Home BERITA TERBARU Mantan Pegawai BNN Penyimpan Shabu 3,7 Kg Divonis 14 Tahun Penjara

Mantan Pegawai BNN Penyimpan Shabu 3,7 Kg Divonis 14 Tahun Penjara

286
0

JAKARTA, MEDIA TRANSPARANCY – Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, pimpinan Sarwono didampingi hakim anggota Dodong dan Pontoh menghukum terdakwa Marko, mantan pegawai Badan Narkotika Nasional (BNN Pusat), selama 14 tahun penjara.

Selain hukuman penjara, Marko yang didakwa menyimpan barang terlarang Narkotika berupa Shabu sebanyak 3.780 gram itu, juga dihukum hakim untuk membayar denda 1 milliar rupiah. Apabila denda tidak dibayar maka hukumannya ditambah 6 bulan kurungan (Subsidair 6 bulan penjara), kata Hakim dalam vonis yang dibacakan Kamis 23/07/20.

Menurut hakim, majelis sependapat dengan pembuktian jaksa penuntut umum. Berdasarkan keterangan para saksi, barang bukti dan fakta yang terungkap dalam persidangan, bahwa perbuatan terdakwa telah terbukti bersalah secara sah meyakinkan melanggar hukum, sebagaimana dakwaan jaksa yang diancam dan diatur dalam undang undang Narkotika.

Dimana perbuatan tersebut diketahui setelah Marko di tangkap Satuan Narkoba Polda Metro Jaya di Apartemen Green Like Sunter, Jakarta Utara, sekitar bulan September 2019 lalu atas informasi masyarakat.

Atas penangkapan Marko, pengembangan penyidikan mengarah keterlibatan dua oknum anggota Polri yang ditugaskan di BNN, Abdul Muim dan Sumanto, sebagai pemasok Shabu kepada Marko.

Pembuktian dalam persidangan terungkap adanya bukti transferan uang dari Marko ke isteri Abdul Muim dan rekening Sumanto, sebagai hasil penjualan Shabu. “Sehingga dalam perkara ini antara ketiga terdakwa terjadi pemufakatan jahat dalam peredaran Narkotika”, kata Hakim dalam amar putusannya.

Hakim mengatakan, dari kedua terdakwa tidak ditemukan hal hal yang dapat meringankan. “Tidak mendukung program pemerintah tentang pemberantasan dan peredaran Narkotika, sehingga patutlah dihukum sesuai perbuatannya”, kata Hakim Dodong.

Sebelumnya majelis yang sama, telah memvonis kedua terdakwa anggota Polri Abdul Muim dan Sumanto selama 14 tahun penjara. Dalam perkara ini ketiganya terdakwa dihukum dengan putusan yang sama.

Usai pembacaan putusan, penasihat hukum terdakwa langsung menyatakan sikap banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta sebagai upaya hukum atas putusan majelis. Menurut penasihat hukum terdakwa, banding dilakukan karena ketidak adilan hakim menghukum terdakwa Marko selama 14 tahun yang sedang sakit. Ada rekam medisnya dan dokter terdakwa hadir dalam persidangan namun tidak dipertimbangkan hakim. “Kalau hukumannya sama dengan putusan terdakwa lain berarti putusan tidak ada rasa keadilan hakim dong”, kata Morsito Penasihat hukum dari Semarang tersebut.

Sementara jaksa penuntut umum Theodora mengatakan akan membuat kontra memori banding atas sikap penasihat hukum terdakwa yang banding putusan hakim, ujarnya.

Penulis : P.Sianturi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here