banner 728x250

Tergugat Wanprestasi PT.Indotruck Utama Diduga Rekayasa Bukti Serah Terima Pembelian Excavator

  • Share
sidang perkara wanprestasi terhadap PT.Indotruck Utama disidangkan di pengadilan negeri jakarta

Jakarta,mediatransparancy.com,- Tergugat wanprestasi PT. Indotruck Utama, ditenggarai merekayasa bukti bukti documen pembelian satu unit Excavator, yang diserahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Bukti bukti dalam persidangan pimpinan majelis hakim Fahzal Hendri, didampingi hakim anggota Agung Purbantoro dan Tugianto, tergugat PT. Indotruck Utama, mengajukan bukti yang tidak sesuai faktanya. Bukti atau alat bukti tergugat atas gugatan Arwan Koty, hanya Poto copy dan di copy, tanpa memperlihatkan ke hadapan majelis hakim asli dari bukti Poto copy tersebut. Hal itu disampaikan penggugat Arwan Koty melalui kuasa hukumnya Aidi Johan SH, pada wartawan.

judul gambar

Menurut Aidi Johan  SH, tidak ada dokumen asli (copy dari copy), atas surat pelayaran manifest”, tidak ada bukti surat berita acara serah terima barang yang di tanda tangani pembeli Arwan Koty. Sementara, saksi Soleh yang mengetahui pengiriman barang Excavator dari tergugat, tidak dapat dihadirkan dalam persidangan meski sudah di berikan waktu beberapa kali penundaan oleh majelis hakim, sampai majelis hakim menanyakan sama tergugat apakah saksi Soleh Dalam Pencarian Orang ( DPO).

Padahal PT. Indotruck Utama mendalilkan bahwa  Excavator milik Arwan Koty telah diserahkan kepada Soleh, namun bukti otentik secara hukum tentang penyerahan barang sesuai perjanjian antara pembeli dengan penjual tidak ada alias belum pernah ditanda tangani pembeli.

“Pembeli pun tidak pernah memberikan Surat Tugas atau Kuasa ke pihak mana pun untuk pengambilan satu unit Excavator yang sudah dibayar lunas oleh Arwan Koty seharga Rp 1.265 milliar tersebut”, ucap Aidi Johan SH, Minggu 24/01/2021.

Aidi Johan mengatakan, terungkapnya adanya rekayasa surat atau dokumen pembelian Excavator yang dilakukan pihak PT. Indotruck Utama, terungkap dalam penyerahan bukti bukti di Pengadilan saat agenda pembuktian dihadapan majelis hakim pimpinan Fahzal Hendri. Bukti tergugat yang asli tidak ada diperlihatkan kepada majelis hakim.

Sementara dalam persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, saat pemeriksaan saksi pelapor Priyonggo dari PT.Indotruck Utama, dengan terdakwa Arwan Koty. Terungkap, bahwa ada Surat Tugas pengambilan barang Excavator, yang direkayasa, tidak pernah ditanda tangani pemilik barang Arwan Koty. “Ada surat-surat pernyataan Soleh, yang membuat pernyataan atas nama Soleh yang menanda tangani bagian gudang PT. Indotruck Utama, Agung Prabowo (saksi pihak penjual). Sehingga baik dalam perkara perdata dan pidana  semua bukti bukti PT. Indotruck Utama, merupakan hasil rekayasa dan tidak ada dokumen aslinya.

“Ada dua surat tugas yang berbeda, yang satu tanpa nama Arwan Koty/Finny Fong dijadikan bukti di Penyelesaian Badan Perselisihan Sengketa Konsumen ( BPSK) pada tahun 2019. Sementara Surat Tugas yang satu lagi ada tertera Arwan Koty/Finny Fong, yang dijadikan bukti laporan penggugat di Bareskrim Mabes Polri pada tahun 2020.  “Surat Tugas tersebut  diterbitkan oleh Soleh dengan kop surat PT. Tunas Utama Sejahtera dan pembeli Arwan Koty tidak pernah menerbitkan surat tugas untuk Saudara Bayu Triwidodo dan atau pihak lainnya”, sehingga jelas jelas itu bukti hasil rekayasa dari penjual PT Indotruck Utama”, ujar Aidi Johan.

Dalam gugatan Arwan Koty dimohonkan, agar majelis hakim pimpinan Fahzal Hendri agar memutuskan perkara tersebut berdasarkan fakta dan alat bukti yang terungkap dalam persidangan dengan mengabulkan permohonan kerugian immateriil atas gugatan wanprestasi tersebut.

Hal itu disebutkan penggugat sebagaimana perbandingan hukum yang diterapkan pada Pengadilan Negeri Surabaya atas gugatan yang tertuang dalam system informasi penelusuran perkara(SIPP), dengan no perkara 910/Pdt. G/2019/PN.Sby yang diajukan pada 10 September 2019. Perkara tersebut di putus tanggal 1 April 2020. Dalam pembacaan putusannya Hakim menghukum tergugat PT. Antam untuk mengembalikan uang milik penggugat sebesar Rp. 27. 250. 397.000.  Tidak hanya mengganti kerugian materiil, Pengadilan Negeri Surabaya juga menghukum PT Antam agar membayar kerugian immateriil kepada Adiyanto senilai 108 M yang harus dibayarkan.

Sehingga dalam perkara Arwan Koty, di Pengadilan Negeri Jakarta Utara majelis hakim Fahzal Hendri kiranya dapat menerapkan putusannya sebagaimana perdata yang di putus Pengadilan Surabaya dengan mengabulkan kerugian Immareril penggugat. Hal itu guna memenuhi kewajiban tergugat agar segera mengembalikan kerugian penggugat”, ujar Aidi menambahkan.

Penulis : P. Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *