Home HUKUM Diduga Salah Operasi, Pasien RS Swasta Menuntut Keadilan.

Diduga Salah Operasi, Pasien RS Swasta Menuntut Keadilan.

321
0

JAKARTA, TRANSPARANCY – Dugaan malpraktek kembali terjadi. Kali ini menimpa RH (35) yang merasa telah dirugikan secara materi maupun psikoligis atas pelayanan dari salah satu Rumah Sakit swasta yang beralamat di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

RS korban mal praktek
RS korban mal praktek

RH mengungkapkan pada tahun 2008 dirinya mengalami sakit perut melilit sewaktu mengalami datang bulan (nyeri haid) dan mendapat rujukan dari dokter penyakit dalam, dr. Catalia Anggawijaya. Akhirnya RH harus dirawat selama 5 hari terhitung mulai tanggal 11-15 Februari 2008 yang ditangani dr. Hendradinata.  Setelah dirawat selama 5 hari, RH sudah diperbolehkan pulang, karena penyakit perutnya sudah mulai membaik.

Selang beberapa hari, RH kembali mengeluhkan sakit yang sama dan kembali dirawat di RS yang sama terhitung sejak tanggal 26 Februari hingga 2 Maret 2008 dan ditangani Dr. Welem dan dr. Hendradinata. Dan pada tanggal 28 Februari, hasil USG Abdomen lengkap dengan diagnosanya yang menyatakan bahwa, RH mengalami perlemakan dan Kista Ovarium kanan.

Akhirnya RH diarahkan kepada dr. Herbeth seorang ahli kandungan dan harus menjalani operasi pada tanggal 28 April 2008. Namun, bukan Kista yang diangkat, melainkan tuba kanan dan kiri RH, dimana tempat pertemuan antara induk telur dan sel sperma berkembang yang membuat RH tidak bisa lagi membuahkan secara normal kecuali dengan system bayi tabung.  “Disini dr. Herbert tidak menjelaskan sepatah kata apapun maksud dan tujuannya soal pengangkatan tuba dalam Rahim saya,” ujar RH tampak sedih kepada wartawan media ini, Senin (22/6/2015) malam.

Sambil meneteskan air mata RH melanjutkan, sejak tahun 2008 sampai sekarang dirinya tidak pernah mendapatkan keadilan dan penjelasan secara rinci. Apalagi, pertanggungjawaban dr Herbert dan pihak RS terkait penanganan operasi dan tindakan terhadap dirinya. “Sudah 6 tahun berlalu, sampai sekarang saya tidak mendapatkan keadilan dan sekarang seumur hidup saya tidak bisa menjadi seorang ibu,” katanya.

Masih kata RH, apa yang dialaminya ini, cukup memukul perasaan bathinnya, setiap perasaannya menginginkan seorang anak. Terlebih lagi ketika melihat anak-anak kecil yang tengah bermain atau lagi digendong ibunya. “Perasaan ini terus menekan bathin saya dan seumur hidup saya tidak pernah melupakan apa yang telah diperbuat RS tersebut terhadap saya tanpa ada penjelasan, baik kepada saya dan suami,” ungkapnya.

Sampai sekarang tambahnya, saya masih menuntut dan berharap keadilan itu ada agar tidak menjadi beban bathin saya yang berkepanjangan, bahkan sampai seumur hidup saya. “Keadilan itu masih saya tunggu sampai sekarang hingga perasaan sakit bathin saya ini bisa sedikit terobati,” tandasnya. Namun sampai sejauh ini dari tahun 2008 sampai sekarang, RH belum mendapat perhatian dari hukum untuk tindakan mal praktek yang dialaminya. (Poetra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here