Home HUKUM OKNUM POLSEK TANJUNG PRIOK MENDADAK JADI MONSTER PELANGGAR HAM

OKNUM POLSEK TANJUNG PRIOK MENDADAK JADI MONSTER PELANGGAR HAM

268
0

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Apapun status manusia, dan apapun kejahatannya, ia tetap dilindungi Undang undang, ia tetap punya hak hidup. Menyengaja menghilangkan nyawa orang lain adalah perbuatan keji dan Pelanggaran HAM yang berat.

Begitulah yang dialami Jupri Heriyanto Pasaribu (45 th), ALIAS (Jamal) warga Sungai Bambu Tanjung Priuk Jakarta Utara. Menurut narasumber, Jamal yang baru pulang kerumah, dan mau masuk ke dalam rumahnya terhalang mobil yang parker didepan gang yang mau masuk kerumahnya, Jamal disuruh sabar oleh warga setempat (suprapto alias yanto pokdar) karena dilokasi ada acara buka bersama yang diadakan oleh Kapolres Jakut dan sebentar lagi sudah selesai, namun Jamal tidak sabar dan akhirnya terjadi percekcokkan. Akhirnya Jamal nekat merusak mobil yang parker didekat situ.

Kemudian warga melaporkan kejadian itu kepada anggota Polsek Tanjung Priok dan ditindak lanjuti. Hingga akhirnya seorang oknum menembak dari jarak dekat dan dikenakan di bagian tubuh dekat dada. Artinya upaya pelumpuhan langsung pada area yang rentan pada kematian, dari pada tangan atau kaki yang hanya bersifat melumpuhkan.

Saat dilokasi, penembakan disaksikan oleh beberapa orang termasuk adik kandungnya. Menurut adik korban, oknum Polisi yang menembak korban adalah dengan jarak sangat dekat (1,5 meter), seperti ada indikasi untuk menghabisinya. Apapun masalah dan status orangnya, ada hak perlindungan juga terhadapnya. Jamal layak diberikan keadilan, bukan untuk raganya yang sudah meninggal, tapi pelajaran untuk oknum oknum yang dengan mudah bertindak sembrono terkesan melecehkan nyawa seseorang dengan membuat keputusan gampang untuk menghilangkan nyawa orang lain dengan rasa tidak bersalah. Hendaknya Kapolres setempat bersikap adil kepada masyarakat, dengan mengusut tuntas peristiwa yang luar biasa terjadi ini. Agar kepercayaan masyarakat pada pihak Polisi masih ada.

Saat Leadham Internasional datang untuk menanyakan kepada pihak keluarga, Ibu Jupri Heriyanto dan adik korban yang saat kejadian berada dilokasi dan ia sendiri yang menggotong jasad korban, setelah menarik abangnya kepinggir jalan, pihak kepolisian membawa tubuh Jamal (Jupri Heriyanto) dengan mobil Inova (A 1613) warna silver. Ibu Jamal Pasaribu yang saat itu mendengar kejadian terus mencari tahu dimana keadaan anaknya. Dibantu anaknya perempuan yaitu ibu Intan mendatangi polsek Gorontalo, untuk menanyakan dimana jasad adiknya, namun pihak polsek tidak mau memberi jawaban, dan akhirnya Intan dapat informasi keberadaan adiknya dari temannya dari Polres yang dihubunginya via telpun, bahwa adiknya sudah meninggal dan jasadnya berada di RS Kramat Jati (RS Polri). Akhirnya keluarga menuju kesana.

Ketika berada di Rumah Sakit, keluarga bertemu anggota Polres, yaitu P.Sinaga, Kasi Propam, Wakapolres dan kapolresnya Susetio Cahyadi. Pihak keluarga menanyakan hasil visum, namun tidak diberikan, sementara Wakapolres memberikan tanggapan kepada keluarga, bahwa secara manusia ikut berbela sungkawa, tapi secara hukum silahkan saja, begitu penjelasan ibu Jamal mengulas perkataan Wakapolres.

Ketika LEMBAGA ADVOKASI HAM (Leadham) Internasional menanyakan saat kejadian penembakan pihak keluarga menjelaskan, bahwa waktu itu, berdasarkan informasi dari masyarakat yang berada di TKP mengatakan kalau petuga Polisi yang datang ada dua, yaitu Suprapto dan I Gede Ngurah. Dan P. Gede menyuruh Lari, “ Lari kau, lari,….” Kemudian ditembak dari belakang dibagian punggung (area jantung). Jamal ditembak dari jarak 1,5 meter.

Sungguh sangat disesalkan, tindakan aparat hukum yang tidak memahami SOP dalam melaksanakan tugas. Semestinya paling tidak, seumpama tidak bisa diatasi dengan tangan, maka bila sangat terpaksa harus menggunakan senjata, semaksimalnya adalah bersifat melumpuhkan saja. Bukan pada target yang mengarah pada kefatalan yaitu area vital anatomi manusia. ini agar jadi pembelajaran bagi aparat lainnya agar tidak melakukan tindakan kesewenang-wenangan dalam kinerjanya menjadi penegak hukum dan pengayom masyarakat. Lembaga Advokasi HAM (Leadham) Inyternasional sangat mengecam keras atas peristiwa pelanggaran HAM berat yang dilakukan oknum kanit serse saudara I Gede dari polsek Tanjung Priok, Jl Gorontalo Jakut. Para petinggi penegak hukum dan kepada pemerintah, supaya segera menyelesaikan ini dan menjadikan ini atensi yang sangat luar biasa.

Tindak tegas para oknum penegak hukum yang melanggar HAM berat dengan menghilankan nyawa seorang anggota masyarakat dengan semena-mena . kekuasaan dan pemerintah bukanlah monster yang menakutkan , melainkan Pelindung Pengayom dan pelayan masyarakat. Bukan pembinasaan tetapi pembinaan bagi masyarakat apapun kondisinya kita ciptakan rasa aman untuk seluruh anggota masyarakat. (RED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here