banner 728x250

Kebijakan Pemerintah Buka Kran Investasi Miras Untuk Meningkatkan Devisa Negara Kenapa Ditolak?

  • Share

Jakarta, mediatransparancy.comKebijakan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan untuk membatalkan rencana pemerintah membuka kran investasi industri minuman keras beralkohol telah dipertimbangkan dengan berbagai faktor.

Bahwa kebijakan Jokowi tersebut tentu telah mempertimbangkan dengan penuh ke hatihatian dan sangat matang. Namun perlu dipahami, yang dicabut atau dianulir dalam keputusan kepala negara itu adalah peluang Investasi di Industri Minuman Keres (Miras). Hal itu dituangkan dalam peraturan turunan dari Undang Undang Cipta Kerja, yakni Perpres No.10 Tahun 2021, tentang Bidang Usaha Penanaman Modal sebagai Peluang Investasi Miras  yang tertuang dalam lampiran nomor urut 31, 32 dan 34 tentang minuman beralkohol.

judul gambar

Sebagaimana disampaikan Priyagus Widodo seorang Advokat di Jakarta, menanggapi pro dan kontra tentang keputusan pemerintah untuk membuka peluang penanaman modal asing dalam usaha bidang Miras. Keputusan dan kebijakan pemerintah yang nantinya akan mengikat masuknya pemodal investasi tidak perlu dan tidak relevan diperdebatkan.

Sebagai posisi yang pro kebijakan tetap boleh boleh saja dilaksanakan keputusan membuka kran investasi Miras tersebut sebab, jika mengacu pada bisnis Miras di tanah air, sebenarnya usaha industri Miras baik pabrikan maupun Home Industri sejak dari dahulu kala zaman bahola hingga saat ini sudah ada produksi Miras.

Seperti produksi Ciu Bekonang berasal dari Mojolaban, Sukoharjo Jawa Tengah. Arak Ciu dari Pontianak, Arak dan Brem yang di produksi di Bali, Minuman keras tradisional Sophia khas NTT (Nusa Tenggara Timur). Demikian juga nira, aren atau Tuak minuman tradisional suku Batak, semuanya itu tergolong dalam bahasa Miras. Sehingga, Miras atau minuman khas yang ada atau yang di produksi di setiap daerah atau Suku tidak akan punah walau ada Miras lain yang diproduksi secara permentasi atau pabrikan.

Oleh karena itu, keputusaan pemerintah untuk mendatangkan investasi di bidang usaha Miras tidak lah terlalu masalah dan tidak terlalu signifikan untuk mematikan usaha tradisional minuman daerah yang sudah ada sejak dahulu kala. Minuman tradisional yang di produksi diantara suku daerah di Indonesia tidak akan punah karena minuman daerah itu membawakan ciri khas tersendiri bagi konsumen masing masing daerah” kata Priyagus Widodo, 3/3/2021.

Menurut Priyagus, bagi yang kontra dengan kebijakan pemerintah tersebut mungkin membayangkan nantinya produksi industri besar-besaran yang telah menanamkan modalnya akan menimbulkan efek samping menjadi seakan-akan minum-minuman keras itu dilegalkan. Sebagai pemerintah yang maju dan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyatnya, semua yang ada di tanah air ini harus di legalkan, sekalipun itu Miras.

Seperti saat ini saja, berbagai macam jenis Miras sudah di legalkan. Tanpa menyebut merk dan jenisnya Indonesia merupakan negara pengimpor Miras yang diproduksi di luar negeri. Dimana Miras yang di Import itu bebas diperjual belikan di Mall dan Supermarket besar bahkan di warung pinggir jalan yang harganya mencapai jutaan rupiah dan puluhan rupiah. Sehingga dalam hal ini, mengapa harus diperdebatkan kebijakan dan keputusan pemerintah terkait dibukanya kran investasi Miras tersebut.

“Seharusnya masyarakat mendukung dan menyetujui di bukanya kran Investasi Miras tersebut untuk kebutuhan konsumsi di Negara kita. Dari pada terus menerus melakukan Impor yang hanya memperkaya Produsen Luar Negeri dan para importir, kan lebih baik memproduksi sendiri dan nantinya  menjadi pelaku ekspor untuk mendatangkan devisa negara.
Selain itu, usaha dalam negeri tersebut sudah jelas jelas menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit jumlahnya.

Dapat kita bayangkan atau gunakan logika, jika suatu Negara yang memproduksi senjata dan alat perang,  apakah untuk digunakan berperang di negaranya sendiri. Pasti hasil produksi tersebut di eksport dan di suplay ke negara negara lain yang membutuhkan atau bisa saja dibarter dengan komoditi yang lain. Demikian juga Miras jika diproduksi di negara kita pasti kebutuhannya akan di eksport juga.

Menurut Priyagus Widodo, dengan dianulirnya kebijakan pemerintah, yang dicabut itu adalah kran Investasinya, namun pabrik yang sudah ada tetap saja masih bisa berproduksi dengan omset terbatas sesuai perijinannya. Jika demikian mengapa tidak dikembangkan dan Investasi nya diperbanyak supaya devisa negara lebih bertambah, ucapnya menjelaskan.

Penulis : P. Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *