banner 728x250

Pemenang Tender Jembatan Tano Ponggol ‘Tidak’ Punya Kantor di Pangururan

  • Share

SAMOSIR, MEDIA TRANSPARANSI – Peletakan batu pertama pembangunan pengganti Jembatan Aek Tano Ponggol yang berada di Kecamatan Pangururan,  Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara yang bersumber dana APBN dengan Nomor SPK :03/ KTR-APBNBb-Wil2.9/2020 Tahun Anggaran 2020-2022 yang dikerjakan Wijaya Karya (Persero) Tbk dengan Konsultan: PT. Arteri Cipta Rencana,  KSO PT Indect Internusa-PT Miko Yova menuai kritikan dari masyarakat.

Pasalnya, hingga saat ini kantor cabang perusahaan raksasa tersebut belum ada didaerah Samosir.

judul gambar

Salah seorang perwakilan kontraktor berinisial etika ini  AN yang dikonfirmasi tidak mau berkomentar.

Data yang diperoleh Media Transparancy,  bahwa di Sitanggang Bau tepatnya didesa Parsaoran I,  Kecamatan Pangururan,  Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, ada sebuah ruko merengkap mes pekerja dan sekaligus kantor sementara saat ini.

Hingga saat ini, perusahaan kontraktor menutup diri, khususnya kepada pihak media dan LSM yang ingin melakukan pengawasan.

Seorang tokoh pemuda Desa Parsaoran 1, Ricky Nainggolan sangat menyayangkan itikad perusahaaan yang menutup diri kepada publik  terlebih kepda  masyarakat sekitar.

“Karena kegiatan tersebut bukan untuk disembunyikan, dan harus transparansi dalam pengerjaanya maupun pembebasan lahan,” ujarnya.

Dikatakannya, dari sisi program pembangunan, pihaknya ini sangat setuju dan sangat apresiasi kepada pemerintah pusat mendukung daerah menjadi salah salah satu kunjungan wisata.

“Akan tetapi dari sisi pemberdayaan masyarakat juga perlu mereka lakukan demi kelancaran kegiatan ini. Kita juga jangan hanya menonton, kita juga harus terimbas peningkatan ekonomi mulai saat dibangun kegiatan ini hingga selesai pekerjaan,” tandasnya.

Ditambahkannya, sudah banyak proyek pemerintah pusat di Kab. Samosir, namun masyarakat sekitar hanya dijadikan penonton.

“Sudah banyak program  pemerintah disini yang selalu menjanjikan akan mengakomodir SDM setempat, namun nyatanya kita hanya sebagai penonton,” pungkasnya Ricky.

Sementara itu, Lumban Simare-Mare kepada pemerintah agar memperhatikan aspirasi warga sekitar.

“Kita berharap kepada pihak perusahaan agar menerima aspirasi dan masukan warga dan bila masih dapat diakomodir, dan kita tidak intervensi dalam kebijakan,” ujarnya

“Namun Sebagai putra setempat,  wajar kami mengusulkan bila kami dapat berkontribusi mengisi pembangunan didaerah ini. Dan masukan ini perlu menjadi perhatian pemerintah atasan untuk kedepan,” tuturnya. Hatoguan Sitanggang

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *