SAMOSIR, MediaTransparancy.com |Persoalan lahan terlantar di Kawasan Danau Toba (KDT) telah lama menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pegiat lingkungan dan kemasyarakatan. Realitas di lapangan menunjukkan kontradiksi yang tajam: lahan tersedia luas, namun masyarakat di seputaran perbukitan KDT masih jauh dari kesejahteraan.
Kondisi inilah yang mendorong Paul Manjo Sinaga bersama LSM GRACIA untuk merumuskan sebuah solusi konkret. Berkaca dari kegagalan program-program sebelumnya yang kurang melibatkan partisipasi warga, mereka memperkenalkan konsep “Porlak Batak”.
Kembali ke Akar Budaya
Menurut Paul Manjo Sinaga, Porlak Batak bukan sekadar metode pertanian, melainkan warisan leluhur.
“Setiap Huta (pemukiman) orang Batak pada masa lalu pasti memiliki Porlak yang berfungsi sebagai jantung ekonomi masyarakatnya,” ujar Paul.
Porlak merupakan lahan yang dikelola secara terpadu, berisi tanaman musiman seperti umbi-umbian dan sayuran, hingga tanaman keras jangka panjang seperti hauresse atau bintatar. Melalui program yang diberi nama GELMARA (Gerakan Lingkungan Mensejahterakan Rakyat), LSM GRACIA optimis dapat mengembalikan fungsi konservasi sekaligus meningkatkan taraf hidup warga.
Dukungan Tokoh Nasional
Rencana besar ini sebenarnya telah dikonsultasikan dengan tokoh nasional yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI, Mangihut Sinaga, sejak akhir 2019. Mangihut memberikan respons positif dan menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh inisiatif berbasis budaya lokal tersebut.
Meski sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, komitmen untuk merealisasikan program ini tetap kuat. Paul Manjo telah menyiapkan segala aspek, mulai dari legalitas, manajemen, hingga kesiapan operasional lahan masyarakat minimal seluas 5 hektare.
Fungsi Ekonomi Jangka Pendek: Kunci Partisipasi
Salah satu poin krusial dalam program GELMARA adalah penyediaan manfaat ekonomi jangka pendek agar masyarakat antusias terlibat. Sebagai bukti keberhasilan, Paul merujuk pada Porlak Batak di Desa Sijambur, Ronggur Nihuta, Samosir yang dikelola oleh Tomu Raja Tamba.
Sejak sepuluh tahun lalu, Tomu memilih tanaman Sereh Wangi sebagai komoditas utama.
- Keunggulan: Dalam 6 bulan, daun sereh wangi sudah bisa disuling menjadi minyak atsiri.
- Keberlanjutan: Panen dapat dilakukan setiap 3 bulan selama 6 tahun.
- Ekonomi Kreatif: Tomu tidak menjual bahan mentah, melainkan mengolahnya menjadi produk turunan seperti hand sanitizer dan parfum.
Menuju Sentra Ekonomi Kreatif
Kini, Porlak milik Tomu Raja Tamba telah berkembang menjadi sentra ekonomi kreatif. Selain sereh wangi, ia juga mengembangkan budidaya Madu Hutan yang memiliki nilai jual tinggi, mencapai Rp500.000 per kilogram.
“Pandemi Covid-19 lalu justru memberikan berkah bagi petani sereh wangi karena permintaan pasar yang melonjak tajam,” kenang Tomu.
Harapan pada Dukungan Legislatif
Mimpi besar LSM GRACIA adalah mengubah lahan-lahan tidur di KDT menjadi pusat ekonomi kreatif yang selaras dengan pelestarian lingkungan. Melalui sistem ekonomi kerakyatan, mereka berharap dukungan dari pemerintah dan legislatif, khususnya Mangihut Sinaga di DPR RI, dapat mempercepat realisasi program ini demi kesejahteraan masyarakat Batak secara luas.
(Tim/Red)















