai dan pemukul dari kayu menggiring Mbah Paiman masuk kedalam truk. Dengan perasaan takut, bingung, sedih bercampur aduk diiringi dengan sorakan “Gantung Aidit, sate pemuda rakyat, gule Gerwani..!!!!” membuat perasaan semakin tidak menentu. Ada sekitar 24 orang yang senasib dengan Mbah Paiman didalam truk, kemudian pukul 15.00 WIB dibawa masuk kedalam tangsi polisi Kabupaten Karanganyar. Ternyata tidak hanya laki-laki, bahkan wanita GERWANIbanyak mengisi camp. Peristiwa itu terjadi diseluruh Indonesia.

Nasib PKI disapu lebur tanpa perlawanan. Pada hari pertama pukul 18.00 WIB mendapat ransum makan satu piring nasi dengan lauk ikan tiap orang, akan tetapi hari demi hari makanan yang diberikan terus dikurangi dan bahkan tidak layak disebut makanan untuk manusia. Kemudian mulai diadakan pemeriksaan. Ketika Mbah Paiman mendapat gilirannya, sebelum diajukan pertanyaan Mbah paiman harus merasakan sakitnnya dipukul rotan bertubi-tubi. Akhirnya pertanyaan pertama yang ditanyakan pada Mbah Paiman adalah “berapa tempat yang telah menyiapkan lubang biaya dan siapa saja yang akan dibunuh.?” Dengan keadaan kesakitan karena dipukuli Mbah Paiman dipaksa menjawab pertanyaan yang Ia tidak ketahui kebenarannya. Setelah berulang kali menjalani pemeriksaan dan siksaan Mbah Paiman dikembalikan di camp untuk merawat lukanya walaupun hanya dengan diusap air hangat dan dibiarkan dalam jangka waktu 2-3 hari. Dalam 1 minggu sekali dapat bertemu keluarga, tepatnya setiap hari selasa Mbah Paiman menunggu keluarganya serta bisa merasakan makanan yang selayaknya untuk dimakan.

Kemudian mulai rutin diadakan pemeriksaan, jika sampai pukul 17.00 WIB tidak kunjung kembali ke camp (ruang tahanan) bisa dipastikan hilang tanpa kabar kejelasan, waktu itu disebut “Skrening”. Pada masa pemerintahan ORDE BARU, setelah Soekarno dipaksa untuk lengser, nyawa manusia seperti tidak ada harganya. Korban manusia yang tidak jelas kasusnya menjadi puluhan juta, seperti peristiwa di Kedung dowo yang tempatnya berjarak kurang lebih 1 km dari rumah Mbah Paiman, salah satu peristiwa yang Mbah Paiman ikut menjadi salah satu saksi hidup yang menyaksikan pembunuhan massal. Suatu ketika ada perintah dari kepala desa untuk masyarakat sekitar Kedung Dowo untuk membuat lubang galian yang ukurannya sudah ditentukan oleh petugas, setelah itu masyarakat pada malam hari diperintahkan untuk menyaksikan pembunuhan 5 orang yang issunya adalah orang PKI, setelah dipaksa untuk menyaksikan eksekusi mati, masyarakat diperintahkan untuk menguburkannya pada satu lubang yang sama dan diatas kuburan itu ditanami pohon pisang. Ini merupakakan salah satu bukti kongkrit kekejaman pemerintah orde baru yang dibalut dengan G 30 S PKI dibawahkepemerintahan Presidan Soeharto.

 MASUK NUSA KAMBANGAN

Tanggal 11 februari 1996 Mbah Paiman dipindahkan kepenjara Nusa Kambangan dengan beberapa teman senasib menggunakan kereta api luar biasa (KLB) berangkat dari Stasiun Balapan menju Cilacap kira-kira jam 7 pagi sampai di Nusa Kambangan dan dimasukkan dipos Penjara Kembang Kuning. Pada waktu itu Penjara Nusa Kambangan antara lain : Batu, Limus buntu, Karang Tengah, Kembang Kuning, Permisan, Karanganyar yang semuanya berisi TAPOL (tahanan politik).

DI penjara dengan penjagaan ekstra ketat, perlakuan satu minngu pertama mendapat jatah makan 2 kali sehari sebanyak 150 gr nasi dengan lauk ikan asin, beberapa hari kemudian diganti dengan nasi grontol (jagung yang direbus) sebanyak 200 gr , beberapa bulan selanjutnya terus berkurang, sehingga banyak tahanan yang jatuh sakit bahkan meninggal dunia, peristiwa mengubur teman senasib menjadi hal biasa. Banyak perlakuan yang tidak manusiawi yang didapat oleh para tahanan. Dengan dalih yang tidak masuk akal, banyak tahanan yang disiksa bahkan dibunuh secara tidak langsung, seperti Mbah Paiman alami sendiri, alasan Beliau masuk penjara karena dituduh akan merusak dan merubah Pancasila, akan mengganti Camat, tidak beragama, dan sebagainya.

Penyiksaan yang Mbah Paiman dan para tahanan lain alami tiap hari diantaranya; jam 6 pagi apel dilanjutkan mencari kayu bakar, masuk rawa bakau yang jaraknya kurang lebih 1 – 1.5 km dengan berbaris dan dikawal oleh petugas bersenjata yang tiap saat siap menyiksa para tahanan, sehabis mencari kayu bakar dilanjutkan apel kerja jam 7 pagi dengan berkelompok menurut aturan petugas sampai jam 2 , jika ada yang tidak ikut apel karena alasan sakit, justru akan disiksa. Dengan makanan yang tidak bisa memenuhi kebutuhan energi tubuh, dipaksa untuk bekerja dengan siksaan para petugas yang kadang tidak dimengerti para tahananapa yang mereka perbuat.

Ditengah penderitaan yang berat, ada peristiwa rohani yang dialami Mbah Paiman, pada pukul 16.30 WIB pada hari minggu malam mendengar suatu nyanyian yang berjudul “BATU KARANG YANG TEGUH” yangspontan membuat badan Mbah Paiman merinding dan tergugah hatinya, ternyata asal nyanyian itu berasal dari kebaktian jemaat tahanan, ketika kebaktian telah selesai dan salah satu teman yang satu kamar dengan Mbah Paiman kembali, Mbah Paiman bergegas menghampirinya dan menyatakan bahwa dirinya ingin ikut serta dalam kebaktian dan Mmeyakini Yesus. Dan akhirnya itu adalah langkah awal Mbah Paiman mengikuti Yesus dan mendalami AL Kitab. Selang beberapa hari kemudian, ditengah malam Mbah paiman mengalami peristiwa yang memilukan, teman satu kamarnya ditemuinya telah tak bernyawa, tetapi Mbah Paiman tetap tenang menghadapinya karena dia sadar bahwa sekarang dia telah beriman.

Waktu terus berlalu, harapan Mbah Paiman tentang akhir yang indah masih beliau dambakan, dan pada suatu hari Mbah Paiman dipanggil oleh seorang pejabat polisi penjara, maksud Pejabat polisi yang ternyata seorang kasi perkebunan tanaman pangan dipos kembang kuning, atau disebut juga komandan unit tersebut menawari atau lebih tepatnya memerintah Mbah Paiman untuk bekerja membantu dirumahnya. Tanpa berfikir panjang Mbah Paiman menerima tawaran tersebut. Tugas Mbah Paiman tiap hari adalah merawat ternak, mengambil air, mencuci pakaian dan lainnya. Mbah Paiman lakoni pekerjaan itu selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Paiman hanya bisa berharap semoga ini merupakan langkah awal yang baik.

NAPI

Nusa Kambangan mayoritas diisi oleh para Tapol (Tahanan politik) dan Tamil (Tahanan militer) kelas kakap, dan semua berada dibawah pengawasan NAPI, karena para petugas banyak menggunakan jasa para NAPI. Bahkan jika para NAPI itu menyiksa Tapol dan Tamil akan mendapat pujian oleh para petugas.

PERUBAHAN STATUS

Tahun 1968-1969 nasib Tapol (Tahanan Politik) dan Tamil(Tahanan Militer) mengalami perubahan seperti yang tadinya TERPERDA menjadi TERPETRA dan TERPERPU yang para Tapol dan Tamil sendiri tidak tahu artinya karena tidak pernah diadakan sosialisasi, hanya diberikan pemahaman disetiap upacara tentang P4 pancasila yaitu :
”Pemerintah dengan gigih akan terus berjuang melenyapkan PKI sampai keakar-akarnya karena PKI tidak punya hak hidup di bumi Indonesia, PKI tidak bertuhan, PKI tidak beragama, PKI ingin merubah Pancasila, PKI ingin memberontak dan berkuasa.”

Mbah Paiman juga mendapat perubahan status dari TERPERDA menjadi TERPATRA, pada tanggal 11 November 1970 500 Tapol yang berstatus TERPATRA dipindahkan kesuatu tempat dengan kapal TAWUTI dari cilacap menuju wijaya pura. Setelah 6 hari perjalanan mengarungi lautan, akhirnya kapal menepi disebuah dermaga. Terlihat dari kapal ada sebuah gapura bertuliskan “NAMLEA” disebuah selat Pulau Buru.

MENUJU TRANSITO

Tapol yang berjumlah 500 orang dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing kelompok berjumlah 100 orang, mereka semua digiring untuk menaiki lendeng (perahu motor) untuk menyusuri Sungai Way-apu buru dan masuk sebuah hutan. Disana telah dinanti pasukan Patimura yang mengawal para Tapol untuk berjalan menuju pos yang ditentukan.

 INREHAB

Tanggal 18 November 1870 para Tapol ditetapkan menjadi penghuni barak “UNIT AGRO BHAKTI” disana terdapat 18 unit dan 3 unit RSS yang setiap unitnya berjumlahkan 500 orang kecuali unit 1,2,3 berkapasitas 100 orang. Tinggal disebuah barak berdindingkan bambu dan beratap daun nipah, para Tapol harus beradaptasi dengan segala keterbatasan, kegiatan awal yang dilakukan adalah melangsir (mengangkur) kebutuhan unit dari dermaga sungai weapu yang berjarak 6-7 km melintasi hutan rimba.

MASYARAKAT PRIBUMI

Tanggapan masyarakat Pulau Buru terhadap para Tapol awalnya mereka ketakutan terhadap para Tapol, ternyata sebelum kedatangan para Tapol ke pulau buru, mereka telah disosialisasi tentang kedatangan orang orang PKI dari jawa, masyarakat pulau buru dilarang mendekati apalagi berbicara karena orang-orang PKI itu kejam dan suka membunuh. Oleh sebab itu masyarakat pribumi takut jika bertemu dengan para Tapol. Tetapi, ketika beberapa hari beradaptasi, masyarakat pribumi menyadari bahwa sosialisasi yang diberikan itu berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.

STRUKTUR KEPENGURUSAN

Badan rehabilitasi dipegang oleh :
a. Komando inrehab dan wakinya serta staf yang terkait bertempat di Namlea
b. Komando unit dan wakilnya dengan ton pengawal Patimura, yang bertempat dimasing-masing unit
Untuk Tapol dibentuk koordinasi kerja, tiap barak dipimpin oleh kepala barak, yang setiap barak terdapat 5 kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 10 orang

PROGRAM KERJA

Program kerja yang dibentuk :
a. Program jangka pendek : membuka lahan pertanian untuk menuju kecukupan pangan
b. Program jangka menengah : membangun pemukiman layak huni
c. Program jangka panjang : menuju kebersamaan masyarakat yang terisolir dipulau buru serta masyarakat yang mudah pengawasannya oleh pemerintah

A. Progam jangka pendek

Untuk membuka lahan pertanian dibentuk kelompok yang bertugas membuat lahan sawah. Setiap baraknya 10 ha, jika 1 barak terdapat 50 orang, berarti 5 orang mendapat target membuat 1 ha lahan persawahan. Untuk lahan kering, palawija, dan sayuran setiap barak 5 ha, jadi setiap 10 orang mendapat jatah 1 ha. Diunit 17 Agrabakti bertugas membuat saluran irigasi untuk mengairi 200 ha lahan pertanian . Dalam kurun waktu 2 tahun Pulau Buru menjadi lautan pangan. Tidak aneh keberhasilan para Tapol merubah pulau buru menjadi lautan pangan, karena mayoritas Tapol adalah tokoh nasionalisme yang notabene ahli fikir, karena dianggap berbau komunis, mempunyai kedudukan, masalah pribadi ataupun mempunyai istri yang cantik dan masih banyak dalih yang tidak masuk akal, mereka ditangkap dan dipenjara dengan dalih G 30 S PKI.

B. Program jangka menengah

Setelah program jangka pendek terealisasi, dilanjutkan program jangka panjang. Dengan pembentukan tim pembangunan, kebudayaan, dan tim-tim yang lain yang perlu dibentuk. Dalam tim kebudayaan lelah mulai merintis kebudayaan sesuai daerah masing-masing antara lain :
Surabaya : Ludruk
Jawa tengah : Wayang kulit, wayang orang, dll
Cirebon : Kecapi, Dang dung, dll
Jakarta : Lenong
Semarang : Wayang Orang “Ngesti Budaya”
Jogjakarta : Ketroprak “Kridomukti”

Dan masih banyak lagi termasuk kegiatan olah raga seperti sepak bola dan lainnya. Selang 2 tahun program jangka pendek terealisasi, dan pembangunan serta renovasi tempat ibadah telah dilakukan, pada tahun 1974-1975 terjadi serangan wereng, sehingga komandan unit baru memerintahkan untuk memusnahkan tanaman padi agar peredaran rantai hama tidak meluas.

a. Tenaga kerja

Selain tenaga manusia, juga digunakan tenaga dari hewan seperti sapi dan kerbau untuk membajak ataupun menarik grobak sebagai transportasi. Dilingkungan tapol tidak mengenal kasta, semua dipandang sejajar, walaupun banyak tapol yang dulunya seorang dokter, insinyur, sarjana dan lain-lain. Dalam kesempatan tersebut digunakan Mbah Paiman sebagai fakultas atau universitas bagi diri pribadinya untuk banyak belajar dari Tapol lainnya. Dan kebetulan Mbah Paiman ditunjuk sebagai kepala barak yang beranggotakan 10 orang.

b. Kebudayaan

Tidak begitu sulit untuk para Tapol mengembangkan budaya dari daerah masing-masing, karena banyak tapol yang notabene dulu adalah orang yang ahli dalam bidangnya, dengan memanfaatkan benda yang ada dijadikan alat musik kesenian daerah.

c. Peribadatan

Bangunan tempat ibadah telah banyak dibangun, karena banyak tenaga ahli dari para Tapol. Event hari-hari besar tidak ketinggalan perayaannya.
d. Kunjungan Sudomo (Pang Kop Kam Tip)

KunjunganSudomo di Pulau Buru untuk melihat langsung perkembangan rehabilitasi disambut dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang “Ki Tristuti Rahmadi” yang mengambil lakon “Wisang Geni Lair (lahir)”pagi haripesan dari Sudomo sebelum meninggalkan lokasi adalah :
1. Semua Tapol harus meninggalkan ide Komunis
2. Beribadah dengan Khusyuk
3. Supaya betah, keluarga akan dikirim kelokasi
4. Melihat perkembangan di Pulau Buru sangat mengesankan, berharap kedepan dapat berswasembada pangan.

C. Program Jangka Panjang

Keluarga para Tapol mulai dikirim ke Pulau Buru, ada 120 keluarga yang telah dikirim dan ditempatkan tersendiri di pemukiman yang bernama “SAPANA JAYA”. Kedatangan para keluarga menjadi moment yang tidak terlupakan dalam kenangan Mbah Paiman dan Tapol lainnya. Tetapi yang disayangkan keluarga Tapol tidak diperbolehkan untuk bersekolah dengan masyarakat pribumi. Jadi selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru telah memutar balikkan fakta, misalnya memberikan pengertian mulai dari TK sampai Perguruan tinggi bahwa PKI adalah orang jahat, pemberontak, tidak beragama, tidak bermoral, dan PKI ingin merubah pancasila. Yang lebih ironisnya, Soekarno juga ikut ditangkap dan dipenjara yang istilahnya “ TAPOL AGING PKI”

a. Masa seleksi

Pada tahun 1976 terjadi penyeleksian antara Tapol yang dulunya tokoh Nasional dan Tapol biasa, Tapol yang dulunya adalah tokoh Nasional dipindahkan di unit 15 adipura, termasuk Mbah Paiman ikut didalamnya. Didalamnya terdapat Tapol yang notabene ahli fikir, tetapi seorang Mbah Paiman yang dulunya hanya lulusan SR dipercaya menjadi kepala barak yang mengepalai 50 anggota Tapol yang mayoritas adalah tokoh nasional dan ahli fikir yang dulunya sebagai dosen diperguruan tinggi. Selama 8 bulan Mbah paiman dan Tapol yang lain membahas tentang seleksi P4 Pancasila.

b. Mengungkap G 30 S PKI

Ketika para tokoh berkumpul dan membahas masalah G 30 S PKI, termasuk didalamnya orang yang mendapat gelar pengarang terbaik dunia abad ke-30 yaitu Pramudya Hananto Tur. Ketika Soekarno mengutarakan program membangun Negara diperlukan masyarakat yang tangguh, pandai dan mandiri. Soekarno mengambil beberapa langkah yang diantaranya. pertama, mengirim mahasiswa yang dianggap mampu dalam hal kepandaian, mental, serta kemandirian belajar ke luar negeri dengan catatan setelah pandai untuk pulang ke Indonesia agar dapat bersama-sama membangun Negara. Kedua, Soekarno menyatakan Indonesia keluar dari keanggotaan PBB, karena Soekarno ingin Indonesia menjadi bangsa yang mandiri. Pemikiran lain yang mendasari diambilnya langkah-langkah ini adalah Indonesia merupakan Negara agraris yang 80% penduduknya adalah petani dan nelayan, serta kekayaan Indonesia terhampar luas dari sabang sampai merauke. Langkah-langkah yang diambil Soekarno menjadikan Negara lain terutama Amerika goyah dan mencari cara untuk menjatuhkan Soekarno. Kemudian didapatkan sebuah cara yaitu dengan menumpas habis orang-orang yang berada dibelakang Soekarno atau istilahnya “ Suwe mijet wohing ranti”(sangat mudah sekali – red) pada saat itu yang berada dibelakang Soekarno adalah PKI, kemudian terjadilah G 30 S PKI dimana yang menjadi anggota PKI ditumpas habis.

Tanggal 11 maret 1966 Soekarno menyerahkan kekuasaannya, dengan menyerahkan keamanan Negara ketangan Soeharto. Setelah Soeharto memegang kendali, tindakan pertama yang dilakukan Soeharto yaitu menyingkirkan Soekarno dengan cara menjebloskannya ke penjara, dengan dalih Soekarno tidak mau membubarkan PKI dengan status “Partai terlarang”. Kemudian Soeharto mulai menjadi Kepala Negara dengan menggunakan Program baru yang dikenal dengan istilah Orde lama. Selang beberapa saat Indonesia kembali menjadi anggota PBB yang ditandai dengan banyaknya Investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Tapi dengan kemajuan perekonomian yang pesat tidak diimbangi dengan peningkatan SDM masyarakatnya bahkan terjadi pemberangusan politik yaitu pengetahuan politik dianggap tidak penting. Serta banyaknya pembangunan membuat hutang Negara menumpuk.

c. Tantang pertanian

Tahun 1977 masalah pertanian menjadi bahan pembicaraan yang hangat didalam penjara. Dikenal dengan sebutan “REVOLUSI HIJAU” penggunaan pupuk serta obat kimia sintetis. Menurut para ahli bahwa dampak jangka panjang penggunaannya akan merugikan bangsa Indonesia. Menurut prediksi dalam jangka waktu 10-15 tahun kedepan masyarakat Indonesia akan merasakan sendiri dampaknya. Diantaranya kesuburan tanah mulai berkurang, dampak langsung terhadap manusia yaitu banyak muncul penyakit baru, usia manusia relatif semakin pendek. Memang pada awal pelaksanaannya Revolusi Hijau mampu meningkatkan hasil produksi sektor pertanian, bahkan Indonesia mampu berswasembada pangan sekaligus mendapat penghargaan dari PBB. Jelas saja ini dapat terjadi, mengingat tanah di Indonesia yang sudah subur, masih dipacu dengan penggunaan pupuk kimia. Tetapi dampak yang sekarang ini kita rasakan langsung justru kebalikannya. Produksi pertanian semakin menurun, rusaknya struktur tanah karena penggunaan pupuk serta obat kimia sintetis yang berlebihan.

Pada awal tahun 1977 Perdan Mentri Inggris mengunjungi Tapol yang berada di Pulau Buru dan mengadakan wawancara langsung kepada teman-teman Mbah Paiman yang dulunya mengerti politik. Ada 3 poin penting yang dibicarakan :

  1. Kedatangan Perdana Mentri Inggris ingin melihat secara langsung keadaan para Tapol.
  2. Setelah melihat keadaan secara langsung jawabannya “KekejamanPemerintah Indonesia menduduki peringkat 2 ( dua ) dunia setelah Srilanka”.
  3. Langkah yang akan diambil pemerintah Inggris yang tahu persis keadaannya masih menjadi rahasia Pemerintah Inggris.

Setelah dua bulan kedatangan Perdana Mentri Inggris, mulailah berdatangan wartawan-wartawan asing yang ingin tahu keadaan sebenarnya. Ternyata mereka adalah wartawan HAM Internasional Negara lain yang bertugas mencari informasi tentang pelanggaran HAM diantaranya berasal dari Jermain, Australia, Perancis, Jepang, dan masih banyak lagi.

Terang dalam gelap

Tanpa terasa 1 bulan bergaul dengan wartawan asing yang silih berganti berdatangan, terdengar kabar menggembirakan diantaranya :

  1. Bahwa lembaga kemanusiaan dunia telah melihat secara langsung keadaan tahanan politik yang berada di Pulau Buru. Kesimpulannya adalah : “ bahwa kalau Pemerintahan Indonesia tidak segera membebaskan tahanan yang tidak jelas akar permasalahannya sehingga menyebabkan mereka ditahan maka Bangsa Indonesia akan memperoleh sanksi HAM Internasional”.
  2. HAM internasional akan membantu tentang nasib tahanan PKI tapi semuanya tergantung dari Pemerintah Indonesia.

Kabar tersebut membuat Mbah Paiman dan teman-teman Tapol lainnya kembali semangat dan mempunyai harapan baru. Dari pemerintah pun membenarkan adanya kabar tersebut serta mengatakan akan segera melepaskan Tapol dan mengembalikan ke dalam keluarganya masing-masing. Selanjutnya pulau buru akan ditempati para transmigran. Sejak itu, Mbah Paiman dan para Tapol lain berdiskusi dan menghasilkan dua materi penting :

  • Apa yang akan disiapkan setelah meninggalkan Pulau Buru yang akan diisi oleh transmigran.
  • Bagaiman persiapan diri baik mental dan fikiran setelah kembali ke tengah-tengah keluarga dan masyarakat luas dengan latar belakang yang seperti ini.

Akhirnya didapatkan jalan keluar dari dua materi tersebut :

  • Menyiapkan segala kebutuhan pokok untuk transmigran yang akan menempati Pulau Buru. Diantaranya menyiapkan stok gudang makanan untuk beberapa bulan kedepan sehingga cukup sampai masa panen datang, menyediakan buah-buahan serta ternak, tetapi yang kurang hanya tempat tinggal yang layak, yang ada hanya gubug bambu.
  • Memikirkan kelanjutan hidup ditengah masyarakat dengan beragam penilaian masyarakat yang akan Mbah Paiman terima yang telah menjadi “Lulusan Akademi Tapol PKI” diantaranya :

• Masalah yang menyangkut pekerjaan yang mau tidak mau harus mencari pekerjaan lain.
• Masalah tempat tinggal.
• Keluarga yang telah lama ditinggalkan
• Perlakuan pemerintah terhadap mantan Tapol.

Mulai tanggal 19 Oktober 1979 pembebasan tahanan politik mulai dipersiapkan, sebanyak 4000 orang termasuk Mbah Paiman mulai dipindahkan ke Dermaga NAMLEA untuk menunggu kapal. Tidak selang beberapa lama tampak dari kejauhan sebuah kapal, tapi kapal tersebut bukanlah kapal yang bertujuan mengangkut para Tapol, melainkan sebuah kapal dagang. Terdapat serombongan yang berisi 6 orang, yang salah satunya adalah Hasan Slamet dari Jogjakarta yang bertugas menjadi Gubernur Maluku.

Pada tanggal 31 Oktober 1979 para Tapol akan diangkut dengan kapal besar “GUNUNG JATI” menuju Surabaya , tanggal 6 November 1979 rombongan Tapol tiba di Surabaya masuk penampungan Stasiun pasar Turi, tanggal 7 November naik kereta menuju Semarang, sesampainya disana para Tapol ditampung di Asrama Angkatan Darat Semarang. Tanggal 9 November para Tapol dikumpulkan berdasarkan daerahnya dan diserahkan pada Koramil masing-masing kemudian dilepas menuju daerahnya masing-masing. Sesampainya dirumah Mbah Paiman telah disambut oleh keluarga serta para tetangga.

Kenangan di Pulau Buru

 Bergaul dengan masyarakat pribumi yang masih primitif, mereka masih berpindah-pindah tempat (Nomaden), yang dipimpin oleh seorang raja, kepala suku, dan kepala adat.
 Mbah Paiman bertemu dengan para tokoh nasional dan dapat belajar langsung dengan mereka.

Ditengah-tengah keluarga

Dengan berpedoman pembekalan dulu sebelum keluar dari penjara yaitu:

 Menempatkan diri sebagai patung
 Menempatkan diri bagaikan kotak sampah
 Tidak usah berpolitik serta turut campur didalamnya
Mbah Paiman menjalani kehidupannya bersama keluarga dan ditengah-tengah masyarakat.

Era Reformasi

Tanggal 21 mei 1998 menjadi akhir dari ORDE BARU. Soeharto dipaksa untuk turun dari tahta kepresidenan oleh gerakan demonstrasi mahasiswa dan rakyat Indonesia. Kemudian selang beberapa saat terjadi peristiwa terkenal dengan sebutan “SEMANGGI BERDARAH” awal dari pemberontakan rakyat Indonesia yang menuntut keadilan yang selama 32 tahun telah diputar balikkan faktanya.
Dan tidak kalah pentingnya adalah masalah “REVOLUSI HIJAU” yang telah membuahkan dampak negatif yang diantaranya:

  1. Dengan residu kimia tanah akan semakin gersang
  2. Banyak penyakit baru yang timbul
  3. Usia manusia semakin pendek

Dampak tersebut telah dirasakan oleh generasi sekarang. Disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menurut pandangan Mbah Paiman hanya akan menguntungan kalangan menengah keatas.
Tahun 1993 Desa Pereng membentuk perkumpulan petani pemakai air (P3A) “DARMA TIRTA” dan Mbah Paiman menjadi pengurus P3A. pada tahun 2000 dibentuk kelompok tani “Rukun Makaryo” dan Mbah Paiman ditunjuk menjadi ketua.

Visi dan Misi Kelompok tani Rukun Makaryo

Visi :
menuju petani yang mandiri, mengutamakan skill, mengurangi ketergantungan produk pabrik demi kesejahteraan anggota.

Misi :
1. Mengadakan penelitian-penelitian, pembuatan pupuk organic dan obat-obatan pesnab (pestisida nabati)
2. Sosialisasi keanggotaan lewat pertemuan RT
3. Menjalin kerja sama intern petani dan ekstern (kelompok tani)
4. Menulis buku-buku tentang pertanian yang bersudut pandang pada kelestarian alam berjangka panjang.
5. Mengarah keproduk pertanian yang ramah lingkungan

Rencana kerja
1. Program jangka pendek
a. Mengembalikan struktur tanah yang telah tercemar oleh residu limbah kimia
b. Pembuatan pupuk organic padat dan cair, pestisida nabati, APH dan fungisida
c. Rapat pengurus dan sosialisasi

2. Program jangka menengah/sedang
a. Mengadakan pelatihan (sekolah rakyat) tentang pertanian yang ramah lingkungan
b. Studi banding demi menjalin kemitraan
c. Menumbuhkembangkan kewirausahaan

3. Program jangka panjang
a. Untuk menuju kemandirian petani sejahtera
b. Menciptakan lapangan kerja menuju petani swasembada
c. Merintis generasi, mengutamakan remaja tani berprestasi

Modal usaha berasal dari simpanan anggota setalah berkumpul baru digunakan untuk modal usaha,” sampai saat ini telah berhasil menciptakan lapangan kerja dengan usaha produksi pupuk organic dan beras organik. Untuk program selanjutnya yang saat ini baru direncanakan adalah Pasar Unggulan Produksi Petani (Pasar Organik). Tidak ada yang tidak berguna ketika sesuatu telah diciptakan Tuhan. Kebaikan itu diambil dari fungsi dan manfaat bukan dari bentuk/casing. Belajar menghargai nyawa berapapun nilainya. Karena pada setiap jiwa adalah hakikat hidupmanusia telah menjadi sebuah perantara bakti dari Yang Maha Tinggi.(MYT-TYO)

1 COMMENT

  1. Walaah,.bagus benar artikel ini tapi sayang realitasnya tidak semanis spt yang tertulis,..Perjuangan bertahan hidup mbah paiman memang cukup layak utk diangkat sbg pemicu semangat generasi muda utk kembali bertani&mencintai pertanian tapi apa yang telah dilakukan terasa cukup sungguh menyakitkan bagi anak2 muda yang sudah mulai mencintai pertanian dengan menggunakan uang untuk kepentingan pribadi&keluarganya yang seharusnya uang itu digunakan sebagai modal bersama dalam upaya pengembangan pasar beras organik yang sampai dengan detik ini uang tsb belum juga ada kejelasan jluntrungannya. Bagi kami anak2 generasi muda petani Karanganyar, uang 30juta lebih itu tidaklah sedikit.Selama 2 tahun terakhir,kami harus berjuang mati2an utk bisa bertahan dalam upaya pengembangan pasar beras organik.Semoga dengan tulisan ini,ada tmn2 yang bantu untuk mendorong mbah paiman memunculkan kembali etika jawa “Sembah Roso” yang dirasa telah hilang dengan segera menyelesaikan tanggung jawab hutang2nya kepada kami.Terimakasih&maaf apabila ada kata2 yang kurang berkenan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here