banner 728x250

Pengadilan Negeri Jakarta Utara Vonis Pidana Mati Tju Ang Pio Pemilik Shabu 25 Kg

  • Share

JAKARTA, MEDIA TRANSPARANCY — Pengadilan Negeri Jakarta Utara, pimpinan Tumpanuli Marbun didampingi hakim anggota Tiares Sirait dan Budiarto, yang mengadili dan memeriksa berkas perkara kepemilikan barang terlarang Narkotika berupa Shabu Shabu dan pil ekstasy sebanyak 25 Kg dihukum pidana mati.

Terdakwa Tju Ang Pio alias Ampio Junaidi (39), warga Kepulauan Riau, yang sebelumnya dituntut pidana mati oleh Jaksa Penuntut Umum Astrit itu, majelis hakim mempertimbangkan tuntutan jaksa dalam hal yang meringankan dan memberatkan. Dalam pertimbangannya menyebutkan, dalam diri terdakwa tidak tidak ditemukan hal hal yang meringankan, terdakwa tidak mendukung program pemerintah tentang pemberantasan peredaran Narkotika, sehingga hal hal yang meringankan tidak perlu dipertimbangkan lagi.

judul gambar

Dalam pertimbangan putusan majelis disebutkan, terdakwa merupakan residivis yang saat ditangkap masih menjalani masa hukuman selama 12 tahun penjara di dalam Rumah Tahanan Kepulauan Riau. Terdakwa menjalankan aksinya dari dalam tahanan yang divonis dalam kasus yang sama atas kepemilikan Narkotika. Menurut majelis, hukuman selama 12 penjara tersebut belum cukup membuat terdakwa jera mengedarkan Narkoba. Sehingga menurut majelis, tanpa mempertimbangkan unsur unsur lain, terdakwa pantaslah dihukum sesuai perbuatannya sebagaimana tuntutan jaksa dengan pidana mati.

Terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar hukum secara terorganisir dari dalam penjara. Sebagaimana barang bukti dan keterangan para saksi dalam persidangan menyebutkan terdakwa merupakan jaringan peredaran Narkotika dalam dan luar negeri, kata majelis hakim pimpinan Tumpanuli Marbun, Tiares Sirait dan Budiarto dalam putusannya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara 18/12/2020.

Sebelumnya Jaksa penuntut umum Astri Rahmawaty dalam Requisitornya atau rencana tuntutannya menyebutkan, terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melanggar hukum, memiliki menyimpan, menyuruh, mengekspor mengimpor barang yang dilarang Pemrrintah berupa Narkotika jenis Shabu Shabu sebanyak 25 Kg. Terdakwa terbukti melanggar pasal 114 undang undang tentang Narkotika dengan putusan mati.

Terdakwa, Tju Ang Pio bersama sama dengan terdakwa lain Edi dinyatakan Jaksa masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), Azhar bin Abdul Rahman, Suryani Saamad (Wanita), dan Khairul Umam, Rudi Daulay, dengan permufakatan jahat memiliki menyimpan membawa Shabu tanpa hak dari yang berwajib, sehingga ditangkap aparat Satuan Narkotika Jakarta Utara, 16/12/2019.

Dalam kejadian tersebut, pada bulan Desember tahun 2019, terdakwa menyuruh Azhar untuk mengambil Narkotika di Pulau Guntung, Tembilaan, Kepulauan Riau. Terdakwa menyuruh Azhar berangkat ke Tanjung Batu menuju Guntung, Tembilan menggunakan transportasi laut Kapal Ferry. Terdakwa menyuruh Azhar ke Kecamatan Sungai Rumbai Tembilaan untuk mengambil bungkusan Narkotika sebanyak 25 Kg yang sudah disediakan suruhan terdakwa.

Setelah barang Shabu sudah dibawa Azhar lalu terdakwa menghubungi Rudi Daulay supaya mengurus transportasi Azhar dari Tembilaan ke Jakarta. Namun mobil bus yang dimaksud rusak dan harus ke bengkel. Lalu terdakwa menghubungi Edi lagi, dan Edi mengatakan nanti ada kawan Mr X yang akan mengurus Azhar menggunakan mobil truk menuju Jakarta.

Perbuatan terdakwa dinyatakan terbukti bersalah sebagaimana unsur barang siapa dan unsur memiliki, membawa menyuruh mengimpor, mengekspor sebagaimana dakwaan jaksa pasal 114 dan pasal 132, undang undang no 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Jaksa menyebut, terdakwa tidak mendukung program pemerintah tentang pemberantasan narkotika, sehingga patutlah dihukum sesuai perbuatannya. Dari diri terdakwa tidak ditemukan hal hal yang meringankan untuk itu dimohonkan pada majelis hakim supaya terdakwa dihukum pidana mati, kata jaksa.

Sementara dalam Pledoi penasihat hukum terdakwa memohon kepada majelis hakim agar memberikan keringanan hukuman terhadap terdakwa, sebab terkait hukuman mati bukanlah urusan jaksa atau manusia akan tetapi merupakan wewenang dari Tuhannya sendiri.

Namun dalam putusannya majelis tidak menggubris pledoi Penasihat hukum, dimana menurut Tumpanuli, dalam undang undang yang berlaku di Negara Republik ini juga mengatur adanya putusan pidana mati. Bahkan sudah pernah di uji materil terkait hukuman mati tersebut , namun ditolak Mahkamah Konstitusi, sebab dalam perkara tertentu spesialis yang merusak negara dan anak bangsa putusan pidana mati tidak dilarang dalam undang undang di Republik Indonesia. Sehingga Peldoi penasehat hukum tidak perlu dipertimbangkan, dan terdakwa patutlah dihukum sesuai perbuatannya. kata Tumpanuli.

Dalam perkara persekongkolan narkotika ini, sebelumnya ke empat terdakwa lainnya yakni Azhar bin Abdul Rahman, Khairul Umam, Rudi Daulay ketiganya dituntut hukuman seumur hidup. Kairul Umam di vonis seumur hidup dan tiga terdakwa lainnya divonis selama 20 tahun penjara.
Sementara terdakwa Suryani Saamad (Wanita), dituntut pidan 20 tahun dan di vonis selama 18 tahun penjara.

Penulis : P. Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *