Home DAERAH MAU DIBAWA KEMANA NEGARA INI ???

MAU DIBAWA KEMANA NEGARA INI ???

285
0
Prof. Dr. HR. Renny Masmada, MBA ke DPW Leadham International Propinsi Jawa Tengah

Kaca Mata Gajah Mada

PEMIMPIN INDONESIA KEHILANGAN HATI NURANI DAN JATI DIRI SEHINGGA GAGAL MEMIMPIN SEBAGAI MANUSIA CIPTAAN TUHAN

JAWA TENGAH, TRANSPARANCY.COM – Kunjungan Seorang Profesor, Ekonom, Budayawan, Sutradara, dan Ketua Umum FBI (Forum Bhayangkara Indonesia) Renny Masmada ke LEADHAM DPW Jateng, sungguh menjadi suatu kehormatan, dalam obrolan ringan dengan beliau, nampak karakteristik low profil dan familiarnya begitu kental. Lead Ham DPW Jateng menanyakan banyak hal tentang carut marutnya kehidupan sekarang, problemasisasi manusia dan kebijakan yang diambil pemerintah, menurut beliau adalah terjadinya degradasi Multi dimensi, dari hilangnya jati diri, perusakan DNA hingga kebijakan yang dihasilkan dari manusia setengah Iblish.

Beliau sangat geram ketika berbicara tentang kebesaran Indonesia, sementara yang nampak terjadi justru banyak yang tidak bisa menunjukkan kebesarannya sebagai manusia yang hidup di bangsa yang besar ini. Ditanyakan kepada beliau, apa sebenarnya yang terjadi dengan keadaan Negara Indonesia saat ini, beliau menguraikan, Indonesia diluar tidak disebut Negara berkembang, jadi All most development country, “saya mau bilang Indonesia adalah negara besar, salah satu contoh, ribuan tahun yang lalu bahan rempah rempah Negara Mesir untuk proses mummifikasi itu berasal dari Indonesia, dan pada abad ke 6, yang merupakan asal peradapan bangsa didunia, itu terjadi karena pecahnya Gunung Krakatau, dan Gunung Padang di Sukabumi ribuan tahun yang lalu.

Selanjutnya kita lihat kesejarahan yang kita punya membuktikan Indonesia adalah Negara yang besar. Contohnya 17.580 pulau itu telah membuktikan bahwa negara yang paling banyak mempunyai pulau itu memang hanya Indonesia, dengan panjang pantai yang terpanjang no 2 didunia setelah kanada, yaitu sepanjang 81.000 Km, ini menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah negara kecil. Coba liat Si Purba Komodo juga ada di sini, dan banyak lagi kalau mau diceritakan. Kemudian kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6 % itu saja sudah direkayasa, tapi pertanyaannya adalah, Kenapa saat ini kita terpuruk? Itu terjadi sebab pembodohan karakteristik dan pendangkalan pemikiran.

Oleh karena itu, ketika LEAD HAM ada disini, saya berharap bisa menjadi contoh atau teladan bagi masyarakat, anak bangsa saat ini bisa kembali sadar, kita adalah manusia besar. Kekalahannya ketika orang Eropa datang selama lebih dari 350 tahun merusak DNA orang Indonesia, dengan statement, bangsa kita bukan lagi bangsa besar tetapi hanya bangsa Kacung.” Beliau mencontohkan ketika ada acara atau hajatan, orang-orang pasti mencari tempat duduk bukan didepan, tetapi malah ditengah atau bahkan dibelakang, disebabkan mental orang Indonesia sudah dirusak.

Tambahnya lagi, “Sekarang ketika kita membicarakan lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia yang kebetulan ada Link dengan PBB, saya kembali mengingatkan, saya tidak bicara mengajarkan karena kita sekarang sudah berada diera orang pintar, oleh karena itu saya mengingatkan kita sebenarnnya adalah orang besar, siapa bilang orang Indonesia orang bodoh, ini adalah kesalahan system, karena tidak ada lagi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap sodara kita yang berada dipelosok negeri dan kita hanya mengklaim bahwa orang-orang Ambon, Maluku, flores, hanya akan menjadi orang bodoh dan preman, tetapi, yang mempunyai rempah rempah yang tiap kali kita ekspor keluar negeri itu milik mereka, sodara yang kita anggap orang bodoh.

Kita semua sebenarnya orang kaya. Kaya segalanya. Lalu kenapakah ketika daerah mereka yang dan menghasil penjualan rempah, tapi kenapa stigma ini melekat pada orang Indonesia bagian timur? “itu kebetulan dimana sudah tidak ada lapangan pekerjaan dan tanggung jawab pemerintah untuk memberikan ruang pekerjaan”. Begitu imbuh beliau. Bagaimana tanggapan beliau tentang adanya pelanggaran HAM yang marak dan sangat sering terjadi di Indonesia sehingga menjadi perhatian khusus dari dunia luar khususnya PBB, beliau enteng menjawab, kita tidak usah membahas tentang pelanggaran HAM dipemerintahan, Misalnya ketika kita berjalan di jalan tol yang aturannya berjalan dikecepatan 60-80 Km/jam lalu kita berjalan di kecepatan 82 Km / jam itu saja sudah menjadi pelanggaran, tetapi bukan itu masalah yang sebenarnya. Yang menjadi masalah adalah kita melakukan pelanggaran itu dengan senyum, yang maksudnya ketika kita melakukan suatu pelanggaran itu tanpa merasa melanggar atau bersalah. Sekarang yang menjadi persoalan yaitu mampukah LEAD HAM INTERNASIONAL memberikan penyadaran kembali kepada anak bangsa bahwa kita bisa menjadi contoh yang baik bagi mereka? kita adalah orang besar, orang hebat, orang taat hukum dan lain-lain, itu saja.

Kalau itu bisa terjadi saat ini tidak ada yang akan jadi polisi, tentara tidak akan jadi tentara, bupati tidak akan jadi bupati, gubernur tidak akan jadi gubernur. Karena ketika mereka jadi polisi, tentara, bupati, gubernur. Dia menginjak tanah, jadi rakyat dijadikan asset, tapi ketika dia sudah jadi pemimpin apapun namanya dia tidak akan lagi menginjak tanah, dia akan menjadi manusia setengah dewa, dan ketika rakyatnya haus dia lupa dirinya adalah manusia, jadi tidak mengerti apa yang dibutuhkan rakyatnya. Manusia setengah dewa saja gagal memimpin rakyat Indonesia ini apa lagi manusia setengah iblis, jadi sekarang ini rata rata pemimpin kita adalah manusia setengah iblis. Dan pada saat saya mendengar ada Lembaga Advokasi Manusia saya sangat setuju, bagaimana kita mampu kembali memanusiakan manusia.

Dan itu menjadi PR atau tugas Lead Ham. Karena jangan sampai ada tindakan yang diberikan Komisi untuk Hak Asazi Manusia menjadi retorika saja. Ini tugas berat bagi Lead Ham yang status independensinya kuat, Lead Ham bukan Products PBB tapi berdiri dibawah naungan PBB, ini akan lain konotasinya. Karena banyak Komisi perlindungan yang memberikan kepedulian setengah-setengah, karena belum mampu berdiri secara independen sehingga masih menoleh pada yang mengikatnya.

Ketika topik obrolan kearah ranah hukum, tentang kebijakan pemerintah tentang hukuman bagi terpidana mati, seperti Bali Nine, yang eksekusinya ditunda-tunda terkesan seolah-olah adanya, semacam ada penekanan atau intervensi Australia hal ini dibuktikan dengan adanya travel warning untuk warganya terhadap negara Indonesia, dan ini diperkuat lagi dengan diungkitnya melalui statement pemerintahan Australi tentang bantuan mereka sebesar 1 Miliar dolar Australia waktu itu, Renny Masmada menanggapi bahwa kebijakan untuk hukuman mati itu bukan kebijakan yang berazazkan pada hati nurani, contohnya secara Islam menyembelih binatang saja punya tata cara, dan salah baca saja disebut haram, apalagi membunuh manusia.

Ketika manusia mampu menjadi dirinya sendiri atau kembali kejatidiri, tentunya ada jawaban yang sama di setiap hati nurani. Ketika manusia belum mengerti apa arti manusia maka dia belum menjadi manusia seutuhnya, manusia yang belum seutuhnya adalah manusia yang setengah Dewa atau setengah Iblis. Inilah zombi-zombi yang berlagak hidup dan tak memahami bahwa sebenarnya adalah mati secara nurani. Dan ketika suatu keputusan dikeluarkan oleh seorang zombi maka berarti manusia akan dihadapkan kepada satu ketidakadilan dan syarat dengan pelanggaran – pelanggaran hak asazi manusia. (bersambung)-(RDS /IWN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here