Home BERITA TERBARU KEMENKO PMK: 66 PERSEN KASUS DIFTERI TIDAK DIIMUNISASI

KEMENKO PMK: 66 PERSEN KASUS DIFTERI TIDAK DIIMUNISASI

256
0

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Wabah difteri sampai hari ini masih belum berlalu dan pemerintah berharap masyarakat terus waspada dengan mengenali gejala yang ditimbulkan oleh penyakit difteri serta melakukan imunisasi.

Saran itu disampaikan pemerintah karena 66 persen kasus difteri tidak diimunisasi. Ini artinya masih banyak masyarakat yang menolak vaksin, dan kesadaran mereka masih kurang. Adanya anggapan vaksin difteri tidak halal menjadi penyebab utama rendahnya pelaksanaan imunisasi.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) juga menghimbau masyarakat untuk terus berhati-hati dan terus mengikuti informasi tentang pencegahan dan penanganan serangan bakteri difteri ini.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, sampai pada medio Desember 2017 ada sekitar 11 provinsi yang melaporkan terjadinya kejadian luar biasa (KLB) difteri yakni Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Sampai hari ini kami terus berupaya menangani penyakit difteri tidak semakin meluas,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kemenko PMK, Sigit Priohutomo di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Senin (18/12/2017).

Sigit mengingatkan masyarakat untuk benar-benar mengukuti himbauan pemerintah melakukan imunisasi ulang secara massal dari umur tertua yang terkena penyakit tersebut. Laporan Kementeri Kesehatan menyebutkan banyak anak-anak berusia 5 tahun ke bawah terjangkit penyakit difteri. “Saya berharap sekali, masyarakat terus mengikuti prosedur yang telah diberikan,” tegas Sigit.

Difteri memiliki tanda-tanda seperti nyeri saat menelan, suara serak, sakit tenggorokan, sulit bernafas, tampak keputihan atau abu abu pada tenggorokan yang tidak mudah lepas dan mudah berdarah.

Sebagai pengawal kesehatan di Kemenko PMK, Sigit menjelaskan, persoalan selanjutnya yang muncul pada penyakit difteri yang dibiarkan adalah toksin (zat beracun) dari bakteri difteri ini akan merusak otot jantung, sel saraf, gagal napas, kelumpuhan saraf tepi, dan infeksi di jantung, sampai pada tahap kematian.

“Jangan ragu-ragu lagi untuk melakukan imunisasi pada anak, kita bersama-sama mencegah penyakit ini menyebar,” kata Sigit. (ES265)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here