banner 728x250

KH. Agus Muslim: NU Jakarta Harus Jadi Rumah Besar yang Merangkul Seluruh Nahdliyin

judul gambar

JAKARTA, MediaTransparancy.comDi tengah hiruk-pukuk metropolitan, Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta menyimpan potensi raksasa yang belum sepenuhnya terkonsolidasi. Menyadari hal tersebut, Ketua PCNU Jakarta Utara, KH. Agus Muslim, menegaskan visinya untuk menjadikan NU di ibu kota sebagai “Rumah Besar” yang inklusif bagi seluruh warga Nahdliyin.

Pernyataan ini disampaikan KH. Agus Muslim menjelang momentum Halal Bihalal Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta yang dijadwalkan berlangsung Sabtu, 11 April 2026, di Kantor PWNU II Jakarta Selatan.

Miniatur Indonesia yang Belum Terorganisir

Menurut KH. Agus Muslim, Jakarta adalah titik temu warga NU dari berbagai penjuru nusantara, mulai dari Jawa, Madura, hingga Kalimantan. Namun, besarnya jumlah warga ini belum berbanding lurus dengan koneksi struktural organisasi.

judul gambar

“Jakarta ini miniatur Indonesia. Potensi nahdliyin kita sangat besar, tetapi belum semuanya terhubung secara struktural. Banyak yang aktif di majelis taklim atau komunitas sosial, tapi belum ‘bersentuhan’ dengan organisasi NU secara formal,” ujar KH. Agus Muslim saat ditemui di Jakarta.

Ia menekankan bahwa NU Jakarta harus mampu meniadakan sekat-sekat kelompok. “NU Jakarta harus menjadi rumah besar yang terbuka dan merangkul semua, baik yang sudah masuk struktur maupun yang belum,” tegasnya.

Prioritas: Benahi Akar Rumput (MWC hingga Anak Ranting)

Salah satu poin krusial yang disoroti KH. Agus Muslim adalah penguatan kelembagaan. Ia secara jujur mengakui bahwa struktur NU di tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC), Ranting, hingga Anak Ranting di DKI Jakarta masih memerlukan pembenahan serius.

“Kita harus jujur melihat kenyataan. Masih ada kepengurusan di tingkat bawah yang perlu dibenahi, baik dari sisi administrasi maupun program kerja. Ini adalah PR (pekerjaan rumah) bersama yang tidak bisa ditunda,” ungkapnya.

Baginya, pembenahan struktur bukan sekadar urusan birokrasi, melainkan upaya memastikan NU hadir nyata memberikan pelayanan umat di tengah masyarakat perkotaan.

Dakwah Adaptif di Tengah Masyarakat Kota

Menghadapi tantangan masyarakat metropolitan yang kompleks, KH. Agus Muslim menilai NU harus tetap relevan. Urbanisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat kota menuntut pendekatan dakwah yang lebih adaptif tanpa meninggalkan nilai moderasi (wasathiyah).

“NU punya modal besar melalui tradisi pesantren dan nilai moderasi. Tantangannya adalah bagaimana mengelola potensi itu agar tetap relevan dan menjadi kekuatan moral yang menyejukkan di tengah dinamika ibu kota,” tambahnya.

Halal Bihalal sebagai Pemantik Konsolidasi

KH. Agus Muslim memandang Halal Bihalal PWNU DKI Jakarta pada 11 April 2026 sebagai titik tolak penting. Ia berharap agenda ini menjadi ruang dialog strategis untuk menyatukan langkah para pengurus.

“Halal Bihalal ini bukan sekadar tradisi bermaafan, tapi momentum memperkuat ukhuwah dan konsolidasi. Kalau kita bersama-sama, insyaallah NU Jakarta benar-benar akan menjadi rumah besar bagi seluruh nahdliyin,” pungkasnya dengan nada optimis.

Penulis: Akmal, Editor: HS

judul gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *