Home DAERAH Tiga karyawan Pemilik Loker Narkoba di Diskotek Stadium ditangkap

Tiga karyawan Pemilik Loker Narkoba di Diskotek Stadium ditangkap

323
0

pengedar narkoba yang tertangkap polisi
pengedar narkoba yang tertangkap polisi

Perburuan Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat meringkus bandar besar Diskotek Stadium berbuah hasil. Tiga tersangka pemilik 5 loker siluman yang berisi ribuan butir ekstasi dan puluhan gram sabu berhasil dibekuk.

Ketiganya, PB, MS dan JN merupakan keamanan (security) dari diskotek yang berlokasi di Taman Sari, Jakarta Barat itu. Mereka tertangkap beruntun pada Senin (26/5) malam di kawasan Kota, Jakarta Barat.

Kapolres Metro Jakarta Barat, Komisaris Besar Fadil Imran menegaskan, pengungkapan ini hasil penyelidikan jajarannya pasca menutup tuntas operasional Diskotek Stadium pada 16 Mei lalu.

Sedianya, peredaran di Stadium sudah tercium sejak penangkapan bandar besar Hermon Tomasoa alias Emon pada 15 April 2014. Hasil penangkapan Emon, polisi mengamankan 5.300 butir ekstasi, 700 gram sabu, 55 butir Happy Five (H5), dan uang tunai hasil penjualan sebesar Rp 250 juta.

Pengembangan dari hasil penyelidikan itu berlanjut dengan penyitaan aset milik Emon, berupa 2 unit rumah dan sejumlah kendaraan roda empat dan roda dua. Satu rumah merupakan kediaman pribadi di Jalan Pangeran Jayakarta, Taman Sari Jakarta Barat dan satu rumah lainnya berupa kos-kosan 7 pintu di Jalan Cempedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Semua harta hasil penjualan narkoba itu disita untuk mematikan jaringan peredaran tersangka. Hasil itu juga disusul dengan sikap tegas kepolisian yang mendorong Pemrov DKI Jakarta untuk segera menutup Diskotek Stadium karena terbukti sebagai pasar gelap tersangka mengedarkan barang haram tersebut.

Hasil silent operation jajaran Polres Metro Jakarta Barat juga mengungkap kebenaran tiga tersangka PB, MS, dan JN yang juga merupakan antek-antek Emon yang masih menggelar transaksi meski bos-nya lebih dulu ditangkap.

Terlebih, pada 16 Mei 2014 sore, kasus peredaran narkoba di lokasi tersebut membesar setelah satu anggota polisi Minahasa Selatan, Bripda Jicky Vay Gumerang (22) ditemukan over dosis di Diskotek Stadium.

PB, MS, dan JN ternyata pemilik 18 paket sabu dan ribuan butir ekstasi yang tersimpan dalam 5 loker terpisah di dalam diskotek tersebut. Terinci, di loker 427 terdapat 18 paket sabu, 16 paket diantaranya seberat masing-masing 0,4 gram, dan 2 paket lainnya masing-masing seberat 0,5 gram.

Kemudian di loker 428 tersimpan 1 butir ekstasi, di loker 448 tersimpan 700 butir ekstasi dan 9,7 gram keytamin. Lainnya di loker  449 berisi 2.550 butir ekstasi dan 1 senjata api jenis Baretta merk ERMA WERKE Mod EGp 75 S Kaliber 8mmk. Terakhir, di loker 452 tersimpan 1.250 butir ekstasi dan 1 buah timbangan elektrik.

“Ketiga tersangka ini termasuk jaringan Hermon Tomasoa yang lebih dulu kami tangkap di Stadium. Ini membuktikan, kita tak pernah berhenti mengusut tuntas peredaran narkoba di tempat hiburan malam sampai ke bandar besar,” tegas Fadil ketika merilis hasil tersebut, Rabu (28/5).

Fadil juga menegaskan, hasil itu tak menutup kemungkinan jeratan hukum menyasar pemilik Diskotek Stadium. Lantaran, ketiga tersangka merupakan security dari Diskotek Stadium. PB merupakan security resmi, dan dua lainnya security besutan.

“Untuk pemilik Stadium saat ini sedang dianalisa, sedang kami periksa. Jika nanti ditemukan fakta memfasilitasi atau melegalkan narkoba, tentunya kita tidak akan pernah tebang pilih, pemilik kita jebloskan juga ke penjara,” tegasnya.

Polisi juga masih menyelidiki terkait penemuan senjata api jenis Baretta di loker 449. Pengakuan tersangka PB, senjata api tersebut milik rekannya T yang saat ini masih diburu polisi. Atas hasil itu, Fadil memastikan, semua hiburan malam yang melegalkan peredaran narkoba di tempat usahanya akan bernasib sama seperti Stadium.

“Jika masih ada diskotek yang mencoba memfasilitasi dan menjual narkotika jenis apapun akan ditindak tegas. Tanpa pandang bulu. Termasuk pembekuan izin operasional seperti Stadium. Hampir seluruh lokasi kita sudah periksa, terbesar ini di Stadium,” jelas Fadil.

Di lokasi yang sama, Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Gembong Yudha juga menegaskan, saat ini pihaknya masih menyelidiki keterlibatan manajamen Diskotek Stadium terkait melegalkan atau memfasilitasi bisnis haram yang disetir ketiga tersangka. “Sejauh ini kami belum menemukan bukti,” kata Gembong.

Jeratan hukum terhadap pemilik Stadium, jelas Gembong, bisa dibuktikan asalkan fakta penjualan narkoba itu memang atas dasar koordinasi antara karyawan dengan atasan. “Sejauh ini bentuk transaksi yang semacam perintah dari atasan itu belum kami temukan. Kasus ini masih kita kembangkan,” ujarnya.

Ketiga tersangka PB, MS, dan JN dijerat 114 ayat (2) Sub pasal 112 ayat (2) UURI No.35 tahun 2009 tentang narkotika dan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat RI No.12 Th 1951.

Berdasarkan pengakuan tersangka, per butir eksatasi dihargai Rp 400 ribu. Sementara, 1 gram sabu dijual seharga Rp 1,4 juta. Total nilai barang bukti yang diamankan, 4.501 butir ekstasi senilai Rp 1,8 miliar dan sabu 7 gram senilai Rp 9,8 juta.

Gembong juga memastikan, penutupan Diskotek Stadium itu bukan semata-mata karena terkuaknya kasus kematian Bripda Jicky Vay Gumerang (22) yang ditemukan over dosis di diskotek tersebut. Rentetan penangkapan bandar narkoba yang biasa bertransaksi di Diskotek Stadium itu sudah dilakukan Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat sepanjang 2014 ini.

Ia menyebutkan, pada 12 Januari 2014 lalu, operasi senyap polisi berhasil mengamankan satu bandar narkoba dengan barang bukti berupa 0,5 gram sabu. Berlanjut ke pengungkapan pada 9 Maret 2014. Di diskotek tersebut, polisi kembali menangkap seorang pengedar berinisial A. Berikut barang bukti sabu seberat 0,3 gram.

Kemudian, pada 5 April 2014, dari lokasi itu juga bandar berinisial AR berhasil diamankan, dengan barang bukti sebanyak 66 butir pil ekstasi. Berdasarkan pemeriksaan, AR diketahui sebagai pengedar yang selama ini kerap beraktivitas di Stadium.

Selain itu, polisi juga berhasil mengamankan LW dalam operasi yang sama dengan barang bukti satu pil ekstasi. “Terbesar itu penangkapan tersangka Emon pada 14 April. Berlanjut ke pengungkapan 5 loker milik tiga tersangka ini,” kata Gembong.

Di bagian lain, silent operation pemberantasan bandar narkoba yang biasa bertransaksi di lokasi hiburan malam juga mengamankan paket besar sabu siap edar seberat 2 kilogram.

Pengungkapan yang dilakukan jajaran Polsek Metro Kebon Jeruk itu menangkap tersangka Nisan (32) di Perumahan Taman Palem Cengkareng, Jakarta Barat. “Melalui penyelidikan dan penelusuran, tersangka pemasok sabu ini kami tangkap saat bertransaksi pada Sabtu (24/5),” tegas Kapolsek Metro Kebon Jeruk, Kompol Slamet.

Kepada polisi, Nisan mengaku barang tersebut didapat dari seorang bandar besar bernama Alex dan BP yang saat ini masih diburu. “Dari sabu yang diprediksi senilai Rp 2 miliar lebih itu, tersangka mendapat upah lima juta rupiah untuk sekali kirim,” tegas Slamet. (asp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here