banner 728x250

Miris!!! Masih Ada Warga Samosir Yang Belum Nikmati Listrik

  • Share

SAMOSIR, MEDIA TRANSPARANCY – 76 tahun sudah Indonesia merdeka, 17 tahun sudah Samosir menjadi daerah otonom, namun sayang sungguh sayang, masih ada warga Samosir yang hingga kini belum juga menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya, maupun arti daerah otonom yang sebenarnya.

judul gambar

Adalah Robinson Pasaribu dan Junior Antoni Pasaribu, warga Lumban Mangaliat, Desa Turpuk Limbong, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, yang hingga saat ini kehidupan keluarga mereka berjalan tanpa penerangan listrik.

Sungguh ironi memang. Kampung yang sudah ada ratusan tahun yang lalu dan telah melahirkan tujuh generasi penerus bangsa ini, masih ada warga yang belum memperoleh aliran listrik.

Peristiwa memilukan ini disampaikan Junior Antonis Pasaribu kepada Media Transparancy saat berbincang-bincang santai disebuah warung kopi di Desa, Kamis (11/03l.

“Sesungguhnya masyarakat Indonesia belum seutuhnya menikmati kemerdekaan itu. Masih ada pelosok-pelosok negeri ini yang belum menikmati kemerdekaan itu. Seperti listrik yang belum merata,” ujarnya.

Dijelaskan Antoni Pasaribu, salah satu pelosok desa yang luput dari perhatian pemerintah adalah Perkampungan Huta Lumban Mangaliat, Desa Turpuk Limbong, Kecamatan Harian.

“Sudah ada ratusan tahun keberadaan perkampungan ini, sudah tujuh regenerasi keturunan mereka yang tinggal disana, namun tidak ada perhatian yang serius dari pihak terkait dengan hal itu,” paparnya.

Ditambahkannya, kemerdekaan Indonesia yang sudah 75 tahun  dan terbentuknya Kabupaten Samosir yang sudah 17 tahun tidak pernah mereka nikmati dampaknya.

“Kemerdekaan itu tidak ikut mereka nikmati. Dan program pemerintah dan program Jokowi belum seutuhnya di nikmati  masyarakat jelata,” tandasnya.

Diterangkannya, dua keluarga di Lumban Mangaliat yang belum menikmati aliran listrik padahal jarak rumah tersebut ke tiang listrik terdekat hanya berkisar  500.

“Kita sudah pernah mengajukan ke Kaor Pemerintahan desa setempat dan sudah pernah diminta KK. Kami sangat berharap, tetapi sampai saat ini belum terwujud,” ujarnya.

Untuk keperluan penerangan dirumahnya sehari-hari, mereka menggunakan lampu rakitan yang terbuat dari  bohlam, mancis, yang disambungkan dengan batu baterai 3 buah.

Diakuinya lampu rakitan tersebut bisa bertahan selama satu setengah bulan lamanya. Namun, karena dinilai kurang terang, kemudian mereka menggunakan santer.

Namun jika baterai senter tersebut sudah habis, mereka terpaksa harus mencharge ke rumah orang tuanya yang berjarak sekita 2 km dari tempat tinggalnya atau ke rumah tetangga terdekat.

Menanggapi cerita miris dan pilu warga Samosir tersebut,  anggota Komisi II DPRD Kabupaten Samosir, Jonni Sagala yang dimintai komentarnya mengatakan, bahwa pihaknya sudah pernah membahas masalah keluhan warga tersebut saat reses oleh Komisi III DPRD yang dihadiri Pantas Lasidos Limbong, dan Wakil Ketua DPRD, Pantas Marroha Sinaga.

“Komisi III DPRD Kabupaten Samosir, sudah berkoordinasi dengan Kepala PLN, dan sudah berjanji untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat,” sebutnya.

Ditambahkannya, yang menyangkut kebutuhan masyarakat terutama di dapil IV, setiap aspirasi masyarakat secara keseluruhan ditampung.

“PLN sudah berjanji. Bukan cuman di Harianboho, ada juga di Bahalbahal, Desa Pinal dan tempat-tempat lain juga masih banyak yang belum masuk PLN. Tapi memang karena sedang Covid-19 ini, ada kendala-kendala yang dihadapi keuangan PLN, mungkin karena itu jadi tertunda,” terangnya.

Disampaikannya, semua keluhan masyarakat sudah dikoordinasikan dengan Kepala Cabang PLN di Kabupaten Samosir. “Tapi lebih jelasnya, silahkan menghubungi kawan-kawan dari komisi III. Kebetulan saya komisi II yang membidangi pertanian, perkebunan, dan kehutanan,” tandasnya. (Hatoguan Sitanggang)

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *