banner 728x250

Sudah 2 Tahun Excavator Tak Kunjung Di Terima Dari PT Indotruck Utama, Arwan Koty Menuntut Uang Di Kembalikan

  • Share

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM – Persidangan penyelesaian sengketa konsumen antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck di gedung Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) DKI Jakarta kembali di gelar 18/07/19. Dalam sidang beragendakan putusan tersebut tidak menemui titik terang (tidak terjadi kesepakatan).

Saat dikonfirmasi awak media usai persidangan, Ketua majelis BPSK, Joko Kundaryo menjelaskan, pada sidang terakhir, pihak Konsumen (Arwan Koty) menolak untuk memverifikasi ke Nabire, dangan alasan pihak Arwan koty hanya ingin penyerahan alat Excavator yang telah di bayar lunas.

judul gambar

Joko Kundaryo juga mengatakan, Apa yang dituntut oleh Konsumen dalam bentuk pengembalian uang tidak diterima oleh PT Indotruck, sementara saran kuasa hukum PT Indotruck untuk sama-sama memverifikasi barangnya plus biaya yang di tanggung oleh PT Indotruck ditolak oleh pihak Arwan Koty. ” ujar Joko.

Lantas apa yang membuat Keluarga Arwan Koty menolak bersepakat dengan Indotruck? Dokumen apa saja yang meragukan pihak Arwan Koty sehingga tegas menolak bersepakat dengan Indotruck untuk memverifikasi excavator di Nabire?

Berita acara serah terima tidak ada tanda tangan konsumen

Kuasa Hukum Keluarga Arwan Koty, Willibradus Ardi Mau SH mengatakan, ada sejumlah kejanggalan dalam dokumen yang disertakan dalam transaksi pembelian 1 unit Excavator merek Volvo EC 210 seharga Rp. 1,265 miliar. Diantaranya dokumen Perjanjian Jual Beli (PJB), Invoice yang tak dilengkapi nomor engine, tidak adanya excavator EC210 dalam manifest pelayaran dan Surat Jalan dimana ada dua nama berbeda namun dengan tandatangan yang sama.

Diketahui, dalam PJB yang tertera pada Pasal IV tentang Tempat Penyerahan Barang, pada Poin 1 disebutkan, “Serah terima Barang tersebut adalah di Yard PT. Indotruck Utama, dengan penandatanganan Berita Acara serah terima barang oleh Para Pihak’. Sementara poin 2 menyebutkan, “Barang akan dikirimkan dan diserahkan segera setelah Penjual menerima pembayaran dari Pembeli sesuai Pasal III.

Surat jalan unit yang di tanda tangani oleh 2 nama yang berbeda dengan tanda tangan yang sama

Hingha dua tahun berlalu  tidak ada serah terima Excavator antara pihak Indotruck dengan Arwan Koty sebagaimana dimaksud pada perjanjian jual beli tersebut. “Terang Willibrodus Ardi Mau dalam pernyataan resminya kepada wartawan, Jumat (18/7/2019).

Willi menegaskan, klaim bahwa barang (excavator) telah diserahkan kepada Arwan Koty melalui Forwader bernama Soleh, tanpa dilengkapi surat kuasa dari Arwan Koty adalah janggal. “Pola kerjasama antara pelaku usaha dengan forwader alias soleh sangat tidak jelas legal standingnya sehingga konsumen ragu apakah unit yang dibicarakan adalah betul unit yang mereka beli dari Indotruck.” katanya.

Menurut Willi, klaim Indotruck selama persidangan yang menyatakan excavator sudah ada di Nabire juga penuh dengan kejanggalan. Siapa yang menerima barang di Nabire? Siapa yang merawat excavator hingga (alat pengukur penggunaan Hour Meter atau HM) sampai September 2018 (mencapai) 66971. Siapa yang memerintahkan untuk merawat unit itu ?
Lalu siapa yang membiayai perawatan selama ini ? Ujar willi.

“Semua diketahui oleh Pihak PT. Indotruck Utama, karena kunci unit excavator tidak dimiliki dan tidak pernah diserahkan kepada Arwan Koty. Sesuai SJU kunci di serahkan ke forwarder dan seseorang bernama Bayu yang mengaku-ngaku sebagai perwakilan arwan koty tanpa ada surat kuasa dari arwan koty selaku pembeli.” terangnya.

Dokumen pelayaran yang berbeda serta tidak ada unit konsumen milik konsumen

Menurut dia, dari penyerahan unit di yard PT. Indotruck Utama ke forwader sampai ke Nabire (Papua) tidak ada satu dokumen dari perusahaan PT. Indotruck Utama yang bisa membuktikan itu unitnya Arwan Koty.

“Kejanggalan lainnya adalah adanya tandatangan seseorang bernama Asun yang tandatangannya tertera pada Surat penitipan barang di Polair, menurut Willi tandatangan itu tampak berbeda dengan tandatangan yang tertera di dalam KTP milik Asun. tandatangan Asun juga dicurigai tidak asli dalam surat penitipan karena tandatangan itu sangat berbeda dengan Tandatangan yang tertera pada KTP No. 3172052812680005 tgl 02-12-2011.

Saat dikonfirmasi awak media terkait keabsahan dokumen pembelian hingga pengiriman unit barang excavator ke Nabire, Yudistira hanya menjawab bahwa excavator sudah ada di Nabire. Kuasa hukum PT Indotruck Utama tersebut tidak dapat menunjukan dokumen yang menguatkan pernyataannya tersebut.

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *