Home DAERAH Komunikasi Sosial Adalah Sarana Terbaik Pendekatan Pada Masyarakat

Komunikasi Sosial Adalah Sarana Terbaik Pendekatan Pada Masyarakat

291
0
Ketua Leadham Internasional DPW Jateng Ibu Ir. Rismauli D. Sihotang, Sekretaris Iwan Krisnuryanto dan Kabiro Litbang Mulyanto meninjau salah satu Hutan Produksi dengan komoditi kayu Pinus dan Sono Keling mengisi lahan seluas 125 Hektar di Wilayah Kabupaten Karanganyar

KAB KARANGANYAR, TRANSPARANCY.COM – Hutan Bromo di Wilayah Kabupaten Karanganyar, adalah salah satu Hutan Produksi dengan komoditi kayu Pinus dan Sono Keling mengisi lahan seluas 125 Hektar. Ketika Ketua Leadham Internasional DPW Jateng Ibu Ir. Rismauli D. Sihotang, Sekretaris Iwan Krisnuryanto dan Kabiro Litbang Mulyanto menyempatkan mampir untuk melihat kawasan hutan yang dari luar nampak menarik perhatian untuk dilihat. Menyusuri jalan di tengah hutan hingga di ujungnya, di sekeliling kiri kanan jalan nampak pohon Pinus dan Sono Keling menghiasi indahnya hutan.

Rombongan singgah ke pos jaga depan dan diterima oleh KRPH Bapak Sujarwo dan Polhut teritorial Bapak Misdi. Leadham Internasional menanyakan banyak hal seputar fungsi hutan di kawasan tersebut, karena sepertinya bekas adanya lokasi wisata dan akses jalan yang rusak menandakan tidak lagi berfungsi sebagai area wisata. Pak Sujarwo Kepala/Mantri Hutan Resort Bromo menjelaskan, bahwa Hutan Produksi di area Bromo adalah milik Negara, Perhutani diberi wewenang untuk mengolah tanpa merubah fungsi. Pengembangan yang bersifat merubah fungsi tidak diperbolehkan. Dari seluas 125 Ha, hanya 1,5 yang diperuntukkan sebagai area wisata.

Produksi yang dihasilkan dari hutan ini adalah getah pinus dengan 65 gram per pohon, dalam satu tahun ditargetkan mampu menghasilkan 65 Ton getah. Getah pinus di ekspor ke luar negeri, karena dalam negeri telah tercukupi kebutuhannya. Getah pinus merupakan bahan baku dari Gondo rukem, benda solid yang digunakan untuk patri elektronik dan Terpentin.

Ditanyakan kepada beliau (Pak Jarwo), bagaimana menangani permasalahan tentang gangguan hutan dari pencuri, dan tentang kisah Nenek Aisah yang sempat menarik perhatian masyarakat karena terseret ke ranah hukum peradilan hanya karena mengambil kayu kategori kayu bakar. Menurut Pak Jarwo, yang mempermasalahkan Nenek Aisah adalah tindakan yang kelewatan, menandakan adanya indikasi kinerja yang tidak berhasil di kalangan masyarakat sekitar area hutan. Karena pengalaman Pak Jarwo sebagai Kepala Resort, cara beliau menjaga keamanan hutan dengan metode komsos, tehnik komunikasi sosial ini sangat menentukan, beliau menyatakan karakter orang Jawa itu matinya dipangku, seperti terdapat dalam filosofi huruf Jawa, artinya pendekatan yang baik kepada masyarakat disekitar area hutan tersebut, dengan ikut menghadiri acara hajatan maupun kematian meski tanpa diundang. Memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang adanya fungsi hutan yang bermanfaat bagi biota makluk hidup didalamnya maupun diluar, karena hutan berkontribusi besar menyerap CO2 dan memasok oksigen yang berguna bagi makluk hidup. Cara lain adalah memanfaatkan masyarakat sekitar kawasan hutan sebagai pengawas dan pelindung hutan. Dengan cara masyarakat yang nganggur dipekerjakan sebagai penyadap getah, keamanan, parkir wisata dll. Ini akan otomatis memberikan proteksi kepada hutan tersebut. Adanya hutan ini memberikan penghasilan yang lebih kepada penyadap getah. 1 bulan 2 kali panen, per orang mampu menyadap 12 drum atau 125 kg/drum, dengan jasa per kilogramnya Rp. 3500. Jadi rata-rata penyadap menerima upah 5 jutaan lebih.

Leadham bertanya kepada beliau, apakah selama ini ada yang ketahuan mencuri, dan bagaimana cara menangani?. Pak Jarwo mengiyakan, pernah ada yang mencuri getah pinus dari masyarakat luar, karena adanya pengepul gelap yang menerima. Ini memang harus diproses oleh pihak berwajib agar ketahuan dalang dan sebagai konsekwensi bagi pencuri yang orientasinya bisnis. Sedangkan kalau masyarakat sekitar, rata-rata hanya mengambil kayu bakar. Bila terlalu besar nilai yang diambil, beliau menangkap pelaku dan langkah menanganinya dengan melibatkan RT atau Lurah setempat untuk mengetahui bahwa warganya tertangkap tangan mencuri, bila RT maupun lurah sanggup memberikan arahan maka tanggung jawab dikembalikan kepada tokoh warga setempat.

Leadham memberikan apresiasi kepada Pak Jarwo dan anak buahnya dalam system tugas yang diterapkan, karena telah berhasil memberikan dampak positif bagi pekerjaannya, kelestarian hutan dan bagi masyarakat. Semoga ini menjadi contoh teladan bagi petugas yang lain agar mampu membangun imej positif bagi Polhut dan Institusinya. Leadham menanyakan apa harapan bapak ke depan, dan apa pesan yang pingin disampaikan melalui pihak ke tiga kepada pemerintah ?. Menurut Pak Jarwo, tentang kesejahteraan dari pemerintah yang didapatkannya selama ini telah cukup. harapan beliau hanya ingin, setidaknya personil dari intern Perhutani ditambah paling tidak 5 orang lagi untuk mengawasi 125 hektar. (Buletin Leadham)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here