banner 728x250

Kasus Kejahatan Anak Meningkat, Komnas PA Desak Pemerintah Kembali Terapkan Pembelajaran Tatap Muka

  • Share

KOTA CIREBON, MEDIA TRANSPARANCY – Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) menilai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sangat menimbulkan sisi negatif terhadap siswa. Hal tersebut yang mendesak sebagian pihak kepada pemerintah untuk terapkan kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Hal itu disampaikan Pembina Komnas PA Jawa Barat, Bima Sena saat menyampaikan materi di acara Coffee Morning yang digelar Komnas PA Cirebon Raya dan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon, Kamis (7/1) di salah satu hotel di Kota Cirebon.

judul gambar

Dikatakan Bima, selama pandemi dan PJJ diberlakukan, di tiga bulan pertama terpantau tidak ada kendala apapun terhadap anak-anak, karena anak-anak merasa Happy, setelah enam bulan, anak-anak terlihat jenuh, dan mulai muncul segi negatif.

Disisi lain kasus pandemi Covid-19 dan kebijakan PJJ di setiap daerah tidak sama, Bima mencontohkan di Kabupaten Sukabumi sekelompok ibu-ibu dan satu kecamatan demo meminta PTM diselenggarakan, dikarenakan di daerah tersebut masuk zona hijau.

“Selama satu tahun kemarin buat semua pihak harus berpikir termasuk kondisi orang tua juga, awal-awalnya mereka senang anak-anaknya belajar di rumah, mengurangi uang jajan lama kelamaan orang tua stres,” kata Bima.

Selain itu, kata Bima yang juga pengurus pusat Komnas PA, selama belajar di rumah sebutan lain dari PJJ ini, orang tua siswa harus memikirkan bagaimana menerapkan dan mengatur pola pendidikan anak di rumah.

“Jadi akhirnya orang tua siswa ini berantem sama guru, karena semua murid ingin dispesialkan, sedangkan gurunya harus menghadapi teknologi selama PJJ ini belum sangat maksimal,” ujar Bima.

Bima juga mengungkapkan kasus anak dimasa pandemi Covid-19 semakin meningkat, ini diakibatkan itensitas kegiatan anak menggunakan gadget yang sangat pasif.

Pasalnya, gadget yang digunakan anak atau siswa selama ini tidak digunakan sepenuhnya untuk pembelajaran, Bima menuturkan kasus anak selama pandemi lebih di dominasi kejahatan seksual.

“Hampir 52 persen pornografi awalnya lewat gadget, akhirnya terjadi sebab timbulnya pelecehan seksual, ini kondisi yang luar biasa, jadi gadget yang bermanfaat untuk PJJ ini disalahgunakan,” kata Bima.

Ditempat yang sama Ketua Komnas PA Cirebon Raya, Siti Nuryani mengakui kasus kejahatan terhadap anak selama satu tahun ke belakang semakin meningkat.

Menurut data Komnas PA Cirebon Raya selama di tahun 2020 kemarin, kasus kejahatan dan kekerasan terhadap anak mencapai 50 persen ini dan lebih didominasi kekerasan fisik, seksual dan psikis.

“Kasus ini meningkat selama pandemi Covid,-19 dan PJJ karena semua siswa dan orang tua ingi PTM kembali,”ujarnya.

Terkait rekomendasi PTM, kata Nuryani, dirinya tidak mengkerucutkan harus PTM atau tetap PJJ, akan tetap hasil survei yang dilakukannya semua masyarakat meminta PTM kembali.

“Kita liat dulu dari PTM atau PJJ ini ada positif dan negatif nya juga, kalau kita menggiring ke tatap muka otomatis harus dipersiapkan protokol kesehatan disetiap sekolahan, dan kami Komnas PA siap ikut mensosialisasikan ke sekolah-sekolah,” tandasnya.

Penulis: Yudi
judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *