Home DAERAH MEA Itu Seperti “Demit”

MEA Itu Seperti “Demit”

217
0
Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP

Yogyakarta, Mediatransparancy.com – Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP menganalogikan pemberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dimulai pada awal tahun ini seperti hantu. Sebab, di antara negara-negara ASEAN saling ‘mengintip’ apa yang tengah dipersiapkan masing-masing negara agar bisa bertahan, bahkan memenangkan pertempuran perdagangan bebas di level ASEAN itu.

“Saya ketemu dengan teman-teman ASEAN, ternyata mereka juga takut karena kita (Indonesia) besar sekali. Apa yang akan dilakukan Indonesia. Semua saling intip. Jadi sebenarnya MEA itu seperti demit, seperti hantu.Semua saling pandang dan belum pernah menyentuh,” tuturnya dalam acara Forum Nasional Ekonomi Kreatif (FORNETIF) dengan tema Strategi Penguatan dan Pemberdayaan UMKM dan Koperasi dalam menghadapi MEA, di Auditorium Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat (8/4).

Ganjar menegaskan untuk memenangkan pertempuran MEA, Indonesia tidak boleh lengah. Harus mampu membaca peta kekuatan lawan, sekaligus kekuatan sendiri.

Di Provinsi Jawa Tengah, lanjutnya, agar pengusaha kecil memiliki kekuatan menghadapi MEA dan sekaligus mengentaskan kemiskinan, pemerintah melalui Bank Jateng meluncurkan kredit Mitra Jateng 25 dengan bunga tujuh persen per tahun bagi usaha yang sudah memulai usahanya minimal enam bulan dan Mitra Jateng 02 dengan bunga dua persen per tahun bagi masyarakat ekonomi lemah yang baru akan memulai usahanya. Kemudahan akses pembiayaan menjadi perhatian karena selama ini pengusaha kecil dihadapkan pada sulitnya mengakses permodalan. Mereka terbentur dengan bunga yang tinggi, sehingga membuat produknya kalah bersaing.

“Di China, bank memberikan bunga enam persen per tahun. Kalau ada tanda tangan gubernur atau wali kota, dapat potongan lagi dua persen. Kalau bunga kita 12 sampai 14 persen, usaha bisa mati. Tidak bisa bersaing. Maka kalau bank milik negara bisa memberikan bunga yang rendah, bisa membantu yang lemah,” jelasnya.

Ditambahkan, masyarakat tidak perlu takut menghadapi MEA karena Jawa Tengah juga memiliki produk-produk unggulan yang selama ini sudah dikenal di mancanegara. Seperti produk kayu dan turunannya yang menjadi nomor satu di dunia, batik, dan jamu.

Ekonom Faisal Basri sependapat dengan Gubernur Ganjar Pranowo. MEA tidak perlu dikhawatirkan karena sebetulnya perdagangan bebas sudah terjadi sejak 2002 saat diberlakukannya kawasan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA).

“MEA adalah kerja sama unik yang dicirikan tidak pernah mementingkan ASEAN-nya sendiri. Justru perdagangan bebas dari luar negara ASEAN mencapai 76 persen, Sedangkan antarnegara ASEAN sendiri hanya 24 persen,” katanya.

(Humas Jateng)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here