Home Berita Terbaru DINILAI KURANG SERIUS PENANGANANNYA, BUIH BUSA MENUTUPI SUNGAI BEKASI

DINILAI KURANG SERIUS PENANGANANNYA, BUIH BUSA MENUTUPI SUNGAI BEKASI

209
0

KOTA BEKASI, MEDIATRANSPARANCY.COM – Pencemaran sungai bisa di sebabkan oleh Limbah rumah tangga dan industri yang mencemari sungai-sungai di Bekasi, asumsi saya munculnya busa tersebut akibat limbah Domestik dan Industri, Kandungan detergen di sungai dalam prosesnya mengendap di dasar sungai teraduk saat sungai berarus deras (hujan atau saat pintu air dibuka) lalu timbul busa di permukaannya, Tapi hal ini perlu di telusuri lebih dalam dan ada hasil Labotarium pendukung yang menyatakan pencemaran itu benar di dominasi oleh limbah deterjen.

 

Demikian yang dikatakan Puput TD Putra, Direktur Eksekutif Kawal Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (KAWALI) ketika memberikan keterangan kepada awak media di Jakarta, Kamis (24/5/2018)

Dalam pemaparannya Puput juga menguatirkan bahwa hal tersebut dapat disebabkan oleh hal yang lainnya. “Misalnya ada dugaan pembuangan limbah secara diam-diam yang dilakukan oleh oknum perusaahan atau di sekitar lokasi sungai tersebut ada industri yang dengan sengaja membuang limbahnya ke sungai? Untuk memastikan hal tersebut perlu semua di telusuri dengan sangat serius dan benar agar kejadian hal-hal seperti ini tidak sering terulang kembali,” tuturnya.

“Menurut kami salah satu solusinya harus ada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di titik-titik pemukiman warga dan Industri agar air limbah dapat ditampung terlebih dahulu di IPAL sebelum dialiri ke sungai. Dengan IPAL, limbah diproses terlebih dahulu sebelum masuk ke Daerah Aliran Sungai (DAS),” ujar Puput.

Satu unit IPAL komunal membutuhkan lahan kurang lebih minimal 100 meter persegi dan Pemerintah biasanya terkendala faktor lahan.

 

Dan dalam hal pencemaran ini, pemerintah juga harus tegas menjalankan peraturan khususnya di bidang lingkungan hidup, bila di temukan ada kesengajaan dalam pencemaran ini, maka harus diterapkan tindakan tegas oleh aparat terkait terhadap perusahaan yang membuang limbahnya ke sungai.

Limbah domestik sebagian besar mengandung detergen dari pencucian perabot dapur, kendaraan, atau air sabun dari kamar mandi kondisi seperti itu hampir terjadi di semua sungai di Indonesia, tetapi tingkat pencemaran paling tinggi terjadi di hilir sungai, makanya sering terjadi ledakan alga/planton, karena limbah deterjen ini mengandung fosfat yang kemudian menjadi gizi untuk dikonsumsi oleh Alga gangang.

 

Dan menurut Puput TD Putra, yang juga merupakan Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Pencemaran limbah jelas membahayakan populasi ikan di sungai dan bisa mematikan mangrove di Pesisir Pantai bila hal ini di biarkan terus-menerus pada umumnya.

“Terbuangnya limbah deterjen ke sungai menyebabkan peningkatannya kandungan fosfat yang terkandung di dalam sungai dan menyebabkan meningkatnya beberapa spesies ganggang sehingga oksigen yang ada di dalam air akan berkurang dengan pesat Alga tersebut serta menyebabkan kematian bagi ikan- ikan yang ada didalam sungai tersebut di karenakan berebut Oksigen, dengan peningkatan kandungan fosfat dalam air sungai dapat menyebabkan masalah yang disebut eutrofikasi, yaitu masalah lingkungan yang disebabkan oleh limbah fosfat khususnya yang terjadi pada ekosistem air tawar,” paparnya.

Eutrofikasi sebenarnya merupakan kejadian alami, lanjut Puput yang dimana ekosistem air tawar mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa dan semakin banyak aktivitas manusia maka proses alami ini berjalan lebih cepat dari seharusnya sehingga terjadinya peristiwa Alga Bloom yang biasa terjadi di muara laut.

 

“Pesatnya pertumbuhan berukuran mikro akibat meningkatnya ketersediaan fosfat bisa menyebabkan degradasi kualitas air, Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air,” ungkapnya.

KAWALI menghimbau kepada pemerintah dan para stake holder terkait hal ini untuk menyikapi terjadinya pencemaran yang sudah sering terulang di Sungai Bekasi ini, KAWALI dan warga terdampak berharap pemerintah daerah dan pihak terkait agar segera menindak tegas dan memberikan sangsi kepada perusahaan pelaku pencemaran lingkungan tersebut.

Dampak pencemaran ini tentunya merusak kondisi ekosistem lingkungan, sebagaimana tertuang dalam UU RI Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Selain, Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 20 tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air.

PP RI Nomor 18 tahun 1999 tentang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
PP RI Nomor 19 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara dan/atau perusakan laut, serta
PP RI Nomor 27 tahun 1999 tentang amdal

Tegakan Peraturan dan berikan sangsi tegas kepada pelaku pencemaran lingkungan berdasarkan pasal 90 ayat (1) UU Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah berwenang meminta ganti rugi pada perusahaan pelaku pencemaran.

Merujuk Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 13 tahun 2011, nilai ganti rugi itu dapat dihitung dari akumulasi biaya pemulihan lingkungan, karena adanya kerugian ekosistem, serta kerugian masyarakat terdampak, terutama atas asset dan kesehatan pribadi masyarakat terdampak.(red)

 

 

Reporter : Ach Zark
Editor   : Ahmad Z

 

alterntif text

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here