banner 728x250

Terkait Kasus Pemalsuan Akta Otentik,David Israel Supardi Dituntut 5,6 Tahun Penjara

  • Share

MEDIATRANSPARANCY -Jaksa Penuntut Umum (JPU Rumondang Sitorus dan Sorta Siahaan, menuntut David Israel Supardi selama 5 tahun dan 6 bulan penjara dalam kasus pemalsuan Akta otentik di Pengadilan Negeri (PN ) Jakarta Utara.

Dalam tuntutannya JPU menyebutkan berdasarkan keterangan saksi saksi, fakta dan alat bukti yang terungkap dalam persidangan, terdakwa David Israel Supardi telah terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar hukum sebagaimana dakwaan pasal 266 ayat 1 KUHP. Oleh karena itu, JPU meminta kepada majelis yang menyidangkan dan memeriksa berkas perkara tersangka, supaya menghukum David Israel Supardi sesuai perbuatannya. Sebab perbuatan terdakwa telah merugikan korban Davi Litiyo sebesar 3,5 juta Dolar Amerika setara dengan kurang lebih 54 miliar rupiah, ucap JPU.

judul gambar

Jaksa mengatakan, dari diri terdakwa tidak ditemukan pembenaran atas perbuatan terdakwa sebagaimana hal yang memberatkan, sementara hal yang meringankan terdakwa sopan dalam persidangan. Anehnya dalam tuntutan JPU hal yang memberatkan, JPU tidak menyebutkan bahwa terdakwa sudah pernah dihukum dan sedang menjalani masa tahanan kasus Penggelapan selama tiga tahun penjara.

Pada hal David Israel Supardi, sebelumnya sudah terjerat kasus penggelapan dan dinyatakan majelis hakim terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan persekongkolan atau permufakatan jahat bersama sama dengan terdakwa Santy Tjahyadi. Oleh karena itu, David divonis tiga tahun penjara dan Santy Tjahyadi divonis 1,5 tahun (18 bulan) penjara, atas kerugian korban Kurniawan sebesar 11 miliar rupiah.

Sementara dalam kasus Pemalsuan yang kemudian menjerat terdakwa, dalam dakwaan dan tuntutan JPU disebutkan, terdakwa David Israel Supardi, merupakan Komisaris PT.Aneka Nusantara International (ANI) pemegang saham seutuhnya dan pemilik saham PT.Sumber Sejahtera Cemerlang (SSC).

Terdakwa menjual sahamnya sebesar 30 persen sebesar 54 miliar rupiah kepada korban Davi Litiyo dengan pembayaran transfer, dengan perjanjian akan menerbitkan Akta bahwa korban sebagai Komisaris di PT.SSC milik terdakwa. Namun menurut JPU, terdakwa merubah susunan pengurus Direksi atau Komisaris perusahaan PTSSC tanpa sepengetahuan korban. Pergantian kepengurusan perusahaan tersebut telah menimbulkan kerugian sehingga dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Oleh karena itu, sebagaimana unsur unsur melawan hukum barang siapa dan akan menimbulkan kerugian orang lain yang tertuang dalam dakwaan pasal 266 KUHP, telah terbukti. Untuk itu JPU meminta supaya menghukum terdakwa sesuai perbuatannya.

Terdakwa memasukkan data yang seolah olah benar tapi tidak benar ke dalam suatu Akta, dimana David Israel Supardi sebagai Komisarisnya dan pemegang saham 70 persen di PT.SSC.

Sementara pembeli saham Davi LItiyo 30 persen dengan perjanjian akan dimasukkan korban sebagai Komisaris dan saksi Hoat Litiyo sebagai Direktur Utama (Dirut PT.SSC), dan setengah keuntungan perusahaan diberikan kepada pembeli saham. Akan tetapi, tidak seperti apa yang telah diperjanjikan kedua belah pihak.

Menurut JPU korban tidak pernah menerima keuntungan perusahaan, walau sudah dipertanyakan dan diberikan somasi namun, terdakwa tidak ada tanggapan bahkan terdakwa tidak memiliki etika yang baik sehingga korban Davi Litiyo mengalami kerugian sekitar 54 miliar rupiah, ujar JPU dihadapan majelis hakim pimpinan Tiares Sirait didampingi hakim anggota Rudi Abbas dan Budiarto.

Usai pembacaan tuntutan Jaksa, majelis memberikan kesempatan waktu kepada terdakwa dan Penasehat hukumnya untuk menyusun nota Pembelaan (Pledoi), sidang ditunda sepekan agenda Pledoi, ucap pimpinan majelis hakim, 25/10/2021.

Penulis : P. Sianturi

judul gambar
  • Share
judul gambar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *