Home BERITA TERBARU Penyidik Kejagung RI Tetapkan Pejabat Bea Cukai Batam Tersangka Korupsi Importasi Tekstil

Penyidik Kejagung RI Tetapkan Pejabat Bea Cukai Batam Tersangka Korupsi Importasi Tekstil

114
0

JAKARTA, MEDIA TRANSPARANCY – Penyidik Tindak Pidana Khusus, Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) menetapkan pejabat Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Batam sebagai tersangka dugaan korupsi.

Penetapan empat pejabat dan satu orang pengusaha tersebut berkaitan dengan kasus dugaan pidana korupsi atas importasi tekstil yang lolos dari pengawasan Dirjen Bea dan Cukai Batam dalam kurun waktu tahun 2018-2020.

Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum) Hari Setiyono menyampaikan, penetapan para tersangka korupsi tekstil tersebut telah memenuhi prosedur hukum sesuai hasil ekspose gelar perkara yang dilakukan penyidik.

Para tersangka yang ditengarai melakukan korupsi tersebut yakni, Mukhamad Muklas, Kabid Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Batam, Dedi Aldrian, Kepala Seksi Pabean dan Cukai III pada KPU Bea dan Cukai Batam, Hariyono Adi Wibowo, Kepala Seksi Pabean dan Cukai I, KPU Bea dan Cukai Batam, serta Kamaruddin Siregar, Kepala Seksi Pabean dan Cukai II KPU Bea dan Cukai Batam.

Selain pejabat Bea dan Cukai Batam, Irianto selaku pemilik PT.Fleming Indo Batam dan PT.Peter Garmindo Prima, juga ditetapkan tersangka berkaitan dengan korupsi importasi tekstil ribuan rol tersebut”, ujar Kapuspenkum 25/06.

Menurut Hari, berdasarkan pemeriksaan penyidik, para tersangka dianggap bertanggung jawab terhadap pelayanan pabean dan cukai di KPU Bea Cukai Batam, saat terjadi pengurusan Importasi tekstil yang dimohonkan perusahaan milik Irianto.

Dimana para tersangkalah yang melayani dan mengurus importasi tekstil dari Singapura ke Batam yang di mohonkan PT.Fleming Indo Batam dan PT.Peter Garmindo Prima, ucapnya.

Hari menambahkan, penyidik menemukan bukti tentang tata laksana proses importasi barang (komoditas dagang) dari luar negeri khususnya untuk tekstil dari India yang mempunyai pengecualian tertentu dengan barang importasi lainnya, baik secara aturan atau prosedur maupun kenyataannya yang terjadi atau dilaksanakan oleh para tersangka. Dimana import tekstil rol yang diberitahukan dari India Batam itu ternyata bukan dari India melainkan dari China.

Atas perbuatan para tersangka, Negara telah dirugikan miliaran rupuah. Sementara ke lima tersangka telah ditahan sejak 24 Juni selama 20 hari hingga 13 Juli 2020 guna pemeriksaan lebih lanjut.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. Subsider Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP, kata Hari.

Penulis : P.Sianturi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here