Home HUKUM Suami istri meminta keadilan selaku korban kasus rekayasa

Suami istri meminta keadilan selaku korban kasus rekayasa

307
0

Transparancy-Cikarang
Dimanakah keadilan di negeri ini. Demikian suara hati Sahat Victor Hutagalung. Beban pikirannya demikian berat sebagai seorang kepala keluarga yang harus menafkahi 5 orang anak yang masih kecil-kecil. Karena pertengkarannya dengan oknum polisi Brigadir Sugiharto yang bertugas di Polres Jakarta Timur, kini ia harus menjadi “pesakitan” di Lapas Bulak Kapal.

Berawal dari sebuah klakson. Saat itu Sahat yang baru saja pulang kerja dan hendak memasuki garasi mobil sambil mengklakson agar dibukakan pagar. Dari arah berlawanan, sebuah mobil pick up yang dikemudikan oleh Brigadir Sugiharto yang saat itu sedang berjualan kasur mengelilingi kompleks Alamanda blok F2 RT 01 RW 19 Kelurahan Karang Satria, Tambun. Merasa klakson tersebut di tujukan kepadanya, Sugiharto merasa tidak senang. Ia langsung turun seraya marah sambil mengatakan, “saya polisi…..!!! saya polisi…. !! saya penjarakan kamu”. Terjadilah pertengkaran antara Sahat dan Sugiharto.

Istri Sahat, Henni Kristina Halolo yang saat itu hendak membuka pintu pagar segera keluar bermaksud melerai. Namun tiba-tiba Brigadir Sugiharto mendorong Henni tepat menuju bagian dada atas. Melihat istrinya diperlakukan kasar, secara refleks Sahat langsung memukul muka Sugiharto. Karena merasa tidak senang sugiharto melapor ke Polsek Tambun.

Menurut kuasa hukum Sahat dan Henni, Junianton Panjaitan, SH menilai ada yang tidak beres dalam proses penahanan kliennya.

Junianton Panjaitan, S menilai bahwa adalah sangat kontradiktif. Di satu sisi, Jaksa Rama mengatakan bahwa kliennya sangat kooperatif. Tetapi Jaksa Rama mengatakan bahwa dipilih salah satu tersangka untuk dilakukan penahanan. Pada kenyataannya, selama proses di Polsek Tambun kedua kliennya tidak pernah ditahan dan hanya di wajikan untuk wajib lapor. Kuasa hukum mengatakan bahwa pilihan agar salah satu ditahan adalah tidak beralasan. Jika memang ditentukan memilih siapa yang ditahan berarti kedua klien kami seharusnya tidak ditahan. Saat ini persoalan yang paling mendasar bahwa yang ditahan ini adalah seorang kepala keluarga dan satu-satunya yang menafkai istri dan kelima anaknya. lanjut junianton panjaitan SH mengatakan bahwa sejak awal kami sangat menduga kasus ini adalah kasus rekayasa,dikarenakan pada saat terjadi peristiwa perkelahian tanding antara sahat dan pelapor tidak hari itu juga kasus ini diproses melainkan memiliki jeda waktu yang cukup lama selama 3 minggu,disinilah dugaan kami adanya keragu-raguan polsek tambun untuk menerapkan pasal 170,karena tidak satupun fakta hukum yang membuktikan bahwa henni kristina haloloho turut serta melakukan penganiyayaan maupun kekerasan terhadap korban.

 

Pada waktu wartawan meliput keluarga sahat victor hutagalung yang bernama jefferson hutagalung selaku abang kandung merasa sangat keberatan karena adiknya di borgol pada saat akan dimasukan kedlam mobil tahanan,selanjutnya keluarga besar memohon kepada kepala kejaksaan negri cikarang agar segera menangguhkan penahanan.karena dengan pertimbangan bahwa victor sahat hutagalung adalah satu-satunya tulang punggung keluarga.keluarga besar menilai perlakuan kejaksaan negri cikarang sangat kejam dengan pertimbangan selama progresnya kasus pihak jefferson mengatakan  adiknya sahat selama berada di polsek tambun memenuhi “wajib lapor“. (Putra Tobing)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here