Home BERITA TERBARU Dies Natalis ISKA: Aspek Kesehatan, Pendidikan dan Ekonomi di Era New Normal

Dies Natalis ISKA: Aspek Kesehatan, Pendidikan dan Ekonomi di Era New Normal

27
0

JAKARTA, MEDIA TRANSPARANCY – Masyarakat Indonesia saat ini bersiap-siap menyambut kehidupan normal baru atau new normal sebagai dampak dari adanya pandemi virus Corona atau Covid-19. New normal bukan euforia kebebasan untuk beraktivitas tanpa syarat, mengingat pandemi Covid-19 ini belum berakhir. Kewaspadaan harus terus ditingkatkan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat dalam beraktivitas.

“Kita harus secara bersama mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berdisiplin dan peduli pada kesehatan diri dan kesehatan lingkungan sekitar agar wabah penularan virus Corona dapat dicegah, tapi produktivitas juga tetap terjaga”.

Demikian dikatakan Ketua Umum Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Hargo Mandirahardjo saat membuka acara webinar “Sarasehan Kebangsaan Dies Natalis ke-62 ISKA” di Jakarta, Sabtu (13/6).

Webinar tersebut menghadirkan para panelis yaitu Deputi Bidang Koordinator Peningkatan Kesehatan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) dokter Agus Suprapto, anggota Komisi X DPR RI yang sekaligus juga sebagai Ketua Dewan Pakar PP ISKA, Adrianus Asia Sidot, dan Staf Khusus Menteri Keuangan yang juga Anggota Dewan Pakar PP ISKA, Yustinus Prastowo. Moderator acara yaitu Fransisca Romana, Pengurus PP ISKA Bidang Hukum dan Perundang-undangan.

Webinar Sarasehan Kebangsaan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis ISKA ke-62, tepatnya pada tanggal 22 Mei 2020 yang lalu. “Dalam usianya tersebut, ISKA tetap hadir dan ikut peduli dalam merawat komitmen kebangsaan kita, menjadi 100% Katolik dan menjadi 100% Indonesia,” ujar Hargo.

Sebagai rumah bersama bagi sarjana dan cendekiawan Katolik, ISKA senantiasa memegang teguh rasa kebangsaan dan ke-Indonesiaan. Spirit intelektual dan iman Katolik menjadi perutusan ISKA dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berkenaan dengan situasi pandemi Covid-19 yang melanda hampir diseluruh dunia, dan khususnya di negara kita Indonesia, kata Hargo, ISKA juga ikut peduli, bersolidaritas dan bergotong-royong dengan sesama komponen dan Ormas Katolik melalui JKMC. “Kami bersama-sama bergerak membantu mendistribusikan APD ke beberapa Rumah Sakit/Klinik Katolik diberbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.

Trisula Penanganan Covid-19 Mengawali pembahasannya, Agus Suprapto menjelaskan tentang istilah New Normal. Menurutnya new normal bukan istilah baru, karena telah ada sejak ratusan tahun lalu. Istilah itu mengacu pada adaptasi kebiasaan baru, great reset atau rehabilitasi dan rekonstruksi. Karena itu, istilah yang sesuai dengan hukum di Indonesia yaitu mengacu pada rehabilitasi-rekonstruksi. Namun, pemerintah saat ini menggunakan istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dia mengatakan, salah satu tantangan dalam penangangan Covid-19 di Indonesia yaitu jumlah kasusnya yang masih terus meningkat. Misalnya di Jawa Timur, jumlah positif Covid semakin bertambah dengan jumlah orang meninggal juga masih cukup tinggi. “Itu menunjukkan bahwa sistem kesehatan di daerah masih lemah,” ujarnya.

Namun, di sisi lain, ada daerah-daerah tertentu yang tidak terimbas pandemi Corona. Ada beberapa kabupaten yang hingga saat ini terbebas dari Covid.

Hingga saat ini, kata Agus, pemerintah, termasuk para ahli belum mengetahui kapan virus Corona ini berakhir. “Karena itu, kita mesti berdamai dengan Covid. Itu tidak berarti bahwa kita mengalah,” ujarnya.

Karena itu, katanya, pemerintah (Kemenko PMK) mempunyai grand strategy yaitu trisula penanganan Covid-19. Trisula penanganan tersebut untuk menghadapi ancaman kemiskinan akut, termasuk kerawanan sosial yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Trisula itu yakni pertama, jaringan pengaman sosial. Kedua, pengendalian penyebaran Covid, khususnya.

Penulis : Aloysius

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here