Home Berita Terbaru Terdakwa Tedja Widjaja Mengakui Bahwa Dirinya Masih Memegang Sertifikat Induk

Terdakwa Tedja Widjaja Mengakui Bahwa Dirinya Masih Memegang Sertifikat Induk

48
0
Terdakwa Tedja Widjaja saat menjalani persidangan di pengadilan negeri jakarta utara

JAKARTA, MEDIATRANSPARANCY.COM –Sidang perkara 378 ,372 KUHP dengan terdakwa Tedja Widjaja kembali di buka di pengadilan negeri jakarta utara 02/04/19 dengan agenda pemeriksaan terdakwa.

Dalam keterangan terdakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fedrik Adhar SH MH heran atas atas pengakuan terdakwa Tedja Widjaja bahwa dirinya merasa terintimidasi, tertekan bahkan dizolimi terkait transaksi lahan l kampus Universitas 17Agustus 1945 (Uta’45).

“Masak sih sekelas saudara terdakwa terintimidasi dan merasa tertekan hingga mengikuti apa saja yang dikehendaki mereka. Janganlah sedikit-sedikit mengatakan terintimidasi, dizolimi. Saudara terdakwa kan orang pintar dikelilingi penasihat hukum pula, mana mungkin bisa diintimidasi dan dizolimi,” ujar JPU Fedrik Adhar dalam persidangan.

“Sejauh mana sih perasaan terintimidasi itu sampai-sampai membuat saudara merasa seolah tidak berdaya?,” tanya JPU Fedrik yang diinterupsi Humprey Djemat, salah satu anggota tim pembela terdakwa dengan berkata “Jangan dipaksakan”.

Terdakwa Tedja Widjaja mengakui bahwa dirinya masih memegang sertifikat (induk) tanah seluas 40.000 meter persegi (m2)  milik Yayasan Uta’45. Namun luas tanah yang tersisa di dalam sertifikat itu hanya sekitar 8.000 m2 setelah sebagiannya telah dipecah-pecah sertifikatkannya.

“Saya memang tidak mau mengembalikan sertifikat tanah (induk) itu ke Yayasan Uta’45 Soalnya, saya melihat pengurus Yayasan Uta dulu dengan sekarang sudah berbeda. Jadi, saya tahan terus karena saya tidak mau sertifikat itu jatuh ke pengurus Yayasan Uta’ 45 yang sekarang ini,” ujarterdakwa Tedja Widjaja.

Apa dasarnya terus menerus menahan sertifikat tersebut? Tidakah saudara mengetahui tidak punya hak atau tak  berhak lagi menguasainya, tanya Fedrik Adhar.

“Saya tahu bahwa saya hanya berhak atas beberapa sertifikat yang sudah dipecah dari sertifikat induk, tetapi saya tidak mau menyerahkannya ke Yayasan Uta’5 dengan pengurus seperti saat ini,” terang terdakwa.

Informasi yang berkembang di PN Jakarta Utara terkait sertifikat (induk) yang tanahnya tinggal 8.000 m2 lebih tersebut menyebutkan bahwa dokumen hak kepemilikan itu kini tengah dijadikan agunan pinjaman di suatu bank swasta oleh terdakwa. Namun belum diketahui seberapa besar pinjaman atau kredit dikucurkan bank dengan agunan sertifikat tanah milik Yayasan Uta’45 tersebut. Belum diketahui pula kapan tenggang waktu pinjaman tersebut, lancarkah cicilannya atau sudah macet?.

JPU Fedrik Adhar juga mempertanyakan bagaimana terdakwa melakukan pembayaran atas tanah Yayasan Uta’45 sampai puluhan miliar rupiah  tanpa sepucuk kwitansi? Melainkan hanya berdasarkan surat pernyataan dan akta-akta serta transfer saja. Sementara sebagian besar dari akta-akta dan surat keterangan itu disebutkan saksi fakta di persidangan sebagai hasil rekayasa bahkan dipalsukan oleh terdakwa Tedja Widjaja sendiri.

“Selain karena terintimidasi didesak-desak dan ditekan oleh pihak Yayasan Uta’45 saya merasa sudah cukup surat-surat pernyataan dan akta-akta itu sebagai dasar hukum transaksi pembelian tanah tersebut,” kilah terdakwa.

Mengenai bank garansi yang sedianya dibuat untuk pembayaran tanah  milik Yayasan Uta’45, namun tidak kunjung dibuat terdakwa Tedja Widjaja hingga kasusnya disidangkan di PN Jakarta Utara, terdakwa berkilah bahwa bank garansi yang sebelumnya disepakati dibuat dengan Yayasan Uta’45 itu hanyalah halusinasi, fiktif dan ditandatangani secara sepihak saja.

Apakah saudara terdakwa menyadari kemungkinan adanya efek-efek negatif dari berbagai perbuatan yang tidak benar, tanya Jaksa Fedrik, Termasuk soal salah satu akta yang sudah dinyatakan tidak benar atau bermasalah oleh notaris pembuatnya namun terus menerus dipergunakan terdakwa kaitan transaksi tanah Uta’45 mencapai Rp 90 miliar, terdakwa Tedja Widjaja menjawab dirinya menyerahkannya semuanya kepada proses hukum. “Biarlah hukum yang memutuskan apakah itu salah atau benar. “ujarnya.

Oleh Jaksa Penuntut Umum Terdakwa Tedja Widjaja didakwa didakwa telah melakukan tindak pidana penipuan (378 KUHP) dan penggelapan hingga merugikan Yayasan Uta’45 hingga mencapai Rp 90 miliar.

Reporter: Nurhadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here