banner 728x250

Kejaksaan Negeri Jakarta Utara Tuntut Mati Tju Ang Pio Pemilik Shabu 25 Kg

  • Share

JAKARTA, MEDIA TRANSPARANCY – Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Kejari Jakut), menuntut terdakwa Tju Ang Pio alias Ampio Junaidi (39) warga Kepulauan Riau, dengan tuntutan pidana mati di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, (PN Jakut).

Jaksa penuntut umum Astri Rahmawaty dalam Requisitornya atau rencana tuntutannya menyebutkan, terdakwa yang sudah Narapidana itu, terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar hukum, memiliki menyimpan, menyuruh, mengekspor mengimpor barang yang dilarang Pemrrintah berupa Narkotika jenis Shabu Shabu sebanyak 25 Kg.

judul gambar

Terdakwa, bersama sama dengan terdakwa lain Edi dinyatakan Jaksa masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), Azhar bin Abdul Rahman, Suryani Saamad (Wanita), dan Khairul Umam, Rudi Daulay, melakukan permufakatan jahat memiliki menyimpan membawa Shabu tanpa hak dari yang berwajib, sehingga ditangkap aparat Satuan Narkotika Jakarta Utara, 16/12/2019.

Pada bulan Desember tahun 2019 lalu, terdakwa menyuruh Azhar untuk mengambil Narkotika di Pulau Guntung, Tembilaan, Kepulauan Riau. Terdakwa menyuruh Azhar berangkat ke Tanjung Batu menuju Guntung, Tembilaan menggunakan transportasi laut kapal Ferry. Terdakwa menyuruh Azhar ke Kecamatan Sungai Rumbai Tembilaan untuk membawa bungkusan Narkotika sebanyak 25 Kg yang sudah disediakan suruhan terdakwa.

Dihadapan majelis hakim pimpinan Tumpanuli Marbun, jaksa menyebutkan, setelah barang Shabu sudah dibawa Azhar lalu terdakwa menghubungi Rudi Daulay supaya mengurus transportasi Azhar dari Tembilaan ke Jakarta. Namun mobil bus yang dimaksud rusak dan harus ke bengkel. Lalu terdakwa menghubungi Edi lagi, dan Edi mengatakan nanti ada kawan Mr X yang akan mengurus Azhar menggunakan mobil truk menuju Jakarta.

Perbuatan terdakwa dinyatakan terbukti bersalah sebagaimana unsur barang siapa dan unsur memiliki, membawa menyuruh mengimpor, mengekspor sebagaimana dakwaan jaksa pasal 114 dan pasal 132, undang undang no 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Jaksa menyebut, terdakwa tidak mendukung program pemerintah tentang pemberantasan narkotika, sehingga patutlah dihukum sesuai perbuatannya. Dari diri terdakwa tidak ditemukan hal hal yang meringankan untuk itu dimohonkan pada majelis hakim supaya terdakwa dihukum pidana mati, kata jaksa.

Sementara dalam perkara tersebut, penasihat hukum terdakwa dari Posbantuan hukum (Posbantuan hukum ) Pengadilan Negeri Jakarta Utara, menyebutkan memohon kepada majelis hakim agar memberikan keringanan hukuman terhadap terdakwa. Dimana terkait hukuman mati bukanlah urusan jaksa namun merupakan wewenang dari Tuhannya sendiri, ujarnya, 25/11/2020.

Menanggapi pembelaan penasihat hukum terdakwa jaksa Yonart mengatakan tetap pada tuntutan. Mendengar hal itu, majelis hakim menegur Jaksa. Pa jaksa ini kan tuntutan mati, masa ditanggapi dengan lisan. ” Tanggapi saja dengan tertulis kita tunda satu minggu”, kata Tumpanuli Marbun.

Dalam perkara persekongkolan narkotika ini, sebelumnya ke empat terdakwa lainnya yakni Azhar bin Abdul Rahman, Khairul Umam, Rudi Daulay ketiganya dituntut hukuman seumur hidup. Kairul Umam di vonis seumur hidup dan tiga terdakwa lainnya divonis selama 20 tahun penjara. Sementara terdakwa Suryani Saamad (Wanita), dituntut pidan 20 tahun dan di vonis selama 18 tahun penjara.

Penulis : P. Sianturi
judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *