MAUMERE, NTT –MediaTransparancy.com – Sebuah misi penyelamatan dramatis dilakukan oleh Suster Ita, SSpS, seorang biarawati dari kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus yang bertugas di Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F). Berawal dari pesan singkat (WhatsApp), Suster Ita berhasil mengevakuasi belasan perempuan yang terjebak dalam lingkaran eksploitasi seksual di sebuah tempat hiburan malam di Maumere, Kabupaten Sikka.
Pesan Pilu dari Balik Dinding Bar
Peristiwa ini bermula pada Selasa (20/1/2026) sore, tepat pukul 17.39 WITA. Sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel Suster Ita. Isinya singkat namun mencekam: sebuah permohonan tolong dari seorang perempuan yang mengaku bekerja sebagai pemandu lagu.
“Suster, tolong keluarkan saya dari tempat ini,” tulis perempuan tersebut dalam kondisi depresi akibat tekanan hebat yang dialaminya.
Menyadari bahaya yang mengintai jika bergerak sendirian di malam hari, Suster Ita segera menyusun rencana penyelamatan. Ia berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan seorang relawan TRUK-F untuk melakukan pendampingan hukum dan keamanan.
Menerjang Lorong Gelap
Keesokan harinya, Suster Ita mendatangi lokasi yang dilaporkan. Dengan keberanian yang didasari iman dan kemanusiaan, biarawati berkerudung itu melangkah masuk ke dalam lorong gelap tempat hiburan malam yang pekat dengan aroma asap rokok dan minuman beralkohol.
Di dalam, suasana mencekam berubah menjadi haru. Seorang perempuan berlari histeris dan langsung memeluk Suster Ita dengan tubuh gemetar hebat. Ia menceritakan bagaimana dirinya dikekang, disiksa secara batin maupun fisik, dan dipaksa melayani eksploitasi seksual. Tanpa ragu, Suster Ita menggandeng tangan korban dan membawanya keluar menuju markas TRUK-F untuk mendapatkan perlindungan.
Efek Domino Kemanusiaan: 13 Nyawa Terselamatkan
Keberanian korban pertama ternyata memicu keberanian korban-korban lainnya. Dua hari berselang, pesan serupa kembali membanjiri ponsel Suster Ita. Perempuan-perempuan lain di tempat yang sama memohon untuk diselamatkan dari penderitaan yang serupa.
Melalui serangkaian aksi penjemputan berikutnya, total 13 orang perempuan berhasil dievakuasi dari tempat hiburan malam tersebut. Saat ini, para korban berada di bawah perlindungan ketat TRUK-F untuk menjalani pemulihan trauma (trauma healing) serta pendampingan hukum guna mengusut tuntas dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan eksploitasi seksual tersebut.
Aksi Suster Ita menjadi pengingat bagi publik bahwa di balik gemerlap dunia malam, seringkali tersimpan jeritan yang membutuhkan uluran tangan nyata dari para pejuang kemanusiaan. (Redaksi)















