Home HUKUM PERSIDANGAN KASUS TUKAR KEPALA ( MR ) BERJALAN AMAN DAN LANCAR

PERSIDANGAN KASUS TUKAR KEPALA ( MR ) BERJALAN AMAN DAN LANCAR

252
0
Suasana persidangan tersangka MR didampingi oleh ibunya

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM –Pada hari Selasa tanggal 7 Juli 2015 disidangkan secara tertutup yang dihadiri oleh kedua orang tua dan pengacaranya, yaitu Silvester serta Rikus dan disaksikan oleh Ketua LEADHAM INTERNASIONAL Ir.Rismauli D. Sihotang. Sementara diluar persidanganpun sanak saudara, teman, serta kawan kerja ayah korban dengan sabar dan seksama menunggu hasil sidang pada hari itu. Setelah selesai persidangan wartawan menyempatkan mewawancarai pengacara Muhammad Renaldi yaitu Silvester dan Rikus yang keduanya adalah Lembaga Advokasi dari LEADHAM, mereka mengatakan, persidangan pertama diawali dengan pembacaan surat dakwaan, kedua yaitu pembacaan hasil penelitian dari BAPAS, Silvester (pengacara) juga mengatakan, BAPAS seharusnya melakukan penelitian secara tuntas dan harus terjun kelapangan langsung agar bisa melihat kondisi, baik dari sisis ekonomi dan lingkungan, serta barbagai macam aspek yang dalam istilah hukumnya yaitu suasana dan peluang keadaan yang mendorong orang tersebut bisa melakukan kejahatan.

Hakim saat meminta keterangan saksi dari pihak kepolisian polsek jakarta utara
Hakim saat meminta keterangan saksi dari pihak kepolisian polsek jakarta utara

Dan apabila character orang tersebut dalam kesehariannya baik serta pergaulannyapun demikian ini merupakan pertimbangan hakim untuk melakukan putusan-putusan. Persidangan tersebut menghadirkan saks-saksi, yaitu saksi dari kepolisian sebanyak tiga orang dan saksi mahkota satu orang.

Saat leadham bertanya tentang saksi, pengacara Muhammad Renaldi (Silvester ) menjelaskan bahwasanya kepolisian telah memberikan kesaksian secara objektif, namun pada dasarnya Renaldi tidak tahu menahu tentang keberadaan (status) Nola, ia hanya ingin sekedar mengantarkan Nola ketempat tujuan saja, saksi mahkotapun mengatakan demikian juga, bahwa sebenarnya Nola hanya meminta tolong untuk mengantarkan dirinya saja.

Kemudian tentang barang bukti pengacara Muhammad Renaldi menerangkan bahwa barang bukti yang harus dihadirkan memang ada, tetapi saksi mahkota (Nola) dalam hal ini telah menyangkal, ternyata barang yang dihadirkan dipersidangan bukan barang bukti yang pada saat itu dipegangnya, ini merupakan suatu rekayasa untuk menggugurkan kewajiban saja yang ternyata barang bukti yang sebenarnya telah raib entah kemana, ini merupakan suatu masukan pada majelis hakim untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah tandas pengacara kepada media.

Pengacara Muhammad Renaldi ( Rikus ) mengatakan lagi bahwa selain barang bukti yang penuh dengan rekayasa surat BAP juga demikian, dalam penulisan tanggal terjadi kesalahan, memang segala sesuatu yang direkayasa dipersidangan akan ketahuan juga pada akhirnya ,lebih miris lagi ketika seorang anak kecil harus dikorbankan yang notabene tidak mengerti apapun, ia telah terenggut masa remajanya, yang seharusnya
dia masih sedang belajar meraih cita cita bersama teman-teman sebayanya, dan keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuanya harus kandas oleh permainan dan rekayasa oknum yang tidak bertanggung jawab,bukan itu saja, dia secara mental maupun psikis mengalami goncangan yang dalam. Ini merupakan PELANGGARAN HAM BERAT, seakan BAP hanya sebagai pelengkap supaya mengarah menjadi P21 untuk bisa disidangkan. Selain itu dalam melakukan BAP, ada indikasi adanya intimidasi terhadap Renaldi dipukuli dan dipaksa mengaku, ini harus ditindak tegas terutama penyidik.

Presiden Jokowi pernah mengatakan, agar semua unsur pemerintahan mau melakukan Revolusi moral dan mental, aparat kepolisian sektor Tanjung Priuk, Jl. Gorontalo dinilai  gagal dalam pemberatasan Narkoba, dimana anak-anak sekolah yang masih ingin mengenyam pendidikan serta harapan bangsa dikorbankan sementara Bandar yang sebenarya bebas berkeliaran, masyarakat Tanjung Priok juga membuat mosi tidak percaya kepada POLSEK setempat dan surat itu sudah sampai ke SEKNEG, dengan dikukuhkan tandatangan serta foto kopi KTP, ini pertanda betapa buruknya citra kepolisian yang disebabkan oleh oknum.

Persidangan selanjutnya akan disidangkan kembali pada hari Kamis tanggal 9 Juli 2015, kita berharap kejahatan pasti akan terungkap dan pada akhirnya kebenaranlah yang menang, supermasi hukum tetap harus dijunjung tinggi , agar masyarakat menjadi percaya dan yakin bahwasanya memang benar Indonesia Negara tercinta kita ini berlandaskan hukum seperti yang telah tertuang dalam Pancasila dalan sila ke limayang berbunyi, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (HS/MUR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here