banner 728x250

Dugaan Kasus Penyekapan Risda Sigalingging, Bungaran: Perampasan Kemerdekaan Orang Pelanggaran Berat

  • Share

SAMOSIR, MEDIA TRANSPARANCY – Perampasan kemerdekaan seseorang adalah sebuah Pelanggaran Berat. Hal ini diatur dalam Pasal 333 ayat (1) menyatakan, barang siapa dengan sengaja menahan (merampas kemerdekaan) orang atau meneruskan tahanan itu dengan melawan hak, dihukum penjara selama-lamanya 8 Tahun. Demikian ditegaskan Praktisi Hukum Bungaran Sitanggang SH.MH. Minggu, ( 21/3/2021 ), kepada Awak Media.

Ket Foto: Bungaran Sitanggang SH.MH. Praktisi Hukum

“Dimana Hukuman yang ditentukan dalam pasal ini diberlakukan  juga kepada orang yang sengaja memberi tempat untuk menahan”.Ujarnya.

judul gambar

Dikatakan, Perkara dugaan tindak pidana merampas kemerdekaan yang dialami saudari Risda br Sigalingging (20) dengan Laporan dugaan perampasan kemerdekaan itu telah dilapor di Polres Pangururan September 2020 lalu. Dengan Nomor: STPL/166/IX/2020/SMR.

Menurut kajian  Perkara dugaan perampasan kemerdekaan ini sesungguhnya adalah perkara yang pembuktiannya tidak sulit. Unsur-unsur dalam gelar perkara ini iyalah, “Menahan orang dapat dijalankan dengan mengurung dalam kamar,  Rumah, mengikat dan lainnya.  Akan tetapi tidak perlu bahwa orang itu tidak dapat bergerak sama sekali, disuruh tinggal dalam suatu Rumah yang luas, tetapi bila dijaga dan dibatasi kebebasan hidupnya juga masuk arti kata menahan, ”Ujarnya menjelaskan.

Mengacu pada unsur-unsur Pasal 333 ayat (1) diatas sesungguhnya perkara ini sudah masuk tingkat penyidikan dengan menentukan tersangka.

“Kalau kita kutip cerita kronologis dari laporan saudari, Risda Sigalingging, dia dikurung dalam kamar dengan membatasi pergerakannya termasuk menyita telepon selulernya, Ijasah, Sepeda motor miliknya. Sehingga tidak dapat berhubungan dengan pihak keluarga, yang ironisnya, bahkan ketika sakit sekali pun, orang tuanya yang hendak membawa ke Dokter tidak diperbolehkan hingga akhirnya orang pihak medis harus  didatangkan ke tempat Rumah dimana Risda dikurung.

“Jika fakta ini memang benar, maka Penyidik Polres Pangururan tidak sulit lagi merumuskan perkara ini. Secara yuridis formal sebagaimana dimaksud dalam rumusan pasal ini sudah dapat ditingkatkan.

“Bukankah dikurung dalam suatu rumah tertentu dengan mengekangnya termasuk tidak dapat keluar dan atau berhubungan dengan keluarga tidak perampasan kemerdekaan”?

“Komnas HAM dan khususnya Komisi Perlindungan Anak harus turun tangan terkait kasus ini tanpa menunggu laporan dari korban. Penyidik pun mestinya proaktif untuk menuntaskan perkara ini sehingga ada kepastian hukum dan keadilan dapat dijalankan.

Sebelumya, Risda Sigalingging (20) Korban Penganiayan yang dilakoni oknum bekas tokenya hingga kini masih trauma panjang, tubuhnya tampak kurus.

“Menurut pengakuannya, sempat mengalami penyekapan yang lebih kurang dua minggu diruangan gelap, untung ada puluhan orang awak media mendatangi pengusaha panglong tersebut sehingga dapat meloloskan aksi penyekapan yang terjadi pada dirinya.

BACA JUGA: https://www.mediatransparancy.com/polres-samosir-diminta-tindak-lanjuti-laporan-pengaduan-penyekapan-risda-sigalingging/

“Saya ditampar, dilempar mancis dan dikurung dalam ruangan selama dua minggu, tolonglah saya pak Kapolres supaya kasus hukum saya berlanjut,” Tutur Risda memohon dab menceritakan kronologis pada saat  kejadian yang dialaminya.

Akibat aksi penyekapan yang dialaminya, dia bersama keluarga telah membuat pengaduan ke Polres Samosir pada tanggal 26 September 2020 lalu.

Penulis: Hataoguan Sitanggang
judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *