banner 728x250

Saksi Dari Tergugat PT.Indotruck Utama Tidak Hadir Lagi, Majelis Tanya Kuasa Tergugat Apakah Saksinya DPO

  • Share

Jakarta, mediatransparancy.comMajelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut), pimpinan Fahzal Hendri, didampingi hakim anggota Tugianto dan Agung Purbantoro, yang mengadili dan memeriksa gugatan Arwan Koty, diminta supaya menolak seluruhnya eksepsi tergugat PT.Indotruck Utama (PT.IU).

Majelis diminta mengabulkan seluruhnya gugatan wanprestasi yang di mohonkan penggugat Arwan Koty, melalui kuasa hukumnya dari kantor Hukum AGD & Partners. Pasalnya, tergugat telah mengingkari isi perjanjian dalam pembelian alat berat Excavator EC 210D yang di beli penggugat Arwan Koty dan lokasi serahterima alat di yard PT Indotruck Utama, Cakung Cilincing Jakarta dengan penandatanganan BAST oleh pihak PT Indotruck Utama dengan Arwan Koty. Hingga  saat ini Arwan Koty belum terima alat.

judul gambar

Dalam sidang gugatan perkara no 181/Pdt.G/2020 ini, baik keterangan saksi dari tergugat, keterangan ahli dalam persidangan serta, bukti bukti yang disampaikan penggugat jelas dan nyata perbuatan ingkar janji yang dilakukan tergugat. Apa yang diperjanjikan kedua belah pihak tak satupun yang ditepati tergugat. Excavator yang dipesan dan sudah dibayar lunas oleh penggugat sampai saat ini belum diterima Arwan Koty selaku penggugat, sehingga perbuatan tergugat jelas melanggar hukum perjanjian. Hal itu disampaikan Jan Untung Situmorang dan Aidi Johan kuasa hukum penggugat Arwan Koty dari kantor Hukum AGD dan Partnes, 03/11/2020.

Menurut kuasa hukum penggugat, dalam proses persidangan sangat jelas terlihat,  bahwa tergugat yang seharusnya menghadirkan saksi fakta Soleh Nurtjahyo untuk memberikan keterangan atau bantahan atas gugatan penggugat dihadapan majelis. Namun tergugat tidak menghadirkan atau sengaja tidak berupaya menghadirkan saksinya. Pada hal, majelis hakim sudah memberikan tiga kali penundaan sidang untuk kesempatan waktu menghadirkan saksi tapi tergugat tidak juga menghadirkan saksinya.

Terkait bukti bukti tambahan yang disampaikan tergugat dalam persidangan agenda penyerahan bukti bukti Kamis 03/11/2020, tergugat menyerahkan bukti dari copy ke copy, sehingga dalam hal ini dalil dalil gugatan penggugat tidak dapat terbantahkan oleh tergugat. Baik dari keterangan ahli, bukti dalam persidangan serta ketidak hadiran saksi fakta sudah jelas memperlihatkan perbuatan wanprestasi yang dilakukan tergugat.

“Tergugat ditengarai sengaja tidak menghadirkan saksi fakta dalam persidangan, sebab jika saksi hadir maka akan terungkap semua perbuatan wanprestasi yang dilakukan tergugat. Untuk itu kami berharap, majelis hakim yang memutuskan perkara ini dapat memberikan putusan yang adil bagi pencari keadilan”, kata Aidi Johan SH.

Sementara dalam persidangan Kamis 03/11/2020, agenda pemeriksaan saksi tergugat dan penggugat, majelis menanyakan kuasa hukum tergugat apakah ada saksinya, jawab tergugat tidak ada saksi majelis. Dalam kesempatan tersebut anggota majelis hakim Agung Purbantoro menanyakan saksinya kemana, saksinya DPO ya, kata Agung Purbantoro, sementara kuasa hukum tergugat diam saja tidak menjawab.

Demikian juga terhadap penggugat majelis menanyakan, bagaimana penggugat apakah ada saksi. Penggugat menjawab ada saksi majelis. Namun karena majelis melihat dan mengetahui bahwa saksi penggugat merupakan isteri dari penggugat Arwan Koty, sehingga majelis hakim menolak dan melarang saksi memberikan kesaksian.
Karena masih ada hubungan keluarga maka majelis tidak memperbolehkan saksi memberikan keterangan dalam persidangan. Dimana ketentuan tersebut tertuang dalam KUHAPerdata.

Kami kan tahu saksi merupakan isteri penggugat makanya jangan dibantah. Berarti kedua belah pihak menyerah (maksud hakim penggugat dan tergugat menyerah tidak mampu menghadirkan saksi).

“Kami pula yang dibodoh bodohi, kalau pun diperiksa sebagai saksi itu kan melanggar Kitab Undang Undang Hukum Acara Perdata (KUHAP), sudalah kapan mengajukan kesimpulan”, kata majelis 03/11/20.

Dalam persidangan majelis mengigatkan para pihak supaya menuangkan seluruh hasil persidangan dan bukti bukti dalam kesimpulan masing masing. Majelis hakim Fahzal mengatakan hal itu karena penggugat ingin menanyakan keabsahan bukti tambahan poto Excavator yang diberikan tergugat.

Bukti tambahan yang disampaikan tergugat adalah photo Excavator hasil copy dari copy, yang katanya sudah sampai dan diserahkan di Nabire Papua. Karena menurut majelis penggugat tidak relevan mempertanyakan langsung hal itu, sehingga disarankan supaya menuangkannya dalam kesimpulan saja. “Mau dikasih bukti apapun, majelis yang mempertimbangkan, silahkan buat dalam kesimpulannya”, kata Fahzal.

Sidang perkara yang dimohonkan Arwan Koty dalam pokok perkara a quo adalah tergugat mengingkari isi perjanjian pembelian alat berat Excavator Volvo EC 210D, dari PT.Indotruck Utama. Pembeli sudah membayar lunas Excavator, yang mengakibatkan penggugat Arwan Koty mengalami kerugian kurang lebih 10 milliar rupiah. Sesuai bukti Excavator sudah lunas dibayar penggugat, namun barang tidak diterima penggugat.

Menyikapi persidangan gugatan tersebut, Ahli mantan Hakim Agung Prof. Dr. Atja Sonjaya S.H., M.H. menerangkan,  sebagaimana dalam Pasal 1457 KUHPerdata menyatakan bahwa, Perjanjian Jual Beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikat dirinya untuk menyerahkan suatu barang, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang  dijanjikan.

Artinya, “kewajiban pembeli adalah melunasi harga barang yang disepakati sedangkan kewajiban penjual adalah menyerahkan barang yang telah dilunasi sesuai kesepakatan penjual dan pembeli yang dalam hal ini adalah Perjanjian jual beli”, kata Ahli.

Sebelumnya majelis juga telah memeriksa saksi tergugat, yakni Bayu Triwidodo dan Tommy Tuasihan. Saksi merupakan rekanan ekspedisi PT Indotruck Utama, yang mengaku alat telah diangkut dari gudang penyimpanan Excavator PT. Kaypi Transmalindo, ke Inggom Tanjung Priok.

Saksi Tommy Tuasihan dihadapan majelis hakim mengatakan, tidak tahu barang Excavator sudah sampai di Nabire atau belum, Tommy Tuasihan juga mengakui tidak ada tanda terima penyerahan barang dari Arwan Koty dan tidak ada documen barang terkait pelayaran, tidak ada tanda bukti penyerahan Excavator.

Sementara, kuasa hukum tergugat langsung bergegas keluar pengadilan saat mau diminta tanggapannya.

Penulis : P. Siabturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *