Home Berita Terbaru FESTIVAL DAN PAMERAN BURUNG BERKICAU ‘ROAD TO RADJA CUP’ SE-INDONESIA

FESTIVAL DAN PAMERAN BURUNG BERKICAU ‘ROAD TO RADJA CUP’ SE-INDONESIA

260
0
JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Kegiatan lomba ataupun festival burung berkicau, selain penangkaran dapat menekan angka pengangguran di Indonesia. Janganlah diusik dari hobi orang-orang yang ada mantan narkoba yang telah merubah perilaku dan profesi lain-lain semuanya menggantungkan nasibnya di sini.
 
Maka apa jadinya nanti, kalau hal ini diusik dengan peraturan LHK Permen Nomor 20 Tahun 2018, disinyalir akan hilang mereka dan mungkin akan kembali lagi ke pekerjaan yang semula kemarin yang dialami negatif kayak gitu apa artinya hidup. 
 
Setelah jalani proses bagus-bagus breaking free kick dalam Kita. Seperti diketahui beberapa jenis burung kan sudah ada yang punah, habitatnya sudah sedikit. Tapi kami coba kembangkan di rumah-rumah walaupun masih belum merata bahwa penelitian yang dari menteri LHK hanya melalui rekomendasi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) itupun setelah bertemu kami hanya sekali.
Demikian yang dikatakan Prio Sutrisno dari Forum Komunitas Kicau Mania Indonesia saat mengelar Festival dan Pameran Burung Berkicau ‘Road To Radja Cup’ di Bumi Perkemahan Ragunan Jalan RM. Harsono Nomor 1, Ragunan – Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada, Minggu (12/8/2018).
 
Prio juga memaparkan bahwa akan ada aksi turun ke jalan dalam hal menyikapi Peraturan Menteri (Permen 20/2018) tersebut. “Dari mimpi saya jam 03.00 WIB sudah saratnya, ya harus bekerjasama dengan kita ayo kita turun (ke jalan) bareng-bareng itu kita dasar kuat kok pak, sudah datang semuanya sudah lengkap tinggal Ayo kita laksanakan, jika negoisasi gagal dan tidak ada titik temu,” ujarnya.
 
Dalam pemaparannya Prio juga mengungkapkan bahwa Kicau Mania pada hari ini masih mempertontonkan hobby para pecinta burung se -Indonesia akan habitat burung dan masih terus melestarikan satwa burung.

“Kami menggerakkan ekonomi kerakyatan, bukan hanya sekedar menyalurkan hobi. Yang dimana komunitas kami telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan,” pungkasnya.

 
Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Forum, Boy BNR Indonesia yakni burung Murai merupakan dapat dikategorikan masuk ranah yang dilindungi pemerintah dan ini akan menjadi masalah nanti kedepannya bagi komunitas pecinta Murai.
“Sekarang namanya hukum kalau namanya satwa yang dilindungi, sangsi pidananya ya di penjara 5 tahun dengan Denda mencapai Rp 100 juta. Dan kalau Murai Batu yang dimaksud dilindungi, malah penangkarannya (penangkar) itu yang merasakan dampak dari Permen LHK tersebut,” katanya.
Boy BNR Indonesia dalam pemaparannya juga mengungkapkan, bahwa pihaknya dengan didukung para komunitas besar se-Indonesia akan terus berjuang hingga dibatalkannya Permen LHK yang telah mengungkung para penangkar, yaitu melalui peraturan-peraturan dadakan. “Para komunitas di sini rangkanya aja kita akan adu argumentasi, baik dengan LIPI atau lembaga lainnya. Dan kita bisa lihat disini, hutannya aja juga nggak ada bagi burung. Para penangkar juga dituntut untuk melepaskan 10 persen hasil tangkapannya ke hutan, padahal kami belum tahu hutan mana yang ditunjuk,” ungkap Boy kepada para awak media.
“Dan sejak 11 Juli 2018 kami diusik oleh Pemerintah dengan dikeluarkannya PERMEN LHK Nomor 20 Tahun 2018, yang
dimana disebutkan bahwa Murai batu termasuk satwa burung yang dilindungi Pemerintah, hal ini menyebabkan para penangkar pecinta burung resah, dan pasti akan terjerat dengan pidana hukuman denda serta kurungan badan tersebut,” ulasnya.
“Berikan kami ketenangan dalam menyalurkan hobby kami, dan juga berikan kebebasan dalam melestarikan satwa burung. Jenis satwa burung yang dilindungi ada juga Jalak Suren dan Manis kembang. Padahal para penangkar telah membangun populasi ke tiga jenis burung ini, hingga jumlahnya telah mencapai jutaan ekor,” papar Boy.

“Dulu awalnya pernah Kami diajak LIPI bagaimana tata cara lomba burung dan pengkategorian satwa burung yang ditangkar. Itupun sudah lama. Kami hanya sekedar memberikan informasi dengan menyebutkan ke 3 burung yaitu murai batu, jalak suren dan Manis kembang waktu itu. Dasar itulah kami duga mungkin yang membuat timbulnya PERMEN KLH Nomor 20 Tahun 2018 ini,” sesalnya.

“Jika aksi kami nanti belum ditanggapi dan tidak diakomodir kami akan buat uji materi ke MK. Biar terdata, harusnya kami di panggil, ditanya apapun kami akan jawab, karena solidaritas kita kompak turun bareng-bareng,” tandasnya.

Sementara itu, dalam kegiatan lomba yang digelar kali ini telah diikuti oleh sekitar 9 organisasi komunitas burung se-nusantara. Adapun burung yang dilombakan ada 19 jenis lebih dan burung yang dilombakan berdasarkan suara dan kicau merdu serta senada irama lagu.
Reporter : Ach Zark
Editor   : Ahmad Z
alterntif text

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here