banner 728x250

Dihadapan Majelis Hakim PN Jakut Pelapor Kasus Penipuan Ungkap Perbuatan Terdakwa Abdullah Nizar Assegaf

  • Share

Jakarta,mediatransparancy.com -Hartono Tanuwidjaja SH MSi MH CBL, saksi pelapor kasus dugaan penipuan memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), atas perbuatan yang dilakukan terdakwa Abdullah Nizar Assegaf alias ANA, 3/1/2021.

Hartono yang juga kuasa hukum korban Deepak Rupo Chugani, dihadapan majelis hakim pimpinan DJuyamto SH MH, didampingi hakim anggota Srutopo Mulyono dan Agus Darwanta, mengatakan, perbuatan terdakwa dilakukan sekitar tahun 2014 hingga 2016 lalu, terkait pengurusan surat tanah seluas 1.225 M2, Sertifikat Hak Guna Bangunan no. 372, di jalan Dr .Sutopo, Tebet, Jakarta Selatan.

judul gambar

Tanah tersebut tadinya akan di beli korban, oleh karena itu terdakwa ada kesepakatan dengan korban terkait biaya pengurusan surat surat tanah sebesar 7 milliar rupiah. Akan tetapi pengurusan surat tanah tersebut tidak kunjung ada progres yang dilakukan terdakwa dan tidak ada laporan kepada korban Deepak, sehingga korban meminta kuasa hukumnya  Hartono Tanuwidjaja untuk menyelesaikan permasalahannya dengan terdakwa.

Menurut saksi, setelah melakukan pengecekan atas pengurusan surat tersebut dikantor Badan Pertanahan Nasional (BPN), ternyata tanah tersebut milik salah satu BUMD Provinsi DKI Jakarta.

Sebagaimana silsilah tanah tersebut, awalnya milik istri mantan Walikota Jakarta Timur, Ny Samsiar dengan status SHGB No:372 yang kemudian berubah kepemilikan menjadi milik Jainuddin Olie dengan membuat PPJB No.9/2016 dengan Ny RR Sri Suharni Iskandar.

Setelah dijual dengan pembeli Deepak Rupo, seharusnya oleh kepengurusan yang dilakukan terdakwa tanah tersebut berubah nama menjadi Deepak, namun setelah di cek, tanah tersebut justru atas nama salah satu BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”, ucap Hartono.

Menurut Hartono, dengan berbagai pendekatan terhadap terdakwa Abdullah menyetujui akan mengembalikan uang korban dengan mencairkan sejumlah cek sebagai jaminan. Akan tetapi cek yang diberikan terdakwa kepada korban tidak seluruhnya bisa di cairkan, tapi hanya 3 miliar rupiah, dan sisanya 4 miliar tersakwa Abdullah berjanji akan menyelesaikannya pembayaran sisanya.

Karena sisanya juga tidak dilunasi terdakwa maka korban mensomasi terdakwa, namun yang dibayar hanya 500 juta, dengan menyerahkan sejumlah cek atas nama Bank Mitra Niaga senilai 3,5 milliar untuk melunasi sisa uang korban yang digunakan terdakwa untuk pengurusan surat tanah tersebut. Namun apa yang terjadi, pihak Bank Mitra Niaga menyebutkan uang  kosong dalam cek tersebut, sehingga perbuatan terdakwa dilaporkan ke Polres Jakarta Utara”, ujar saksi, 03/1/2021.

Dalam dakwaan jaksa Penuntut Umum Tedy, dari Kejaksaan Negeri Jakarta Utara menyebutkan, kerugian korban atas perbuatan terdakwa sebesar 3,5 miliar rupiah. Dan hal itu dibenarkan kuasa hukum korban dalam persidangan yang digelar dengan video Confren tersebut dimana terdakwa ditahan majelis hakim dalam Rumah Tahanan.

Menjawab pertanyaan penasehat hukum terdakwa, Tonin Singarimbun, mengapa korban Deepak Chugani tidak melanjutkan kepengurusan surat tanah yang akan dibeli tersebut, saksi Hartono mengatakan, karena status tanahnya sudah menjadi nama salah satu BUMD Pemprov DKI Jakarta, sehingga pengurusannya tidak mungkin dilanjutkan” ucapnya.

Hartono mengakui pihaknya mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, No:409/Pdt.G/2018/PN Jkt Sel tanggal 28 Juni 2018. Para pihak yang digugat yakni, Abdullah Nizar Assegaf (tergugat I), Ny RR. Sri Suharni Iskandar (tergugat II), Hansraj D Jatiani (tergugat III) dan Abdul Malik Suparyaman SH M.Kn (turut tergugat).

Namun gugatan ditolak majelis hakim sidang perdata, sehingga korban melaporkan terdakwa ke Polres Jakarta Utara”, kata Hartono menegaskan.

Penulis : P. Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *