Home NASIONAL Pramono Anung : Yang Belum Muncul Rasa Malu Pelaku Korupsi

Pramono Anung : Yang Belum Muncul Rasa Malu Pelaku Korupsi

227
0
Foto : Seskab Pramono Anung menjadi pembicara dalam seminar ICW, Selasa (3/5), di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

Jakarta, Mediatransparancy.com – Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung menilai, secara aturan berkenaan dengan korupsi, Indonesia saat ini sudah overload. Karena itu tidak usah ditambah lagi, tidak perlu dikurangi lagi. Yang belum muncul adalah, menurut Seskab, bagaimana persoalan korupsi itu menjadi persoalan yang ditabukan dalam masyarakat secara kultur, budaya, adat, dan agama.

Saat menjadi pembicara dalam seminar dan lokakarya yang diselenggarakan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW), di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Selasa (3/5) pagi, Seskab mengatakan, peraturan atau instrumen untuk penanganan tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan penangkapan pejabat publik yang di negara lain tidak tersentuh, seperti Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) bahkan Menteri Agama pun bisa ditangkap.

“Ini menunjukkan bahwa sebenarnya instrumen yang ada sudah sangat kuat sekali, dan kinerja pemberantasan korupsi sudah cukup baik,” terang Pramono.

Namun, dalam hal pembudayaan di masyarakat, Seskab Pramono Anung menilai sama sekali belum optimal. Ia menunjuk contoh Pemilu 2014, yang memilih 5 (lima) anggota DPR yang sebelumnya pernah tersangkut korupsi. “Ini kan tandanya masyarakat acuh saja dengan mereka yang pernah tersangkut korupsi.

Dan itu terjadi karena si calon punya uang,” ujarnya.

Seskab juga menyoroti perilaku beberapa pelaku korupsi saat ditangkap oleh KPK atau Kejaksaan Agung. “Coba kita lihat, hari pertama ditangkap wajahnya sedih dan sendu, lalu kita lihat lagi 2-3 hari berikutnya, wajahnya sudah tenang, sudah bisa tersenyum dan melambaikan tangan ke kamera. Ini kan tandanya dia tidak merasa malu,” sebut Pramono.

Untuk itu, Seskab Pramono Anung menilai perlu pendidikan politik, bahwa korupsi inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa yang besar.

Ia mengibaratkan korupsi itu seperti narkoba. Kalau ketahuan itu sadar, malu, depresi tetapi begitu terjangkit kembali dia akan mengulangi.

“Ini adalah kenyataan fenomena yang kita alami bersama dan bagian dari auto kritik bagi diri kita semua dan seperti, yang saya katakan tadi ini seperti narkoba,” ungkap Pramono.

Editor : Chris Muryat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here