Home PARIWISATA Gunung Padang, Bukti Indonesia Pusat Peradaban Dunia?

Gunung Padang, Bukti Indonesia Pusat Peradaban Dunia?

295
0

Gunung Padang, mendengar namanya pertama kali penulis mengira itu nama sebuah Gunung di kota Padang, Sumatra Barat. Ternyata bukan! Gunung Padang adalah sebuah lokasi bukit kecil di selatan Cianjur. Penulis merasa senang, ketika dihubungi sebuah penerbit untuk menulis buku Gunung Padang. Penulis pun berkoordinasi dengan Dr Ali Akbar, seorang arkeolog UI yang menjadi ketua tim peneliti Gunung Padang yang ditunjuk oleh staf ahli kepresidenan masa pemerintahan SBY tahun 2013 silam. Banyak temuan mencengangkan yang didapat dari situs megalitik Gunung Padang.

Masyarakat tiba-tiba tersentak dengan hasil temuan Tim Katastropik Purba yang meneliti situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat pada tahun 2011. Benarkah di Gunung Padang pernah terdapat peradaban yang sangat tinggi pada tahun 11.600 Sebelum Masehi (SM) ? Bukti-bukti yang ditemukan baik oleh tim Katatrospik Purba maupun Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) secara ilmiah mengindikasikan sesuatu yang dahsyat dibalik kesahajaan Gunung Padang. Misteri yang luar biasa yang dimiliki bukit di perbatasan Cianjur –Sukabumi perlahan namun pasti mulai tersingkap.

Sesuai hasil tes Laboratorium Beta Analytic Miami, Florida, Amerika Serikat merilis usia bangunan bawah permukaan Gunung Padang usianya mencapai 11.600 SM? Tentu hasil uji ilmiah ini akan selalu ditanggapi berbagai macam. Ada yang merespon dengan logis dan ilmiah, ada yang berhati-hati namun tak sedikit yang meragukan atau pun membantahnya. Namun lambat laun tabir Gunung Padang akan segera terungkap. Dalam buku ini akan dikupas secara detail temuan ilmiah yang sebagian belum dipublikasikan di media massa tanah air.

Penemuan situs Gunung Padang itu terbilang mencengangkan, karena berdasarkan penelitian, masyarakat Indonesia dapat dikatakan sebagai masyarakat beradab saat mengenal huruf pada sekitar tahun 400 Masehi? Pada belasan ribu tahun yang lalu bukti-bukti arkeologi di Indonesia lebih banyak menunjukkan bahwa manusia masih merupakan mahluk prasejarah yang hidup di zaman batu dengan peralatan dari batu untuk berburu. Masyarakat pemburu bukanlah masyarakat yang berperadaban tinggi.

Misteri Atlantis

Hasil temuan di Gunung Padang juga mengagetkan masyarakat yang percaya terhadap adanya peradaban Atlantis. Atlantis menurut Plato yang lahir tahun 427 SM adalah peradaban tinggi yang kaya raya namun terkena bencana sehingga akhirnya tenggelam atau musnah. Bahkan lokasi Atlantis sampai saat ini menjadi misteri dan masih dicari oleh berbagai pihak. Masyarakat di Indonesia yang percaya terhadap Atlantis ini umumnya telah membaca buku karya Santos yang merujuk Indonesia sebagai pusat peradaban dunia. Arysio Santos, ahli geologi dan fisikawan nuklir, dalam bukunya yang berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found (2010) menyatakan:

“Pertama adalah Atlantis Lemuria yang sebenarnya (Ibu yang Perawan) yang terletak di Indonesia dan dihancurkan oleh bencana Toba pada 75 ribu tahun yang lalu. Kedua adalah Atlantis yang sebenarnya (Putra) dihancurkan oleh letusan Krakatau pada 11.600 tahun lalu di akhir Zaman Es Pleistosen (Santos, 2010: 99).

Sementara itu, terdapat pula ilmuwan yakni Prof. Dr. Stephen Oppenheimer yang menulis buku Eden in the East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara (2010). Berdasarkan buku tersebut dan melalui wawancara langsung dengan penulis saat bertemu di Jakarta dan Bali pada tahun 2012, Oppenheimer menyatakan bahwa Sundaland merupakan tempat peradaban masyarakat Nusantara yang kini telah tenggelam. Peristiwa banjir besar yang terjadi berkali-kali pada 14.500, 11.500, dan 8.400 tahun yang lalu telah membuat peradaban masyarakat Sundaland punah.

Angka-angka belasan ribu tahun lalu tersebut, secara geologi terjadi pada Zaman Es (Glasial) dan Zaman Antar-Es (Interglasial). Pada saat es mencair, maka permukaan air laut naik dan bahkan pernah mencapai kenaikan air hingga 120 meter, sehingga dataran rendah pun tenggelam. Beberapa ahli menduga peristiwa yang disebut sebagai mitos atau kisah banjir besar, sebenarnya secara geologi merupakan peristiwa kenaikan permukaan air laut akibat suhu di bumi memanas. Patut diduga, beberapa peradaban di dataran rendah menjadi tenggelam dan musnah, lalu ribuan tahun kemudian akhirnya hanya menjadi dongeng karena tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada masa lalu.

Pada dasarnya Oppenheimer menyatakan peradaban berasal dari Sundaland (termasuk Sumatera, Kalimantan, dan Jawa), kemudian peradaban ini tenggelam, namun masyarakatnya sempat menyebar lalu membentuk peradaban-peradaban lain di muka bumi. Pendapat ini berbeda dengan pendapat para ahli sebelumnya, katakanlah Robert von Heine Geldern (1945) dan Roger Duff (1970) yang menyatakan kebudayaan di Indonesia merupakan hasil migrasi dari penduduk di Asia Daratan dalam hal ini Cina melalui Semenanjung Malaka lalu masuk ke Sumatera dan seterusnya.

Sementara itu terdapat pula pendapat dari Peter Bellwood seorang pakar arkeologi yang secara umum menyatakan telah terjadi penyebaran kebudayaan dari Taiwan melalui Filipina kemudian sampai di Sulawesi dan seterusnya (out of Taiwan). Hasil riset panjang dari Bellwood yang membahas hal tersebut antara lain terdapat pada buku Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia (2000).

Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Mesir

Laboratoium Beta Analytic Miami, Florida, Amerika Serikat pada tahun 2012 merilis usia bangunan bawah permukaan Gunung Padang. Hasilnya sangat mengejutkan. Umur lapisan dari kedalaman sekitar 5-12 meter pada Bor 2 mencapai 14.500–25.000 SM atau lebih tua dari umur tersebut. Bahkan, usia tersebut lebih tua dibandingkan dari Piramida Giza di Mesir yang berumur 2.560 SM.

Hasil ini konsisten dan memperkuat hasil uji karbon dating laboratorium Batan, yang dengan metoda LSC C14 dari material paleosoil di kedalaman -4 meter pada lokasi bor coring 1, usia material paleosoil menunjukkan 5500 +130 tahun SM(sebelum Masehi) yang lalu.

Sementara itu, pengujian material pasir di kedalaman -8 sampai dengan -10 meter pada lokasi coring bor 2 adalah 11000 + 150 tahun SM yang lalu. Menurut Budiono Ontowirjo, anggota Tim Terpadu Riset Mandiri. Fakta pengukurannya memiliki akurasi yang sangat penting. Di Batan hanya sampel lebih banyak, ketepatannya tidak perlu diragukan lagi, apalagi jika sampelnya lebih banyak.

Budiono mengatakan sampel yang diambil Batan saat itu mencapai 200 gram, sedangkan di laboratorium Miami, yang menghasilkan hasil akurat, cukup mengambil 3 gram dengan materi yang sama diuji di laboratorium Batan. Sebagaimana diketahui, laboratorium internasional di Miami tersebut kerap menjadi rujukan berbagai riset dunia terutama terkait uji karbon (carbon dating).

Dengan demikian, hasil uji laboratorium Batan dan Beta Analytic Miami, Florida tersebut menjawab keraguan banyak pihak atas uji sampel laboratorium Batan. Sebelumnya, tim riset terpadu mandiri telah melakukan uji terkait usia Gunung Padang di laboratorium Batan, namun tidak banyak respons positif, bahkan beberapa pihak meragukannya.

Luas Gunung Padang 10 Kali Borobudur

Penemuan penting dalam penelitian ini menunjukan bahwa bangunan Gunung Padang memiliki luas 15 hektar. Ini termasuk bangunan yang luas sekali, karena Borobudur saja luasnya hanya 1,5 hektar. Tim peneliti sangat takjub mengetahui kondisi ini, sebab jika dipugar maka luasnya 10 kali lipat dari Borobudur.

Borobudur ditemukan kembali setelah selama delapan abad dilupakan orang, terlantar, dan terpendam di dalam tanah, dan pada waktu ditemukan kembali keadaannya sangat menyedihkan (Soediman, 1980: 103). Terlepas dari berbagai kontroversinya, Raffles berjasa menghadirkan kembali Candi Borobudur yang telah menghilang selama sekitar 800 tahun!

Kesimpulan, belajar dari Borobudur yang didirikan pada 800 M lalu digunakan selama 200 tahun, setelah itu tidak ada beritanya. Banyak arkeolog yang mengatakan Borobudur tidak digunakan karena kerajaan pindah ke Jawa Timur, lalu terpendam tanah. Kalau melihat Borobudur dulu ketika masih tertutup tanah maka kondisinya seperti Gunung Padang saat ini. Gunung Padang akan menunjukkan kemegahannya kalau dipugar atau diretorasi. Maka peneliti merekomendasikan agar situs Gunung Padang dipugar sehingga menjadi obyek wisata dengan berbagai sarana dan prasarana termasuk museum sehingga bermanfaat bagi masyarakat.

Situs Gunung Padang ditetapkan pemerintah sebagai Benda Cagar Budaya. Mulai sekitar akhir tahun 1990-an, Gunung Padang menjadi lokasi yang dikunjungi masyarakat umum untuk berwisata. Meski demikian, situs ini termasuk sepi pengunjung. Menurut catatan, Pengunjung rata-rata sebelum riset Tim Katatrospik atau sebelum tahun 2011 sekitar 2000 orang per bulan. Namun, setelah pemberitaan media atau setelah tim Katatrospik melakukan penelitian jumlah pengunjung naik pesat menjadi rata-rata 8000 orang per bulan. Bahkan sekarang ini dengan makin santernya berita tentang Gunung Padang maka pada hari libur pengunjung bisa mencapai 10-15 ribu orang sehari.
(Dudun Parwanto, Penulis Buku “Situs Gunung Padang”)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here