Home NASIONAL Kadis Pedidikan DKI Jakarta, Diduga Terima Suap Korupsi BOP dan BOS SMAN...

Kadis Pedidikan DKI Jakarta, Diduga Terima Suap Korupsi BOP dan BOS SMAN 18

524
0
Foto : SMA Negeri 18 Jakarta.

Jakarta, Mediatransparancy.com – Kejadian yang tersinyalir adanya penyalahgunaan dana BOS dan BOP yang di lakukan oleh oknum Kepala Sekolah Abdul Gani SMAN 18 Jakarta Utara selama dirinya duduk menjabat sebagai Kepala Sekolah tersebut.

Selain Kepala sekolah tersebut yang telah menyalahgunakan BOS dan BOP, diketahui pula ada penindakan mutasi anak sekolah yang terjadi pada bulan Januari lalu dengan meminta dana kepada orang tua murid mutasi sebesar 2 juta hingga 5 juta rupiah tarif mutasi anak sekolah dari sekolah swasta pindah ke SMAN 18.

Adapun masalah tersebut sudah sangat sistematis, terstruktur, dan masif. Saya berikan masalah dan sekaligus usulan investigasinya kepada Team bapak. Adapun masalah tersebut adalah sbb :

1. Adanya dugaan pelaporan fiktif SPJ yang dilakukan oleh pihak Sekolah, yang disinyalir diketahui oleh pejabat Sudin. (Ini hampir terjadi di semua Sekolah Negeri, cara investigasinya adalah dengan mengambil laporan SPJ sebuah Sekolah, sebagai sample, yaitu SMAN 18, kemudian konfrontir dengan guru-guru yang dimana dalam laporan tsb mengadakan pengeluaran anggaran untuk kebutuhan Guru tersebut, seperti Guru IPA, Guru Penjas, dll, utk lebih akuratnya, silakan dikonfrontir dengan guru-guru yg dimutasi keluar sekolah lama).

2. Adanya dugaan keterlibatan pihak inspektorat di dalam penyusunan dan pelaporan Anggaran (RKAS), baik tingkat Provinsi maupun Kotamadya (cara investigasinya adalah: untuk beberapa SMAN seperti 18, 45, 89, 34, dll, jika rekanan pengadaan utk ATK Sekolah difasilitasi oleh satu CV/PT yang mengatasnamakan CV.Mugni Jaya, maka diduga ada “oknum” inspektorat Jakut yang “bermain di dalam negoisasi tersebut, dengan beberapa intimidasi tentunya ke Kepsek tersebut.

3. Adanya pengalihan tugas-tugas tupoksi yang tidak sesuai dengan juknisnya, misalnya untuk sample, yaitu di SMAN 18, ada 2 Guru yang terlibat dan menjadi ” playmaker’ dalam pembuatan SPJ sekolah, dengan meninggalkan tugas utamanya sebagai guru.

4. Adanya pengangkatan pegawai yang tidak sesuai dangan Pergub yang baru-baru ini tentang pengangkatan tenaga honorer, semisalnya: ada karyawan di SMAN 18 yang dipaksakan untuk memback-up pelaporan SPJ padahal secara umur telah melebihi dari usia 58 tahun.

5. Diduga adanya upaya sistematis dan tidak terlacak dalam hal pencucian uang, dimana, Kepsek memerintahkan wakil utk transfer sejumlah uang ke rekening beliau sehingga dengan demikian seolah-olah seperti urusan pribadi (silakan konfrontir seorang wakasek Sarpras dari SMAN 15 yang dimutasi ke SMAN 18).

6. Penggunaan Dana BOS yang cenderung menguntungkan pihak Kepsek dan kroni-kroninya, dengan menggandeng Penerbit buku, yang memberi komisi sejumalah persen, minimal 30%.

7. Adanya proses pembiaran dari Pejabat Sudin JU1, dimana Kepsek SMAN 18 memungut sejumlah uang kepada Orang tua siswa pada saat mutasi siswa pada Januari lalu. Pembiaran tersebut sangat tidak sejalan dengan visi bapak Gubernur DKI Jakarta untuk memberantas pungutan liar.

8. Proses mutasi/redistribusi yang dirasakan tidak berkeadilan karena Guru yang tidak sejalan dengan Kepsek rata-rata dipindahkan.

9. Guru-guru Negeri DKI sebenarnya mau membuka kedok ini tapi cenderung tidak berani, dan mereka menjadi korban.

10. Masih banyak lagi, yang saya ingin bongkar sebenarnya. Mohon sekiranya supaya Kadinas lebih “sangar” supaya di kemudian Hari tidak terjadi lagi.

11. Adanya pengaduan dari siswa siswi baik kelas 2 IPA 1 dan 2 IPS di SMAN 18, dimana setiap ruangan kelas dirasakan panas karena kurangnya alat bantu seperti AC dan Kipas Angin dan itupun tidak di perhatikan oleh Kepsek. Sehingga para siswa siswi harus melakukan patungan mulai Rp.20.000 per anak sedangkan siswanya per kelas ada sekitar 35 siswa.

12. Tidak adanya perhatian ekskul oleh pihak sekolah terutama bidang futsal sehingga mereka harus kembali melakukan patungan untuk membeli seragam futsal seharga Rp.100.000 – Rp.150.000 dan juga apa bila ada pertandingan pun mereka harus mengeluarkan biaya sendiri baik transportasi maupun komsumsi padahal mengatasnamakan pihak sekolah.

13. Dan di perlu di ketahui bahwa saat ini pihak sekolah malah menggunakan dana BOS hanya untuk perbaikan lantai keramik kantin yang di duga adanya permainan oleh pihak PT/CV Mugni Jaya yang berkongkalikong dengan pejabat pemerintahan bagian Inspektorat Jakut.

Semua ketiga belasan aduan tersebut diberikan oleh beberapa nara sumber terkait dengan kinerja kepsek, Sudin dan juga seorang pejabat Inspektorat Jakut.

Hal tersebut hingga saat ini Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Sopan Adrianto ketika di hubungi Via HP maupun di SMS hingga saat ini tidak dapat menjawab dan di duga telah menerima suap dalam kasus korupsi dana BOS dan BOP di SMAN 18.

Penulis: Aloysius Tedi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here