banner 728x250

Kampung Ulos Salah Satu Objek Wisata di Samosir

  • Share

SAMOSIR, MEDIATRANSPARANCY – Kepala Desa Lumban Suhi Toruan, Raja Sondang Simarmata sangat berterimakasih kepada Pemerintah Pusat secara khusus kepada Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat), yang telah membangun dan merevitalisasi Kampung Ulos Hutaraja Pardamean, Dusun II di Desa Lumban Suhi Toruan Kecamatan Pangururan dan Huta Sialagan Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara.

“Appresiasi yang sangat tinggi kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo telah memberikan perhatiannya untuk membangun desa kami ini, kami akan menjaga dan merawat tempat ini dengan sebaik-baiknya,  “Ujarnya saat ditemui, Awak media Rabu.(31/3/2021) di Kampung Ulos.

judul gambar

Sebagai putra asli Lumban Suhi Toruan, Raja juga menjelaskan berbagai pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat di desanya yakni membangun ulang tujuh unit rumah dan menjadikannya Rumah Batak atau Rumah Bolon, kemudian merevitalisasi atap Rumah Bolon yang ada di Kampung Ulos sebanyak 20 unit dan mengganti atapnya dengan kayu Ulin asal Kalimantan.

Tidak berhenti disitu, pembangunan Coffe Shop di kawasan Kampung Ulos serta pembangunan toilet pariwisata berskala internasional hingga pembangunan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) dan pembangunan Galeri Ulos,  juga sedang dikerjakan dan dikebut di Kampung Ulos, yang semua pekerjaan dimulai pada awal November tahun 2020 lalu.

“Saya sangat yakin, Kampung Ulos ini akan menjadi icon baru pariwisata di Samosir, kedepan ulos-ulos yang diproduksi ditempat ini akan mendunia karena akan dibuat Galeri Ulos untuk melihat langsung ulos-ulos Batak itu, “Terangnya.

Saat disinggung soal kwalitas kayu-kayu yang digunakan dalam proyek itu, Raja memanggil pelaksana dan pengawas proyek dari PT. Betesda Mandiri, Adi Tambunan untuk menjelaskan secara teknis.

Ditempat yang sama,  Adi menyampaikan, semua proses pelaksanaan pembangunan di Kampung Ulos akan dikerjakan selama 270 hari kerja.  Terkait adanya informasi pemasangan kayu dalam proyek itu, Adi menjelaskan, kayu-kayu yang digunakan merupakan kayu-kayu Jior dan kayu sembarangan keras yang ada di Samosir.

Penggunaan kayu sembarang keras yang ada di Samosir itu harus melalui uji laboratorium untuk memastikan ketahanan kayu dan kebutuhan dalam proyek itu, sehingga jika kayu kayu itu tidak lulus uji laboratorium, maka kayu itupun tidak akan dipakai.

“Semuanya punya mekanisme,  kayu kayu lokal sembarang keras yang ada di Pulau Samosir ini, harus kami cek apakah cocok dengan spesifikasi yang dibutuhkan, jadi tidak benar informasi kami gunakan asal-asalan, semuanya jelas dan sesuai dengan spesifikasi teknisnya, “Kata Adi.

Saat disinggung soal keterlibatan Kepala Desa Lumban Suhi Toruan, Raja Sondang Simarmata soal pengadaan dalam proyek di Kampung Ulos, Adi menegaskan, Kepala Desa sangat berperan menjembatani semua persoalan di Kampung Ulos dengan pihak rekanan, mulai dari membongkar rumah penduduk hingga mencari informasi tentang keberadaan kayu kayu Jior milik masyarakat.

“Kami melihat kepala desanya sangat aktif dan sangat mendukung pembangunan ini. Malah kepala desanya ingin pembangunan ini dibuat dengan sangat baik karena ini kampung halamannya, dengan tujuan tempat ini menjadi tempat wisata yang bisa mensejahterakan masyarakat di Desa Lumban Suhi Toruan, “Jelasnya mengakhiri.

Terkait isu beredar bahwa beberapa Bulan  lalu, salah seorang warga di Kampung Ulos menyuruh membongkar kembali rumahnya yang ikut revitalisasi, karena diduga keras kayu Jenis Bintatar dipergunakan jadi bahan baku rumah tersebut, akhirnya pihak kontraktor membuka kembali dan mengganti kayu lain atau jenis sembarang keras.

Penulis: Hatoguan Sitanggang
Editor: Red

 

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *