banner 728x250

Terkait Isu Lingkungan, Pemkab Samosir Diminta Ambil Kebijakan

  • Share

SAMOSIR, MEDIA TRANSPARANCY – Maraknya penebangan Kayu Pinus di Kabupaten Samosir yang kini menyeruak diberbagai media sosial menuai  kritik dari berbagai lapisan masyarakat.

Salah seorang pemerhati lingkungan di kawasan Danau Toba, Mangaliat Simarmata angkat suara tentang isu lingkungan yang sedang terjadi di Kabupaten Samosir saat ini.

judul gambar

Dikatakannya, kerusakan lingkungan yang terjadi di Samosir terkesan ada pembiaran.

“Pemkab Samosir sudah saatnya membuat kebijakan, bagaimana supaya isu-isu kerusakan lingkungan di Samosir tidak terjadi berulang-ulang, tidak pernah ada tindakan hukum, terkesan terjadi pembiaran,” ujarnya, ketika dimintai komentarnya, Kamis (14/10)

Menurutnya, sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Samosir melakukan kebijakan-kebijakan yang mendukung Samosir sebagai salah satu daerah yang merupakan destinasi wisata super prioritas.

“Samosir merupakan salah satu kabupaten dari KSPN (Kawasa Strategis Pariwisata Nasional-red) bagaimana mewujudkan ini. Kalau Pemkab Samosir tidak berani mengambil kebijakan untuk menindak tegas para pelaku perusak lingkungan, isu lingkungan akan terus berhembus,” jelasnya.

Tentang penebangan Kayu Pinus yang terjadi secara masif, Mangaliat Simarmata berharap Pemkab Samosir memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Soal penebangan Kayu Pinus, kalau itu kayu milik masyarakat, seharusnya pihak pemkab memberikan pemahaman kepada masayarakat, bagaimana menjaga keterlangsungan ekosistem yang baik dan terjaga kepada masyarakat,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Nasib Simbolon,  Wakil Ketua DPRD Kabupaten Samosir.

“Kita berharap agar Bupati Samosir melakukan pengkajian dan membuat Perbup, khususnya yang telah terjadi penebangan secara masif yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha dari luar Samosir dan dibawa keluar dari Kabupaten Samosir,” ujarnya.

Nasib Simbolon khawatir, kebutuhan kayu akan terkendala jika ini dibiarkan terus-menerus terjadi.

“Saya prediksi, kalau ini kita biarkan, tidak sampai setahun lagi pohon Pinus yang ada di Samosir akan habis, sehingga bahan kayu untuk kebutuhan pembangunan di Kabupaten Samosir akan terkendala. Jika dibiarkan, kayu log dibawa keluar,” katanya.

Kalau untuk kebutuhan pengusaha, kata Nasib Simbolon, penggergaji di Samosir maksimal mereka bisa memproduksi lima kubik perhari.  Itupun untuk kebutuhan di Samosir,” tandasnya.

Kepala Unit Kehutanan di Samosir, Siregar, yang dikonfirmasi   mengatakan, bahwa pihaknya sedang melakukan cek di lokasi kejadian bersama pihak Tipidter Polres Samosir.

Semantara itu Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi.

Sebelumnya, salah seorang warga meng-upload video dan gambar truk memuat kayu log di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo. Video itu juga menunjukkan sebuah alat berat sedang menyusun kayu-kayu  di dalam truk. Jepri Sitanggang

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *