banner 728x250

Penzoliman Hukum: Pencari Keadilan Histeris Memohon Keadilan Kepada Hakim PN JakUt Tumpanuli Marbun

  • Share

Jakarta,mediatransparancy.comPencari keadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara ( PN Jakut), merasa terzolimi sehingga histeris memohon keadilan dari majelis hakim pimpinan Tumpanuli Marbun.

Saat pembacaan putusan atas gugatan Perbuatan Melawan Hukum yang disampaikan penggugat Arwan Koty (penggugat satu) dan Alfin (penggugat dua), Sontak penggugat bagaikan tersambar petir disiang bolong mendengar pertimbangan putusan yang dibacakan majelis hakim Tumpanuli Marbun.

judul gambar

Penggugat meneriakkan supaya majelis memberikan putusan yang adil atas gugatannya terkait PMH atas pembelian dua unit excavator dari PT. Indotruck Utama IU, (tergugat satu), Tommy Tuasihan (tergugat dua) yang belum diterima penggugat. Mendengar pertimbangan putusan majelis, yang menyatakan penggugat belum melunasi pembayaran pembelian excavator, sehingga saat pembacaan putusan pihak penggugat sempat intervensi dan menyatakan, “Dimana lagi saya mencari keadilan. Saya sudah rugi, barang yang saya beli tidak saya terima sementara jaminan pembelian berupa mobil dua unit, kios satu unit hingga saat tidak dikembalikan terguggat malah saya yang ditersangkakan lagi. “pa Hakim dimana lagi saya mencari keadilan” kata penggugat meneriakkan penzoliman yang dibuat majelis hakim pimpinan Tumpanuli Marbun, anggota majelis Tiares Sirait dan Budiarto.

Karena teriakan penggugat, majelis hakim sempat menskors membaca putusannya dan memerintahkan keamanan dalam persidangan PN Jakut membawa penggugat keluar ruang sidang.
Dengan berbagai pertimbangan menolak eksepsi para tergugat yang dibacakan majelis hakim.

sidang putusan perkara PMH di pengadilan negeri Jakarta utara

Penggugat tadinya berharap kepada majelis untuk mengabulkan gugatannya atas PMH yang dilakukan para tergugat. Penggugat dalam pokok perkaranya menyampaikan, mengalami kerugian karena membeli excavator dua unit sudah dibayar lunas, namun excavator nya tidak diterima pembeli. Sementara jaminannya mobil Hilux dua unit dan kios satu unit juga tidak dikembalikan ke penggugat, sehingga mengalami kerugian mencapai kurang lebih 9 milliar rupiah.

Anehnya, putusan majelis Tumpanuli Marbun, hanya berputar putar dalam konteks permasalahan pembayaran giro dan jabatan sales seorang Sales bernama Susilo sebagai penghubung antara penggugat dengan PT.Indotruck Utama IU, dan uang yang sempat dipinjam penggugat dari tergugat dua, pada hal uang pinjaman tersebut sudah dibayar dengan dua lembar giro tidak masuk pertimbangan majelis.

Majelis juga hanya berpihak ke kesimpulan dari para tergugat tanpa mempertimbangkan bukti bukti dan kesimpulan penggugat. Dimana didalam bukti penggugat jelas ada kwitansi dan bukti pembayaran barang Excavator yang belum diserah terimakan tergugat ke penggugat. Demikian juga jaminan yang disampaikan penggugat belum dikembalikan tergugat sampai saat ini walau permasalahan sudah timbul sejak tahun 2017 lalu, kata penggugat sembari mengeluarkan air mata.

Penggugat hanya berharap dan minta keadilan dari hakim agar putusannya bisa mengembalikan kerugian penggugat dengan menghukum tergugat, namun apa yang didapat dari pengadilan Negeri Jakarta Utara hanyalah tetesan air mata. Dengan gagahnya hakim Tumpanuli Marbun membacakan amar putusannya, namun penggugat bagaikan menelan pil pahit mendengat putusan Tumpanuli Marbun dan Tiares Sirait yang berpihak ke tergugat. Hakim tanpa pertimbangan bukti yang diajukan penggugat.

Sementara pembacaan putusan tersebut majelis hakim sepertinya tidak punya arah dan bimbang memutuskan perkara tersebut. Sebab, gugatan penggugat ditolak seluruhnya serta eksepsi para tergugat ditolak seluruhnya. gugatan Rekonvensi dan konvensi ditolak hakim.

Menurut Marbun, Perbuatan Melawan Hukum yang disampaikan penggugat tidak dapat diterima, sebab selayaknya gugatan perkara perdata No. 144/Pdt.G/2020/PN.Jkt.Utr ini, merupakan gugatan wanprestasi, kata Tumpanuli dalam putusannya 12/11/2020.

Karena hakim Tumpanuli sudah menyimpulkan dalam putusannya, bahwa gugatan no 144, Perbuatan Melawan Hukum itu ditolak dan dinyatakan merupakan wanprestasi. Timbul pertanyaan pengunjung sidang  “jikalau gugatan tersebut di buat gugatan baru tentang wanprestasi dengan majelis hakimnya Tumpanuli Marbun, apakah sudah pasti mengabulkan gugatan wanprestasi tersebut.

Menyikapi kesimpulan gugatan penggugat, Permasalahan hukum dalam obyek perkara a quo ini menurut penggugat adalah, para tergugat tidak menyerahkan barang yang dibeli penggugat dan jaminan pembelian barang hingga saat ini, sehingga mengalami kerugian kurang lebih 9 milliar rupiah.

Akan tetapi penggugat menilai, pertimbangan majelis hakim telah salah dan keliru dengan mempertimbangkan dan menyimpulkan bahwasanya dengan dibuatnya SPH dan penyerahan bertahap oleh Penggugat I dapat dikatakan Penggugat II telah setuju. Dan terbukti tidak dimasukkan kedalam SPH yang telah disepakati kedua belah pihak.

Terbukti juga bahwa Majelis Hakim salah dan keliru terkait Pinjaman Penggugat I kepada Tergugat II yang bersifat pribadi karena adanya Jaminan aset dari Penggugat I dapat di transfer langsung kepada tergugat I. Menurut pendapat ahli Prof. Atja Sondjaya SH. MH. Bahwa tidak dibenarkan apabila si A meminjam uang kepada si B untuk membayar si C. Tdak dibenarkan langsung dibayarkan / ditransfer ke si C namun harus di serahkan terlebih dahulu ditransfer ke Si A selaku peminjam.

Ahli mengatakan, apabila tidak diatur didalam perjanjian hal tersebut merupakan Perbuatan Melawan Hukum dan jika dikaitkan dengan perkara a quo tampak jelas hal tersebut merupakan Perbuatan Melawan Hukum.  Oleh karena Giro EB 211206 dan EB 211207 tidak dimasukkan kedalam SPH sehingga bagaimana dapat logikanya dikatakan hal tersebut merupakan Wanprestasi.

Demikian juga pertimbangan Majelis Hakim dinilai penggugat salah dan keliru yang mengatakan, bahwasanya perkara ini harusnya adalah Wanprestasi bukan Perbuatan Melawan Hukum namun Majelis menolak seluruh gugatan Penggugat dan bukan menyatakan bahwa Gugatan tidak dapat diterima / N O, ini merupakan putusan yang keliru.

Oleh karena putusan tersebut dinilai keliru, tanpa mempertimbangkan bukti dan kesimpulan penggugat serta tidak mengindahkan keterangan atau pendapat  ahli.

Penulis : P.Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *